Masjid Al-Ikhlas Kandatsu, Syiar Islam di Negara Sakura

12
Bangunan masjid Al-Ikhlas Kandatsu, Ibraki, Jepang (foto: dimas)
Pendirian Masjid Al-Iklhas Kandatsu ini adalah satu cara bagaimana melihat semangat beribadah masyarakat muslim Indonesia di negeri Sakura.

Menguntip dari website dompetdhuafa, jumlah penduduk Muslim di Jepang tumbuh pesat. Tahun 2020 terdapat sekitar 230.000 Muslim di Jepang, dan pada tahun 2025 terdapat 420.000 Muslim di Jepang. Selain mualaf, setengahnya adalah orang Indonesia. Hanya ada tujuh masjid di Jepang dan idealnya satu masjid bisa menampung 200 orang.

Baca Juga: Syiar Internasional, Alumni Ma’had Aly Tebuireng Makmurkan Masjid di Jepang

Lonjakan angka jumlah pemeluk agama Islam yang sangat singinifikan tersebut, tidak terlepas dengan peran masjid-masjid yang didirikan oleh orang Indonesia yang berada di Jepang. Salah satu masjid yang menjadi daya tarik tersendiri adalah Masjid Al Ikhlas Kandatsu yang berada di Prefektur Ibraki.

Latar Belakang Pendirian Masjid Al Ikhlas Kandatsu

Pendirian Masjid Al Ikhlas Kandatsu ini memiliki latar belakang sejarah yang cukup menarik. Jadi masjid yang berada di prefektur (provinsi) Ibraki yang berada di kota Kandatsu. Pendirian masjid ini diawali oleh para pekerja dari Indonesia yang berkerja di perusahaan HITACHI, yang hendak melakukan ibadah berjamaah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tetapi dikarenakan tidak ada rumah ibadah (masjid), akhirnya mereka hanya melakukan kegiatan ibadah dari satu apartemen satu dengan yang lainnya.  Hal ini dikarenakan masjid yang terdekat adalah masjid yang berada di wilayah kota Tsukuba yang bila ditempuh perjalanan memerlukan waktu sekitar 45 menit.

Baca Juga: Alumni Tebuireng Sampaikan Khutbah Jum’at di Masjid Negara IKN

Karena kesulitan untuk menemukan masjid, akhirnya teman-teman pekerja yang berjumlah sekitar 50 sampai 100 orang tersebut berkeinginan mendirikan masjid sendiri. Akhirnya hal tersebut diwujudkan pada tahun 2018, bersepakat menyewa bangunan atau membeli bangunan untuk mendirikan masjid.

Di tahun yang sama pula, teman-teman yang berkerja di perusahaan Hitachi menghubungi Pak Alimuddin, Pak Anan Solihin, Pak Nano, Pak Niki dan Pak Rokhim. Kelima orang inilah para pekerja Indonesia yang sudah cukup lama bertempat tinggal di Jepang, dan juga mereka mensponsori untuk bisa membeli bangunan agar dapat membangun masjid Al Ikhlas Kandatsu.

Setelah melalui musyawarah tahap selanjutnya adalah mencari tempat yang cocok untuk dapat membangun masjid, dan teryata ditemukan salah satu tempat yang cukup startegis. Tetapi tempat itu adalah tempat hiburan orang Jepang. Tempat yang biasa digunakan untuk hiburan malam seperti karaoke dan tempat minum-minum miras.

Meskipun tanah atau tempat tersebut bekas dari tempat hiburan malam, para jamaah Indonesia yang sudah bertekad untuk mendirikan bangunan masjid tetap teguh pendirianya agar bangunan tersebut dapat dibeli secara permanen, sehingga dapat diderikan bangunan yang kelak untuk tempat beribadah.

