Oleh: Umdatul Fadhilah*

“Lebih baik selesai meski sederhana, daripada menunggu sempurna, namun tak pernah terselesaikan.”

Sejak zaman dahulu manusia dikenal sebagai makhluk yang tidak pernah puas. Selalu mencari cara agar mendapat yang lebih, lebih banyak, lebih bagus dan bahkan lebih sempurna. Dalam hal ini dapat ditafsirkan ke beberapa makna.

Sudut pandang pertama, diperlukan memelihara paradigma tersebut bagi para penuntut ilmu, pembisnis, pedagang maupun seseorang yang sedang menekuni suatu bidang. Dimana haus akan ilmu pengetahuan, akan sesuatu yang membawa kebaikan pada dirinya.

Sudut pandang kedua, yakni merujuk pada hal-hal yang nantinya merugikan atau malah berdampak negatif. Seperti gaya hidup, berusaha mengikuti trend yang ada, menggunakan produk bermerek agar terlihat high class, gengsi yang mencekik diri sungguh tidak akan pernah ada habisnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Apalagi menuntut untuk sempurna. Bukankah kesempurnaan hanyalah milik-Nya? Namun sebenarnya pertanyaan itu tidak menutupkemungkinan seseorang akan dengan sempurna menyelesaikan tugasnya. Buktinya banyak orang yang lulus dengan predikat pujian, memuaskan, bahkan dengan nilai akhir cume laude.

Tentu kata sempurna di atas relatif bagi masing-masing orang. Namun yang perlu dicatat adalah jangan sampai tidak mencapai apa-apa dengan alasan menunggu tugas kita sempurna. Sebab sempurna bagi kita belum tentu baik untuk dosen yang menjadi pembimbing kita. Jika tak percaya, tanyakanlah pada saudara atau teman yang sudah melewati proses ini.

Itulah, sebaiknya sebagai mahasiswa kita mengerjakan saja dengan kemampuan kita dan mengonsultasikannya secara rutin, hal ini akan lebih efektif untuk mencapai sebuah akhir (baca: acc) dari seorang dosen pembimbing. Daripada menunggu sempurna di tangan mahasiswa dan tidak muncul sama sekali di hadapan dosen untuk bimbingan.

Malah biasanya ini akan menjadi penilaian yang minus pada mahasiswa, hal yang mungkin terjadi adalah dosennya lupa kalau punya mahasiswa bimbingan si A (dikarenakan jarang bahkan tidak pernah melakukan bimbingan).

Sederhananya, setiap dari kita pasti pernah salah. Entah yang disadari maupun tanpa sengaja. karena manusia tempat salah dan lupa. Ketika seseorang melakukan kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam mengerjakan sesuatu, bukan berarti dia bodoh atau tidak dapat melakukannya.

Hanya saja, setiap manusia punya batasan. Entah diri sendiri, lingkungan atau perihal lainnya. Untuk menghindari kecewa, bukankah lebih baik menuntut selesai daripada sempurna? Oleh sebab itu, cara jitu bagi mahasiswa semester akhir adalah kerjakan semampunya, selebihnya adalah aktif dalam bimbingan bersama dosen.

Sebab salah dalam penyusunan dalam penulisan itu wajar, nanti akan ada revisi dan solusi yang bisa didiskusikan bersama dosen pembimbing, dan kita memiliku waktu untuk memperbaikinya.

Hal ini menjadi salah satu contoh yang sederhana agar mahasiswa semester akhir yang sedang menjalani tugas akhirnya tidak terjebak dalam ketakutan karena salah atau ketakutan untuk maju ke hadapan dosen untuk bimbingan. Tentu tidak menjadikan tugas akhir (skripsi / tesis) sebagai beban.

Sederhana sekali, bukankah jika sudah selesai mengerjakan tugas akhir, maka akan terlihat baik? Baik untuk diri sendiri, orang tua, teman serta lingkungan, dimana sudah mampu melewati tahap itu. Jadi, tidak perlu lagi memikirkan bagaimana membuat tugas akhir yang sempurna. Namun bagaimana cara menyelesaikan tugas ini dengan baik, dengan cara menyelesaikan sesuai petunjuk dosen pembimbing.

Betapa banyak yang bersuka cita atas keberhasilan tersebut. Pun pada penempatan yang lain, perihal apapun. Yang penting sudah berusaha, melakukan yang terbaik.

Saya menulis ini saat telah usai dinyatakan lulus dari sebuah perguruan tinggi. Apa yang saya tulis adalah pengalaman yang saya lalui hingga dinyatakan sebagai alumnus di sebuah universitas.

Saya memahami, bahwa untuk mahasiswa kelas akhir terkadang terjebak di dalam pemikiran yang dibuat  jlimet oleh diri sendiri. Terlalu kaku dalam menjalani proses yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan sederhana dan mudah.

Maka, tulislah apa yang sedang dipikirkan, konsultadikanlah. Dengan iu, kita akan mendapatkan solusi bahkan beruntung bila dapat bantuan ide dari teman, dosen, atau bahkan buku-buku bacaan. Lakukanlah meski dengan pelan-pelan yang penting dikerjakan dan terselesaikan. Bukan sibuk dalam pikiran dan perkiraan semata.

Yakinlah, apabila engkau mengerjakan dengan tenang dan baik (tanpa perlu berpikir sempurna) tugas akan terselesaikan dengan mudah dan lebih cepat. Jangan lupa, berkomunikasi baik dengan dosen pembimbing. InsyaAllah tugas akhir akan selesai tepat waktu bahkan mungkin lebih cepat dari batas akhir. Selamat menikmati proses sebagai pejuang tugas akhir! Semoga sukses…

*Alumnus Pondok Pesantren Putri Walisongo Jonbang.

SebelumnyaPencarian Jiwa yang Dahaga
BerikutnyaHingga Terkenang Anggun