Al-Ghazali, Membabat Permainan Akrobatisme Intelektual

1857
(Sumber foto: monicadillaf.wordpress.com)

Oleh: Masdar F. Mas’udi*

Persepsi tentang Al-Ghazali dalam kaitannya dengan kebekuan intelektual dalam dunia Islam selama delapan atau tujuh abad belakangan ini, banyak sekali mendapatkan kecaman. Hal demikian lantaran kritiknya yang pedas terhadap pemikiran filsafat (sebagaimana tertuang dalam kitabnya Tahatuful Falasifah) dan juga dalam pemikiran kalam (teologi) yang ketika itu banyak disuarakan oleh kader-kader Mu’tazilah dan yang sealiran.

Sementara itu, dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin dan dipertegas lagi dalam al-Muqidz min al-Dlalal, Al-Ghazali dengan cukup demonstratif memberikan pujiannya terhadap ‘pengetahuan’ yang diperoleh melalui pancaran ghaib atau ‘mukasyafah’ sebagai anugerah cuma-cuma yang diperuntukan Tuhan kepada mereka yang berhati suci. Ilmu yang diperolehnya terakhir ini lah yang disebut Ilham atau Ilmu Ladunny, yang dikatakan lebih memberikan ketentraman batin bagi fihak yang menerimanya.

Kecaman terhadap Ekses Rasionalisme

Sebenarnya ada bukti-bukti tertulis yang tampak, bahwa kenyataan yang tak terbantah, kecaman Al-Ghazali itu lebih ditujukan kepada ekses-ekses rasional ketimbang upaya merobohkan subtansi rasionalitas itu sendiri. Ini dapat dilihat serentetan yang sambung menyambung, dimana Al-Ghazali mengecam formalisme kaum syari’ah, adalah juga dengan pendekatan ilmu syari’ah (fiqh); dalam menelanjangi klobotisme kalam (teologi) juga dipakai pisau analisa kalam, demikian juga dalam menguliti kecongkakan kaum filsafat juga dengan disiplin kefilsafatan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa di tangan Ghazali rasionalisme memang dikalahkan, tetapi sekaligus pula dimenangkan. Permasalahannya kini adalah mengapa umat Islam di belakangnya lebih suka memilih rasionalisme yang dikalahkan, bukan rasionalisme yang dimenangkan.

Al-Ghazali memang perlu berbuat demikian karena lantaran rasionalisme dalam disiplin ilmu syari’at, kalam, maupun filsafat telah kehilangan ruh yang sebenarnya.

Ia lebih banyak dimainkan sebagai barang akrobatik rasionalisme untuk meraih popularitas dan kedudukan ketimbang sebagai alat untuk menegakkan keluhuran budi dan nilai-nilai kebenaran. Hingga ilmu-ilmu itu, di mata Al-Ghazali juga melahirkan tokoh-tokoh yang culas dan mata duitan (ulama suu’, ulama dunia), bukan ulama yang diimpikan Nabi, sebagai pewari-pewarisnya.

Kubu-kubu di Sekitar al-Ghazali

Ada dua kubu yang muncul di belakang Al-Ghazali. Tentu saja, dua kubu ini sebagai pengecam dan pendukungnya. Kelompok pertama (pengecam) muncul dari kalangan akademisi yang tradisi keilmuannya berwatak kritis tapi secara materi harus diakui kurang memiliki informasi yang canggih mengenai apa dan bagaimana fikiran al-Ghazali itu.

Mereka tidak punya alat yang cukup untuk mendekati Ghazali, untuk membaca dan memahami pikirannya. Kebanyakan hanya ‘kata orang’ atau dari apa yang mereka tentang kritik terhadap Ghazali, hal yang tidak mustahil mengidap subyektifisme dan kecenderungan memihak.

Sedangkan kubu yang kedua (pendukung)nya yang fanatik, adalah muncul dari kalangan pesantren, yang secara tidak langsung terjerembab memandang tokoh ini hanya dari satu sisinya saja, yakni sufisme; yang menjadi ujung dari pengembaraan al-Ghazali sepanjang hidupnya.

Akan tetapi lucunya, dari dua kubu, yang satu mengecam dan yang lain mendukung, al-Ghazali sendiri sebagai satu keutuhan tidak pernah terdukung dan tidak pernah terkecam. Ia berada jauh di atas pertarungan kedua kelompok itu.

