
Ada banyak hal yang rasanya lebih mudah dituliskan dalam diam, ditemani sunyi, malam yang panjang, dan cahaya rembulan. Sebab, tidak semua kegelisahan harus diteriakkan. Ada yang cukup dipeluk oleh keheningan.
Kita hidup di dunia yang dipenuhi oleh tatapan. Setiap orang memiliki sudut pandangnya sendiri. Masing-masing bebas menilai, mengomentari, bahkan menyimpulkan kehidupan orang lain. Sementara kita, sebagai pemeran dalam kehidupan sendiri, tidak pernah benar-benar bisa mengendalikan apa yang dipikirkan orang lain.
Semakin keras kita berusaha mengontrol sesuatu yang berada di luar kendali, semakin besar pula energi yang terbuang sia-sia. Padahal, masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam diri. Masih ada kepingan-kepingan yang harus disusun kembali agar menjadi utuh.
Anggap saja semua penilaian itu seperti angin yang menerpa pohon yang menjulang tinggi. Semakin tinggi pohonnya, semakin kencang pula angin yang menghantamnya. Akan selalu ada daun yang gugur, ranting yang patah, atau cabang yang terluka. Namun, selama akarnya tetap kuat, pohon itu akan terus bertumbuh. Daun-daun baru akan muncul, bahkan buah-buah akan bermekaran.
Begitulah kehidupan. Barangkali semua orang sudah memahami kenyataan itu. Namun, menjadi seseorang yang selalu diperhatikan tetaplah melelahkan. Terlebih ketika orang-orang mulai membangun ekspektasi terhadap diri kita. Mereka menginginkan kita memainkan peran sesuai dengan bayangan mereka. Ketika kita tidak sesuai harapan, cibiran mulai bermunculan. Seolah-olah mereka memahami seluruh perjalanan hidup kita, padahal yang mereka lihat hanyalah hasil akhirnya.
Sering kali, komentar-komentar itu justru menjadi beban tambahan. Kita sudah lelah menjalani hidup, tetapi kelelahan itu semakin berat karena harus mendengar narasi yang ditulis oleh para penonton.
Bagiku, menatap langit dari bawah atap kamar adalah tempat terbaik untuk berdamai dengan diri sendiri. Di sana aku bisa berpikir, berkhayal, membereskan isi kepala, bahkan berdebat dengan diriku sendiri.
Pada akhirnya, semua memang kembali kepada diri sendiri. Meski begitu, aku tidak bisa memungkiri bahwa terkadang perkataan orang lain menyelinap begitu saja ke dalam pikiran. Tanpa izin, mereka menguasai ruang-ruang yang seharusnya hanya menjadi milikku. Akibatnya, aku merasa harus menjadi sosok yang sempurna sesuai dengan ekspektasi yang bahkan tidak pernah kubangun sendiri.
Belum lagi harapan orang tua. Sebagai anak, tentu ada keinginan untuk membahagiakan mereka. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Nanti setelah lulus mau kerja di mana?”, “Mau jadi apa?”, “Bisa sukses, kan?” sering kali menjadi renungan panjang tentang masa depan. Memang, tidak semua tuntutan itu buruk. Ada tuntutan yang justru mendorong kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Aku sering dipercaya menjadi pembawa acara, berbicara di depan banyak orang, menyampaikan kritik dan gagasan. Banyak orang menganggapku pintar atau mampu melakukan banyak hal. Padahal, kenyataannya aku masih memiliki banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Justru anggapan mereka itulah yang membuatku terdorong untuk terus belajar agar benar-benar layak atas kepercayaan yang diberikan.
Bagiku, itulah bentuk ekspektasi yang sehat: ekspektasi yang memotivasi, bukan memaksa. Namun, berbeda halnya ketika aku dituntut untuk menjadi hebat di bidang yang memang bukan bakat ataupun keahlianku. Aku tidak ingin memaksakan diri hanya demi memenuhi harapan orang lain. Sebab setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Tidak semua orang harus pandai dalam segala hal.
Lalu muncul pertanyaan, “Apakah hidup di tengah banyak ekspektasi itu melelahkan?” Jawabannya, tentu saja iya.
Melelahkan ketika harus terus memberi makan ekspektasi orang lain, sementara diri yang sebenarnya jauh berbeda dari sosok yang mereka bayangkan. Mereka menikmati hasilnya, tetapi jarang melihat prosesnya. Mereka mengagumi pencapaiannya, tetapi tidak pernah benar-benar memahami perjuangan yang mengantarkannya. Ketika suatu saat ekspektasi itu tidak mampu kupenuhi, sebagian dari mereka mulai memandang rendah. Padahal, kegagalan itu terjadi bukan karena aku tidak berusaha, melainkan karena memang bukan bidang yang menjadi keahlianku.
Namun, aku memilih tidak berhenti di sana. Setiap kali diremehkan, diejek, atau diragukan, aku justru terdorong untuk membuktikan bahwa setiap orang memiliki panggungnya sendiri. Aku tidak harus menjadi hebat dalam semua hal. Aku hanya perlu menjadi yang terbaik pada bidang yang memang menjadi kemampuanku.
Bukankah hidup bukan semata-mata untuk memenuhi ekspektasi orang lain? Kalaupun mereka salah menaruh harapan, itu bukan berarti kita kehilangan nilai. Bisa jadi mereka hanya belum melihat kemampuan kita di tempat yang tepat.
Karena itu, ketika seseorang kecewa akibat ekspektasi yang ia bangun sendiri, biarkan saja. Tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui seluruh isi perjalanan hidup kita. Mereka hanya melihat beberapa halaman, sementara kita yang menjalani keseluruhan ceritanya.
Jika suatu hari kita berhasil memenuhi harapan mereka, tentu itu membanggakan. Namun, kebanggaan terbesar tetaplah milik diri sendiri. Sebab kita yang merasakan setiap air mata, setiap kegagalan, setiap perjuangan, dan setiap langkah yang membawa kita sampai di titik itu.
Tulisan ini bukan ajakan untuk terus mengejar ekspektasi orang lain. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk lebih mengenal diri sendiri.
Dengarkan kritik jika memang membangun. Terima saran jika memang membuat kita bertumbuh. Perbaiki apa yang perlu diperbaiki, dan pertahankan apa yang memang menjadi prinsip. Sebab pada akhirnya, orang yang paling memahami diri kita bukanlah mereka yang hanya melihat dari kejauhan, melainkan diri kita sendiri.


















