Bapak Tidak Berangkat Haji Tahun Ini

48
Ilustrasi Bapak yang tak jadi naik haji tahun ini

Di sudut kampung yang dikelilingi sawah yang hijau dan angin yang selalu membawa aroma tanah basah, hidup seorang pria paruh baya bernama Pak Murad. Wajahnya yang keriput seperti peta perjalanan waktu, menyimpan cerita tentang hari-hari yang ia lewati dengan penuh ketulusan. Setiap pagi, sebelum matahari bahkan sempat membuka matanya dari tidurnya yang panjang, Pak Murad sudah berjalan menuju masjid kampung. Langkahnya yang lambat namun tegas, seolah-olah setiap langkahnya adalah doa yang ia ucapkan kepada Tuhan.

Masjid itu adalah rumah keduanya, bahkan mungkin lebih dari itu. Begitu azan berkumandang, suara yang memecah keheningan pagi seperti panggilan cinta dari langit, Pak Murad sudah siap di sana. Dia tidak pernah melewatkan satu pun azan, seolah-olah jika dia melewatkannya, ada sesuatu yang hilang dari jiwanya. Setelah azan selesai, tugasnya dimulai. Dia mengambil sapu lidi yang sudah usang, sapu yang telah menjadi teman setianya selama bertahun-tahun, dan mulai menyapu lantai masjid. Setiap sapuan yang ia lakukan, seolah-olah dia menyapu bersih semua kotoran dan dosa yang ada di hatinya, serta di hati orang-orang yang akan datang beribadah.

Setelah menyapu, dia mengambil kain pel yang basah, dan mulai mengepel lantai masjid dengan hati-hati. Dia tidak ingin ada satu pun debu yang tertinggal, karena baginya, masjid adalah rumah Allah, dan rumah Allah harus selalu bersih dan suci. Dia bekerja dengan penuh cinta, seolah-olah dia sedang melayani tamu terhormat. Hujan atau panas, tidak pernah menjadi alasan bagi Pak Murad untuk tidak datang ke masjid. Jika hujan turun dengan deras, dia akan membawa payung tua yang sudah lusuh, dan tetap berjalan menuju masjid. Jika panas matahari menyengat, dia akan membawa topi caping yang sudah pudar warnanya, dan tetap melanjutkan perjalanannya. Baginya, rintangan hujan dan panas hanyalah ujian kecil dari Tuhan, ujian yang harus ia lewati dengan sabar dan tegar.

Kehidupan Pak Murad sangat sederhana. Dia tinggal di sebuah rumah kecil yang terbuat dari bambu, dengan atap yang terbuat dari genteng tanah liat. Di dalam rumahnya, tidak ada perabotan mewah, hanya ada beberapa kursi kayu yang sudah tua, sebuah meja kecil, dan sebuah tempat tidur yang terbuat dari papan kayu. Makanannya pun sangat sederhana, biasanya hanya nasi dengan lauk pauk yang sederhana, seperti sayur mayur atau ikan asin. Tapi Pak Murad tidak pernah mengeluh, baginya, apa yang ia miliki sudah cukup. Dia tidak pernah menginginkan harta atau kekayaan yang banyak, karena baginya, kebahagiaan tidak terletak pada harta, tapi pada ketenangan hati dan keimanan kepada Tuhan.

Pak Murad juga tidak pernah menerima honor dari pengurus takmir masjid atas pekerjaannya yang ia lakukan setiap hari. Ketika pengurus takmir masjid menawarkan uang kepadanya, dia selalu menolak dengan lembut. “Saya melakukan ini bukan karena uang, tapi karena cinta saya kepada Allah dan Rasul-Nya,” katanya dengan suara yang lembut namun tegas. Bagi Pak Murad, pekerjaannya di masjid adalah ibadah, dan ibadah tidak boleh dibayar dengan uang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Suatu hari, datanglah seorang pria bernama Pak Condro ke kampung itu. Pak Condro adalah seorang pria kaya raya dari kota, dengan pakaian yang selalu rapi dan berbau wangi, serta mobil mewah yang selalu ia kendarai. Dia mengaku telah haji ke tanah suci, dan selalu memakai baju koko berwarna putih yang bersih, serta peci haji yang ada di kepalanya. Pak Condro sangat taat beribadah, setidaknya itulah yang dia tunjukkan kepada orang-orang. Dia selalu datang ke masjid untuk salat, dan selalu berbicara tentang kebaikan dan keimanan. Tapi di balik penampilannya yang taat, ada sesuatu yang tersembunyi di dalam hatinya.

