
Tebuireng.online- Mengawali kalender akademik tahun ajaran 2026/2027, MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng menggelar pertemuan akbar bersama wali santri baru di halaman madrasah, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (04/07/2026). Agenda ini difungsikan untuk menyamakan visi pendidikan serta memperkuat komunikasi dua arah antara pihak sekolah dan orang tua.
Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh jajaran kepala madrasah, dewan guru, serta tenaga kependidikan. Di hadapan ratusan orang tua yang hadir, institusi memaparkan rumusan visi, misi, serta orientasi kebijakan pengajaran yang akan diterapkan secara berkesinambungan selama tiga tahun ke depan.
Kepala MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Ustadz H. Iskandar, menyampaikan apresiasi atas besarnya mandat kepercayaan yang diberikan masyarakat untuk menitipkan putra-putri mereka di Tebuireng. Menurut dia, keberhasilan pendidikan santri tidak dapat bertumpu pada satu sektor, melainkan membutuhkan sokongan kolektif dari keluarga.
“Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan penghormatan kepada seluruh wali santri yang telah hadir. Kami berharap civitas madrasah dan wali santri dapat berjalan seiring dalam mendidik putra-putri kita agar tujuan pendidikan yang kita cita-citakan bersama dapat tercapai,” ujar Ustadz Iskandar, Sabtu.
Ustadz Iskandar memaparkan sejumlah program strategis yang menjadi pilar utama di MTs Salafiyah Syafi’iyah, meliputi pendalaman materi kitab kuning klasik, program khusus Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), serta kelas Tahfiz Al-Qur’an. Ketiga program ini diklaim terus mendapat respons positif selama tiga tahun terakhir berjalan.
“Program penguatan kitab kuning, MIPA, dan Tahfiz sudah berjalan selama tiga tahun. Alhamdulillah, tanggapan wali santri pada pertemuan hari ini sangat responsif dan mendukung langkah-langkah yang kami lakukan,” jelasnya.
Terkait fase transisi santri baru, pihak sekolah menerapkan kebijakan khusus pada triwulan pertama. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) akan dioptimalkan untuk membangun stabilitas emosional anak di dalam lingkungan asrama sebelum memasuki fase pengajaran intensif. Langkah ini akan dikombinasikan dengan metode penyaringan dasar.
“Kami akan memulai pemantapan saat masa orientasi. Tiga bulan pertama fokus kami adalah membuat anak-anak merasa betah dan nyaman terlebih dahulu. Setelah mereka nyaman, akan lebih mudah untuk diarahkan. Selain itu, kami juga akan melakukan skrining dan pemetaan kemampuan karena tidak semua santri memiliki dasar pengetahuan agama yang sama. Dari hasil pemetaan itu nanti akan kami berikan pembinaan sesuai kebutuhan masing-masing,” terangnya.
Daya jangkau peminat madrasah pada tahun ajaran baru ini terpantau meluas di skala nasional. Salah satu wali santri asal Gresik, Hamzah, menyatakan bahwa keputusan mendaftarkan anaknya, Naureena, murni didasari oleh keinginan sang anak setelah menggali informasi dari kerabat keluarga.
Sementara itu, cerita unik melandasi keberangkatan Ahmad Arfan Zidni Arifilloh, santri baru asal Bali. Ibunya, Atiha, menceritakan bahwa motivasi kuat putranya untuk menuntut ilmu di Jombang muncul secara mandiri setelah menamatkan sebuah buku biografi tokoh Islam.
“Awalnya informasi itu justru dari anak saya sendiri setelah membaca buku Surat kepada Anjing Hitam. Dari situ dia mengetahui silsilah keilmuan yang bersambung kepada Mbah Hasyim sehingga muncul keinginan untuk mondok di Tebuireng. Sebagai orang tua tentu kami terenyuh, apalagi kami tinggal di lingkungan yang masyarakat Muslimnya merupakan minoritas di Bali,” tutur Atiha.
Pihak keluarga berharap iklim belajar di Tebuireng mampu membentuk karakter anak yang tangguh. “Harapannya semoga apa yang diajarkan dan diperjuangkan oleh para pendiri Nahdlatul Ulama dapat bermanfaat serta membawa keberkahan bagi anak kami,” pungkasnya.
Baca Juga: Sambut Wali Santri Baru, Kepala MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng Hidupkan Kembali Kelas MAKK
Pewarta: Albi
Editor: Sutan


















