
Di ujung desa Karangjati, berdiri sebuah masjid tua. Cat dindingnya sudah pudar, menara kayunya miring sedikit, dan lantainya berkarpet lusuh. Tapi anehnya, setiap malam Jumat, cahaya dari dalamnya selalu tampak lebih terang dari biasanya, bahkan ketika listrik padam.
Kiai sepuh yang dulu mengimami masjid itu telah lama wafat. Orang-orang bilang, roh beliau masih sering datang setiap malam Jumat untuk melanjutkan wirid yang belum selesai.
Arif, santri baru yang ditempatkan di desa itu, awalnya menertawakan cerita itu.
“Mana ada ruh balik cuma buat wiridan,” katanya pada teman sekamarnya. Tapi malam itu, rasa ingin tahunya menang. Setelah isya, saat semua orang tidur, ia berjalan ke masjid seorang diri, membawa senter kecil dan kitab kuning di tangannya.
Langit cerah tapi sepi. Hanya suara jangkrik dan langkah sandal Arif yang terdengar di tanah berpasir. Saat memasuki serambi masjid, udara mendadak berubah dingin. Bukan dingin biasa, dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Ia menyalakan senter, menyorot ke arah sajadah yang tergulung rapi. Tak ada siapa pun. Tapi… ada sesuatu. Bau harum kayu gaharu samar-samar tercium. Bau yang sama seperti di ruangan almarhum Kiai dulu.
Arif menelan ludah. Ia mencoba berzikir pelan, tapi lidahnya kelu. Tiba-tiba, dari arah mihrab terdengar suara pelan membaca tasbih:
Subhanallah… Subhanallah… Subhanallah…
Suara itu jelas. Dalam, berat, tapi lembut. Arif terpaku. Lampu senter tiba-tiba padam.
Dalam gelap itu, matanya menangkap kilau samar, sorban putih, tubuh membungkuk dalam sujud panjang. Ia ingin berlari, tapi kakinya seperti tertahan.
Ia hanya bisa berdiri, tubuh bergetar, mendengar suara yang semakin lirih:
“Ilmu itu bukan sekadar dihafal, Nak… tapi diresapi dengan adab.”
Air matanya menetes. Ia tahu suara siapa itu. Suara yang sering ia dengar dari rekaman lama di pondok, suara Kiai Ma’ruf, pengasuh pertama pondok itu.
Lalu tiba-tiba, cahaya lembut muncul dari arah mihrab. Seseorang berdiri di sana, berwajah teduh, matanya menatap Arif dengan damai. Tidak menakutkan, malah seperti menenangkan.
“Kau masih punya waktu, Nak. Gunakan malam untuk mengingat, bukan sekadar mengulang.”
Setelah itu, sosok itu perlahan menghilang. Bau gaharu makin kuat, lalu memudar bersamaan dengan adzan Subuh pertama dari mushala sebelah. Senter Arif menyala kembali dengan sendirinya.
Ia terduduk, gemetar, tapi dadanya terasa hangat. Ia membuka kitabnya, menatap tulisan tangan sendiri di pojok buku:
“Belajar itu ibadah, tapi adab adalah napasnya.”
Air matanya jatuh satu per satu. Ia sujud di lantai masjid yang dingin, berbisik lirih,
“Terima kasih, Kiai… sudah datang mengingatkan santrimu yang hampir lupa arah.”
Sejak hari itu, Arif tidak pernah melewati malam tanpa membaca dzikir sebelum tidur. Ia juga sering membersihkan serambi masjid tua itu setiap Jumat sore, menyalakan gaharu, dan membiarkan angin Subuh membawa wangi itu ke seluruh desa.
Dan kadang, bila malam terlalu sepi, dari dalam masjid terdengar lirih suara wirid, seperti doa yang tak pernah selesai di langit.
“Tak semua yang tinggal di bumi sudah benar-benar pergi. Ada yang tetap menjaga, dengan doa yang tak terdengar tapi terasa.”
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary


