Suatu ketika, Pak Condro bertemu dengan Pak Murad di masjid. Dia melihat Pak Murad yang sedang membersihkan lantai masjid, dengan pakaian yang sederhana dan wajah yang lelah. Pak Condro merasa kasihan kepada Pak Murad, tapi rasa kasihan itu bercampur dengan rasa menghina. “Wahai Pak Murad,” katanya dengan suara yang keras, “mengapa kamu selalu bekerja keras di masjid ini, tapi hidupmu tetap miskin? Percuma saja kamu salat dan merawat masjid, kalau hidupmu tetap seperti ini. Allah itu kejam, Pak Murad. Dia tidak peduli dengan orang-orang miskin seperti kamu. Mending kamu pindah agama saja, mungkin di agama lain hidupmu akan lebih baik dan lebih kaya.”

Pak Murad mendengar kata-kata Pak Condro dengan tenang. Dia tidak marah, dan tidak juga tersinggung. Dia hanya menatap Pak Condro dengan mata yang penuh kelembutan, dan berkata, “Wahai Pak Condro, saya rajin beribadah dan merawat masjid bukan karena menginginkan harta atau kekayaan, dan bukan juga karena menginginkan masuk surga. Saya melakukan ini karena cinta saya kepada Allah, dan karena saya ingin melaksanakan perintah-Nya. Nabi Muhammad SAW pun hidupnya miskin, padahal beliau adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah untuk menyebarkan agama Islam. Tapi beliau tidak pernah mengeluh, dan tetap tegar dalam menghadapi segala cobaan. Harta dan kekayaan itu hanyalah hiasan duniawi, Pak Condro. Yang paling penting adalah ketenangan hati dan keimanan kita kepada Allah.”

Mendengar jawaban Pak Murad yang begitu bijak dan penuh keimanan, Pak Condro akhirnya membuka kedoknya. Ternyata, dia bukanlah seorang muslim yang taat, dan juga bukan seorang haji yang sebenarnya. Dia adalah seorang pendeta yang datang ke kampung itu dengan tujuan untuk menghasut orang-orang agar pindah agama. Dia berpikir bahwa dengan menghasut Pak Murad, yang merupakan orang yang dihormati di kampung itu, dia akan bisa mempengaruhi orang-orang lain juga. Tapi dia salah, karena Pak Murad memiliki iman yang begitu kuat dan teguh, sehingga tidak bisa digoyahkan oleh hasutan-hasutan yang tidak benar.

Setelah kedoknya terbuka, Pak Condro merasa malu dan malu. Dia tidak berani lagi menatap mata Pak Murad, dan juga tidak berani lagi menatap mata orang-orang kampung itu. Dia segera pergi dari kampung itu, dan kembali ke kota dengan hati yang penuh penyesalan. Dia menyadari bahwa apa yang dia lakukan adalah salah, dan bahwa dia tidak bisa memaksa orang-orang untuk pindah agama sesuai dengan keinginannya.

Beberapa waktu setelah kejadian itu, datanglah seorang anak muda bernama Mukti ke rumah Pak Murad. Mukti adalah anak dari Pak Jalil, seorang pria yang sudah tua dan sedang sakaratul maut. Pak Jalil adalah seorang pria yang sangat baik dan dermawan, dan dia selalu ingin pergi haji ke tanah suci. Tapi karena penyakit yang dideritanya, dia tidak bisa pergi haji. Sebelum dia meninggal, dia mewasiatkan kepada anaknya, Mukti, agar uang yang dia simpan untuk pergi haji diberikan kepada Pak Murad. Dia tahu bahwa Pak Murad adalah orang yang sangat taat beribadah, dan bahwa dia sangat pantas untuk pergi haji ke tanah suci.

