
Guru di Antara Dua Zaman
Kami mengajar di ruang kelas,
Namun hidup di dua dunia sekaligus:
Satu di papan tulis,
Satu lagi di layar yang tak pernah tidur.
Kami bukan generasi yang lahir mapan,
Tapi dituntut selalu siap.
Belajar sambil mengajar,
Berjuang sambil meyakinkan diri
Bahwa lelah ini ada artinya.
Kadang kami masih mencari arah,
Namun harus menjadi kompas.
Kadang hati ingin menyerah,
Namun wajah tetap ramah
Demi anak-anak yang menunggu harapan.
Keluh yang Tak Pernah Ditulis di Rapor
Kami Gen Z yang katanya ringkih,
Padahal hanya jarang didengarkan.
Kami kuat, hanya saja
Lelah sering disalahartikan malas.
Di balik senyum saat mengajar,
Ada gaji yang dihitung dengan cemas,
Ada mimpi pribadi yang ditunda,
Ada masa depan yang belum pasti.
Kami mencintai profesi ini,
Namun cinta saja tidak selalu cukup.
Sebab idealisme juga butuh makan,
Dan pengabdian tetap perlu dihargai.
Bertahan dengan Cara Kami
Kami tidak sempurna,
Tapi kami belajar setiap hari.
Mengikuti zaman yang cepat berubah,
Sementara tuntutan tak pernah melambat.
Kami ingin dihormati bukan karena usia,
Melainkan karena usaha.
Ingin dipercaya bukan karena jabatan,
Melainkan karena tanggung jawab.
Jika hari ini kami masih bertahan,
Itu bukan karena kami tidak punya pilihan,
Tetapi karena kami masih percaya
Pendidikan layak diperjuangkan,
Meski sering sunyi dan sepi pujian.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















