Gagas Hidup Bersih, Kepala BST Tebuireng Gembleng Karakter 500 Santri Baru

9
Kepala Badan Sanitasi Tebuireng (BST), Ahmad Faozan, S.H.I., M.H., memberikan pembekalan intensif mengenai urgensi pengelolaan lingkungan dalam rangkaian Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) Pesantren Tebuireng 2026. Foto: yt

Tebuireng.online- Kepala Badan Sanitasi Tebuireng (BST), Ahmad Faozan, S.H.I., M.H., memberikan pembekalan intensif mengenai urgensi pengelolaan lingkungan dalam rangkaian Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) Pesantren Tebuireng 2026. Agenda yang diikuti kurang lebih 500 santri baru ini berlangsung di Serambi Masjid Utama Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad (05/07/2026).

Dalam paparannya, Ahmad Faozan menegaskan bahwa kebersihan merupakan salah satu indikator dan fondasi penting dalam tradisi kehidupan seorang pencari ilmu. Ia membedah bahwa konsep higienitas di pesantren tidak melulu menyentuh aspek fisik, melainkan harus berbanding lurus dengan kebersihan spiritual atau kesucian hati.

“Menjaga kebersihan diri dan kebersihan hati merupakan bagian dari ikhtiar seorang santri untuk mempermudah memahami ilmu. Ketika hati bersih, insyaallah ilmu akan lebih mudah masuk dan memberikan manfaat luas,” urai Ahmad Faozan di hadapan ratusan peserta, Ahad.

Guna menginternalisasikan kesadaran ekologis santri, Ahmad Faozan menyodorkan potret keteladanan nyata dari almarhum Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Semasa hidupnya, Gus Sholah dikenal sebagai figur yang sangat disiplin dan memiliki kepedulian tinggi terhadap estetika serta kebersihan lingkungan pesantren.

Ia mengisahkan bagaimana Gus Sholah tidak pernah menoleransi keberadaan sampah yang berserakan di area publik. Sekecil apa pun jenis sampah yang dijumpai beliau saat berjalan kaki di lingkungan pondok, akan langsung dipungut secara mandiri untuk dibuang ke tempat semestinya. Sikap responsif terhadap lingkungan inilah yang ditekankan sebagai bagian dari akhlak wajib bagi santri baru.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain menanamkan nilai filosofis, manajemen BST memanfaatkan momentum MOSBA ini untuk mengenalkan infrastruktur teknologi lingkungan institusi, yakni tata kelola Bank Sampah Tebuireng. Unit ini menjadi salah satu pilar program unggulan pesantren dalam mengurai problem sampah domestik secara modern dan berkelanjutan.

Ahmad Faozan memaparkan data performa pengelolaan sampah di Tebuireng yang pernah mencatatkan angka akumulatif hingga mencapai 486 ton sampah terkelola. Capaian ini disodorkan sebagai bukti empiris atas komitmen pesantren dalam merancang kawasan komunal yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan.

Melalui pembekalan materi sanitasi ini, para santri baru diharapkan mampu mengubah pola pikir agar aktivitas menjaga kebersihan tidak lagi dipandang sebagai beban rutinitas asrama, melainkan bertransformasi menjadi kultur, identitas, dan gaya hidup santri modern yang mencerminkan keluhuran nilai-nilai Islam.


Pewarta: Fatih

Editor: Sutan