Dalam dunia pesantren, jarang orang melihat al-Ghazali di samping sebagai sufi besar (dalam teori maupun praktek) juga seorang teolog, filosof, dan teoritikus fikih yang tak tanggung-tanggung. Apabila yang populer atau bahkan yang dikenal, di kalangan masyarakat pesantren dari karya al-Ghazali adalah Ihya’ Ulumuddin dan Minhajul Abidin (terutama dalam syarah Syekh Ihsan ibn Dahlan Kediri, Sirajut Thalibin) inilah yang mendukung persepsi kaum pesantren.

🤔  KH. Musta'in Syafi'ie: KHI Harus Pertimbangkan "ash Shulhu"

Wabah Komersialisme Disiplin Ilmu

Berbagai kecenderungan terjadi, lantaran tradisi yang membimbing kita memang demikian, di samping suburnya ‘wabah konsumerisme keilmuan’ yang terjadi pada tradisi pemikiran Islam abad 7 kebelakang. Sebagaimana terjadi pada konsumerisme bidang ekonomi. Konsumerisme keilmuan pun menyatakan dirinya dalam wujud keengganan bekerja keras, dan hanya ingin mendapatkan sesuatu dalam wujud jadinya saja.

Dalam konteksnya dengan al-Ghazali, ternyata umat Islam enggan belajar dari al-Ghazali semenjak dari proses yang paling awal sampai ujungnya yang paling akhir.

Pengembaraan al-Ghazali Sia-sia?

Al-Ghazali pada zamannya, memang telah menyelami dimensi-dimensi keilmuan Islam secara paripurna. Berbeda dengan sarjana-sarjana muslim pada umumnya, yang hanya menguasai satu disiplin ilmu pengetahuan.

Pada mulanya dia seorang ahli di bidang fikih, lantas diangkat menjadi guru besar, karena keahliannya, oleh Wazir Saljuq di Universitas An-Nidzamiyah, meskipun sempat menulis al-Mushtasfa, dia lantas pindah mendalami ilmu kalam.

Kecewa lagi, meski telah menulis al-Iqtishad fil I’tiqad, nggak puas, kemudian mendalami kebathinan (Syi’ah Isma’iliyah) dan di sini menulis al-Qisthasul Mustaqiem.

Kekecewaan menimpanya kembali lalu menceburi filsafat, dan sempat menulis Tahafutul Falasifah, dan ketidakpuasan ini, memasuki usianya setengah abad, ia memasuki dunia sufisme. Walaupun sempat mengaku mendapatkan ketentraman batin, ia juga mencatat kegetiran perasaannya menyaksikan ‘sikap sembrononya’ kebanyakan orang Islam yang masuk dunia itu (sufisme) karena hendak lari dari kenyataan. Dan kitab Ihya’ Ulumuddin di tulisnya dalam suasana ketentraman dan sekaligus kegetiran sufistik yang demikian rupa itu.

Dalam proses perantaraan intelektual Ghazali, setidak-tidaknya ada dua dimensi yang perlu diketengahkan: Pertama, dia adalah seorang pencari kebenaran (Thalibul Haq) sejati yang dengan kesejatiannya dia selalu diburu oleh perasaan ragu (skeptis) terhadap setiap bidang keilmuan yang dijelajahinya.

Apakah sikap ini sikap ilmuwan yang notabenenya terdapat  pada kita, tak terkecuali juga masyarakat pesantren yang mengaku sebagai muridnya? Saya kira tidak! Kita justru keburu puas terhadap informasi keilmuan yang didapat; apa yang kita terima dengan serta merta kita yakini dengan kebenaran itu sendiri.

Kedua, pengalaman sufistik al-Ghazali yang begitu kaya, yang diakui memberi ketenangan bathin tidaklah datang begitu saja.

Pengalaman yang didapatinya justru setelah menelusuri pengembaraan intelektual dalam berbagai bidang keilmuan dan pemikiran, yang telah menguras seluruh potensi intelektual secara optimal.

Demikian manakala ada orang yang menempuh jalan sufistik, tanpa melewati proses tafaqquh fiddin dengan dalih “toh Imam Ghazali menemukan apa yang dia cari-cari dalam sufisme”, maka jalan lintas yang sebagian pasti lahir dari kemalasan berfikir belaka.

Orang seperti ini mengaitkan diri dengan Ibrahim bin Adham, yang meninggalkan kekayaan dunia, dan hidup mengembara menjadi sufis yang tunawisma. Tetapi secara batin apakah orang yang demikian merasakan nikmatnya spiritual sebagaimana yang dirasakan al-Ghazali? Wallahu A’lam.


*Artikel ini dimuat di majalah Tebuireng edisi VI. oktober 1986