Baca Juga: Kisah Rasulullah Membangun Masjid Nabawi: Gotong Royong dan Pemanfaatan Tenaga Ahli

Tatkala kesepakatan dengan orang pemilik bangunan tersebut sudah pada kesepakatan, muncullah tantangan baru yang harus diselesaikan, yakni perihal persoalan dana pembebasan tanah dan biaya renovasi bangunan. Maka lahirlah perjanjian yang mana 3 bulan pembiayaan untuk pembebasan tanah harus dilunasi, terkait harganya mencapai angka sejumlah kurang lebih 1 miliar.

Atas dasar itu, para pengelola masjid mau tidak mau harus dapat melunasi dalam kurun waktu 3 bulan kedepan. Maka diadakan galang dana atau donasi untuk bisa melunasi pembebasan tanah tersebut. Sebelumnya di awal, terdapat dana sekitar 100 juta yang dijadikan uang muka.

Selanjutnya ketika sudah mau habis masa 3 bulan yang telah dijanjikan, teryata dana masih terkumpul kurang lebih 500 juta. Dikarenakan dana yang masih sangat kurang, para pengurus masjid berdoa dan berpasrah diri kepada Allah agar mendapatkan kemudahan untuk dapat mengsukseskan pembangunan Masjid Al Ikhlas tersebut.

Hingga akhirnya keajaiban dan pertolongan dari Allah itu benar-benar datang, teryata ada seseorang yakni bernama Pak Harun dari Pertamina yang menyumbangkan untuk pembangunan masjid sebesar Rp500.000.000. Hingga akhirnya dari dana tersebutlah pembebasan untuk pendirian Masjid Al Ikhlas Kandatsu bisa dilunasi.

Baca Juga: Kisah 4 Pemuda dan Doa di Masjidil Haram

Pada tahap selanjutnya adalah proses renovasi yang cukup besar-besaran. Karena pada awalnya bangunan itu adalah bekas dari tempat hiburan malam seperti untuk karoke atau tempat minum-minuman miras. Sehingga untuk biaya renovasinya saja membutuhkan dana sekitar 300 juta, yang mana tempat tersebut harus disulap atau diubah agar layak untuk tempat beribadah.

Masjid yang Strategis Dijangkau

Masjid Al Ikhlas Kandatsu adalah salah satu masjid yang sangat mudah untuk ditempuh jaraknya, karena hanya membutuhkan waktu sekitat 7-10 menit dari stasiun Ibraki menuju Masjid Al Ikhlas Kandatsu. Perlu diketahui bersama, di Jepang masyarakatnya lebih banyak menggunakan moda transportasi kereta listrik untuk bepergian.

Dengan jaraknya yang sangat mudah dijangkau, tidak mengherankan jamaah yang datang untuk melakukan sholat, seperti sholat Idul Fitri, Idul Adha, Tarawih dan sholat wajib, tidak hanya dari jamaah Indonesia saja. Tetapi juga terdapat beberapa jamaah dari berebagi negara berebeda, seperti Malaysia, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Tunisia, Jordania dan Mesir.

Pendirian Masjid Al-Iklhas Kandatsu ini adalah satu cara bagaimana melihat semangat beribadah masyarakat muslim Indonesia di negeri Sakura. Dalam kegiatan sehari-harinya, terdapat beberapa rutinan yang senantiasa digelar di masjid tersebut, seperti pembelajaran baca Al Qur’an, pembacaan yasin dan tahlil, pengajian kitab yang membahas mengenai fiqh serta pembacaan ratib al-Athas dan ratib al-Haddad. Semua itu dilakukan secara rutin di tengah-tengah negara minioritas Islam.

Baca Juga: Bagaimana Hukum Minta Dana Pembangunan Masjid?

Terdapat dua hal yang membanggakan dari Masjid Al Ikhlas Kandatsu ini, pertama pendirian dan pengoprasian dana diurus 100% oleh masyarakat Indonesia yang bertempat tinggal di Jepang. Kedua, menjadi satu-satunya masjid di Jepang yang arah kiblatnya tidak miring. Karena rata-rata masjid di Jepang itu arah kiblatnya miring semua.



Sumber: Hasil wawancara dengan Mochamat Abdul Rohim, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Al Ikhlas Kandatsu