Mukti menyampaikan wasiat ayahnya kepada Pak Murad dengan penuh rasa hormat. “Pak Murad,” katanya dengan suara yang lembut, “ayah saya mewasiatkan agar uang hajinya diberikan kepada Bapak. Beliau tahu bahwa Bapak adalah orang yang sangat taat beribadah, dan bahwa Bapak sangat pantas untuk pergi haji ke tanah suci. Mohon terima hadiah ini, Pak Murad.”

Mendengar kata-kata Mukti, Pak Murad merasa sangat terharu. Dia tidak menyangka bahwa ada orang yang begitu baik dan dermawan seperti Pak Jalil, yang mau memberikan kesempatan pergi haji kepadanya. Dia segera bersujud di atas lantai, dan menangis dengan penuh rasa syukur kepada Allah. “Ya Allah,” katanya dengan suara yang terisak, “terima kasih atas segala nikmat dan karunia yang Engkau berikan kepada hamba. Hamba tidak menyangka bahwa Engkau akan memanggil hamba untuk pergi haji ke tanah suci. Hamba bersyukur, Ya Allah, hamba bersyukur.”

Pak Murad segera mempersiapkan diri untuk pergi haji. Dia membeli pakaian ihram, dan juga mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk pergi haji. Dia merasa sangat bahagia dan bersemangat, karena dia akhirnya bisa pergi ke tanah suci, tempat yang selama ini dia impikan. Tapi sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Suatu hari, berita buruk datang dari Kementerian Agama. Berita itu mengatakan bahwa tahun ini umat Islam tidak bisa berangkat haji ke tanah suci, karena negara Arab telah menutup jalur udara karena perang yang sedang terjadi di sana. Berita itu juga mengatakan bahwa banyak orang yang sudah pergi umrah ke tanah suci, seperti Muqoddas, seorang pria dari kampung itu, yang belum bisa pulang ke Indonesia, dan nasibnya terkatung-katung di Mekkah.

Mendengar berita itu, Pak Murad merasa sangat kecewa dan sedih. Dia sudah mempersiapkan diri dengan begitu baik, dan sudah begitu bersemangat untuk pergi haji, tapi sekarang semuanya harus batal. Dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang hilang dari hatinya. Tapi meskipun begitu, Pak Murad tetap sabar dan tegar. Dia tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah, dan bahwa Allah pasti memiliki rencana yang lebih baik untuknya.

“Ya Allah,” katanya dengan suara yang lembut, “hamba menerima segala kehendak-Mu dengan hati yang ikhlas. Mungkin tahun ini hamba belum bisa pergi haji ke tanah suci, tapi hamba yakin bahwa suatu hari nanti, Engkau akan memanggil hamba untuk pergi ke sana. Hamba akan tetap sabar dan tegar, dan akan terus beribadah kepada-Mu dengan penuh cinta dan ketulusan.”

Meskipun tidak bisa berangkat haji tahun ini, Pak Murad tetap melanjutkan kehidupannya seperti biasa. Dia tetap setiap hari pergi ke masjid, menyapu, mengepel, dan membersihkan masjid. Dia tetap hidup dengan sederhana, dan tidak pernah mengeluh. Baginya, kebahagiaan tidak terletak pada apakah dia bisa pergi haji atau tidak, tapi pada ketenangan hati dan keimanan kepada Allah. Dan dia yakin bahwa suatu hari nanti, Allah akan memanggilnya untuk pergi haji ke tanah suci, pada waktu yang tepat dan yang terbaik baginya.

Di sore hari yang indah, ketika matahari mulai terbenam dan langit berwarna merah muda, Pak Murad duduk di teras masjid, menatap ke langit yang luas. Dia merasa tenang dan damai, karena dia tahu bahwa Allah selalu bersamanya, dan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah bagian dari rencana Allah yang indah. Dan dia berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa dia akan terus beribadah kepada Allah dengan penuh cinta dan ketulusan, sampai hari terakhir hidupnya.[]



Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Rara Zarary