Pemimpin Sekolah Sungai Berantas Daya, Amik Purdinata mempresentasikan cara kerja alat penampung air hujan yang ia buat bersama komunitasnya pada Seminar Bina Cinta Lingkungan oleh Hipampala SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng pada Jumat (04/08/2017). (Foto: Farha)

Tebuireng.online— Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, Siswa dan Siswi SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng yang tergabung dalam Himpunan Pemuda Muslim Pecinta Alam (Hipampala) menggelar  Seminar Bina Cinta Lingkungan pada Jumat (04/08/2017) di Gedung KH. M. Yusuf Hasyim lantai 3. Acara yang berlangsung mulai pukul 08:00 hingga 11:30 WIB ini, mengupas berbagai ilmu pengetahuan seputar menjaga bumi dari arus globalisasi.

Hadir dalam acara ini, Kepala Sekolah SMA, Drs. H. Hari Winarto, MM., Pembina ekstrakulikuler Hipampala, dan beberapa alumni Hipampala. Tak hanya itu, pada acara seminar ini juga mengundang komunitas Sekolah Sungai Brantas Daya pimpinan Amik Purdinata yang nantinya juga akan menyampaikan materi seminar.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Ma’mun Muzakki, menyebutkan bahwa kegiatan ini adalah bentuk komitmen Hipampala dalam meningkatkan kesadaran santri tentang pentingnya menjaga lingkungan dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai cara memeliharanya.

Ia mengutip tema kegiatan ini, yaitu ‘’ Satu Tekad Satu Semangat Ciptakan Lingkungan Bersih’’. Ia berharap, seminar ini bermanfaat dan menambah wawasan peserta seminar, khususnya bagi anggota Hipampala. Karena komitmen itu, dalam acara yang mengundang perwakilan organisasi di Tebuireng dan pondok sekitar itu, peserta tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis, bahkan mendapatkan kertas materi, souvenir dan sertifikat.

Hal itu senada dengan yang disampaikan oleh Ketua Hipampala, Ichwan. Ia mengajak kepada para santri agar ikut serta dalam pelestarian alam dan pemeliharaan lingkungan. “Ya dengan acara ini ayo kita bareng-bareng ciptakan lingkungan yang sehat,” ujarnya kepada Tebuireng Online.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kepala SMA A. Wahid, Drs. H. Hari Winarto, MM., merasa bangga dengan Hipampala, dan berterima kasih atas pelaksanaan acara ini. Beliau menjelaskan, acara ini adalah bentuk kesungguhan SMA AWH dalam menjunjung tinggi pelestarian alam dan lingkungan. Beliau berharap ilmu yang akan disampaikan narasumber dapat benar-benar dipahami dan lebih-lebih, dapat dipraktikkan oleh peserta.

Ketika menyampaikan materi,  Amik Purdinata menyebutkan bahwa sekarang ini ada 3 ancaman serius yang melanda manusia, yaitu krisis air (water crisis), pemanasan global (global warming), dan krisis moral. Ia mengatakan bahwa yang paling berpengaruh dalam arus globalisasi saat ini adalah krisis moral. Karena seiring terus perkembangan zaman, moral akan terus terkikis.  Ia berharap ke depannya generasi-generasi masa kinilah yang akan menjadi penolong, sekaligus penyelamat Bumi dari ancaman tiga hal tersebut.

Ia juga memperkirakan pada tahun 2020, Indonesia berpotensi akan terkena banjir. Maka dari itu, menurutnya, di setiap daerah di Indonesia, harus di bangun sekolah sungai yang dapat memberikan pendidikan dan sosialisasi terkati penanggulangan dan pencegahan banjir.

Selain itu, dalam sesi praktik, salah satu tim dari Sekolah Sungai juga memberikan beberapa pengarahan, di antaranya cara memanen air hujan, cara membuat penampung air hujan sederhana, dan juga pengelolaaan air hujan.

Sebelum menututup acara seminar ini, Amik mengutarakan rasa bangga dengan pernyataan Ketua Panitia  dan Kepala SMA A. Wahid Hasyim dalam sambutannya. “Saya sungguh bangga dalam pidato ketua panitia, apalagi pidato yang disampaikan oleh kepala sekolah SMA A. Wahid Hasyim yang telah meluangkan waktunya, terutama bagi siswa dan siswi SMA A.Wahid Hasyim,” pungkasnya.


Pewarta:            Iryan Ramdhani/Amalia Wakhidah Ahmad

Editor/Publisher: M. Abror Rosyidin

SebelumnyaAswaja, PMII, dan Ideologi
BerikutnyaLatih Kepekaan Sosial, Santri Husada Tebuireng Baksos di Panti Asuhan al Hasan