
Tebuireng.online- Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng menggelar pertemuan bersama jajaran kepala madrasah, wali kelas, dan ratusan wali santri baru di halaman madrasah, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (04/07/2026). Agenda ini dilaksanakan sebagai ruang silaturahmi sekaligus pemaparan sistem pendidikan kepada orang tua siswa.
Dalam forum tersebut, pihak madrasah menyosialisasikan cetak biru pendidikan, rincian tata tertib asrama, hingga orientasi program unggulan. Kepala MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Ustadz Subchan, menegaskan bahwa kesempatan menempuh studi di lingkungan Tebuireng merupakan momentum yang harus dioptimalkan secara serius oleh para santri.
“Kesempatan yang sudah ditakdirkan Allah untuk berada di sini gunakan sebaik-baiknya. Semoga keinginan belajar di Madrasah Aliyah ini dijalani dengan sungguh-sungguh sehingga nantinya membawa kebermanfaatan ilmu dan keberkahan. Alhamdulillah, tahun ini banyak alumni yang melanjutkan pendidikan di sini, ditambah santri dari berbagai daerah. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan di Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah terus meningkat,” ujar Subchan seusai acara, Sabtu.
Subchan mengimbau agar seluruh peserta didik baru berkomitmen penuh mematuhi setiap regulasi yang berlaku di lingkungan sekolah maupun pesantren. Kedisiplinan tersebut dinilai menjadi instrumen utama dalam pembentukan karakter dasar para santri di masa depan.
“Selagi di pesantren ikuti aturan yang ada, di madrasah juga ikuti aturan yang ada. Jangan membuat pelanggaran karena itu bagian dari meraih keberkahan yang nantinya akan membentuk karakter di masa depan,” tambahnya.
Pada tahun ajaran 2026/2027, MA Salafiyah Syafi’iyah menghidupkan kembali Program Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan (MAKK). Program ini dikombinasikan dengan jurusan IPA, IPS, serta metode pengajaran salaf dengan sistem berasrama guna menyelaraskan kurikulum nasional dan tradisi lokal pesantren.
Subchan menjabarkan bahwa lulusan MA Salafiyah Syafi’iyah diproyeksikan memiliki ketahanan literasi klasik yang kuat berupa kemampuan membaca kitab kuning, kecakapan berbicara di depan publik (public speaking), serta daya saing tinggi untuk menembus perguruan tinggi papan atas.
“Standarisasi aliyah itu bisa membaca kitab sehingga kita tidak tergerus oleh zaman. Tradisi pesantren tetap dipertahankan dan dikombinasikan dengan kurikulum nasional. Alhamdulillah, lulusan kami ada yang diterima di UNAIR, UGM, UI hingga Universitas Al-Azhar Kairo. Anak-anak juga kami latih kemampuan public speaking agar nantinya memiliki peran di tengah masyarakat,” terangnya.
Berdasarkan data penerimaan siswa baru, MA Salafiyah Syafi’iyah mencatat total 287 pendaftar dengan kuota daya tampung awal sebanyak 266 santri. Dari proses seleksi tersebut, sebanyak 259 santri resmi dinyatakan diterima sebagai peserta didik baru.
Representasi persebaran asal daerah santri baru terpantau merata di tingkat nasional. Salah satu wali santri asal Batam, Septi, yang mendaftarkan putrinya, Jilan Shobirina Helmi, mengaku memilih Tebuireng karena rekam jejak mutunya di bidang studi keagamaan.
“Dari awal memang sudah tahu kalau Tebuireng itu bagus. Anak saya memang menonjol di bidang agama seperti fikih dan akidah. Harapannya di sini dia semakin pintar dan wawasannya bertambah. Fasilitas bangunannya juga sudah bagus dan membuat kami merasa aman menitipkan anak di sini,” tutur Septi.
Pernyataan serupa disampaikan oleh Jumarudin, wali santri asal Bandung yang mengantarkan putranya, Fauzan Azhar. Ia menyebut ketertarikan mendalami khazanah Islam di Tebuireng murni bersumber dari inisiatif pribadi sang anak.
“Anaknya memang ingin sendiri mondok di sini. Dia ingin lebih mendalami ilmu agama. Harapan kami semoga nanti bisa melanjutkan kuliah ke Al-Azhar dan mendapatkan ilmu yang barokah,” pungkas Jumarudin.
Baca Juga: Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari Sambut 96 Santri Baru
Pewarta: Albi
Editor: Sutan


















