Lewat Disertasi, Bunyai Lelly Tawarkan Model TRIVeHTI untuk Menghidupkan Nilai Qonun Asasi NU

19
Nyai Dr. Hj. Lelly Lailiyah Novianti, Dra., M.M., saat melaksanakan Ujian Doktor Terbuka di Unair Surabaya (foto: irsyad)

Tebuireng.online— Berhasil menjadi lulusan pertama Program Studi Doktor Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR), Nyai Dr. Hj. Lelly Lailiyah Novianti, Dra., M.M. atau Bunyai Lelly mengajak warga Nahdlatul Ulama (NU) kembali menghidupkan nilai-nilai Qonun Asasi karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari melalui model TRIVeHTI, sebuah konsep yang lahir dari hasil disertasinya.

Baca Juga: Bu Nyai Lelly Raih Doktor Cumlaude, Usung Nilai Qonun Asasi NU untuk Indonesia Emas 2045

Ajakan tersebut disampaikan Bunyai Lelly saat diwawancarai usai menjalani Ujian Terbuka Doktor di Auditorium Ternate Lantai 1, Gedung ASEEC Tower Kampus B Universitas Airlangga, Surabaya, Selasa (30/6/2026). Menurutnya, nilai-nilai Qonun Asasi tidak cukup hanya dipahami sebagai dokumen dasar organisasi, tetapi perlu diinternalisasikan dalam kehidupan warga Nahdliyin, khususnya para santri.

(tengah berkopiah) Ditemani KH. Abdul Hakim Machfudz (suami) Dr. Lelly Lailiyah foto bersama Pimpinan Sidang dan Promotor usai melaksanakan Ujian Doktor Terbuka (foto: irsyad)

Istri Pengasuh Pesantren Tebuireng itu berharap, hasil temuan disertasi ini dapat mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk kembali menggali, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai fundamental yang tertuang dalam Qonun Asasi.

“Para santri terutama harus benar-benar mempelajari, mendalami, kemudian menghayati, dan menjalankan nilai-nilai tersebut,” ujarnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Bunyai Lelly memperkenalkan temuan utama dari disertasinya yang ia sebut sebagai model TRIVeHTI. Model ini menekankan tiga pilar utama yang harus dipahami dan diamalkan oleh para santri, yakni integrasi vertikal berupa hubungan spiritual dan ketakwaan kepada Allah SWT, integrasi horizontal yang diwujudkan melalui hubungan sosial yang harmonis antarsesama manusia, serta integrasi tradisi dan inovasi, yaitu menjaga tradisi lama yang baik sembari terbuka menerima inovasi baru yang membawa kemaslahatan bagi umat.

“Silakan tetap memegang tradisi yang lama, tetapi jangan menutup diri dari inovasi. Ambillah hal-hal yang baik dan membawa maslahat dari yang baru,” pesannya.

Baca Juga: Bu Nyai Lelly Raih Doktor Cumlaude, Usung Nilai Qonun Asasi NU untuk Indonesia Emas 2045

Bunyai Lelly mengungkapkan, menempuh pendidikan hingga jenjang doktor dilandasi keinginan untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi agama, bangsa, dan negara. Berawal dari profesinya sebagai guru, pengabdiannya kemudian berlanjut saat mendampingi sang suami, KH. Abdul Hakim Machfudz (Gus Kikin), sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur.

Ia mengaku bersyukur dapat menyelesaikan studi doktoralnya, meskipun semula berharap dapat lulus bersama 16 rekan seangkatannya.

“Kami DHP 1 itu ada 17 orang yang ingin bersama-sama lulus. Qadarullah, bukan saya bosan menjadi mahasiswi UNAIR, tapi saya merasa sudah sanggup untuk maju lebih dulu,” ungkapnya.

Bunyai Dr. Lelly Lailiyah saat melaksanakan Ujian Doktor Terbuka

Pengalaman panjang di dunia pendidikan serta studi Doktor Hukum dan Pembangunan membawanya menekuni kajian politik hukum dalam sistem pendidikan. Dari situlah ia memilih Qonun Asasi sebagai fokus penelitian.

Baca Juga: Nyai Lelly Hakim Ungkap Persoalan Pengembangan SDM Pesantren ke Publik

“Politik hukum itu dapat berupa hukum baru, pernyataan baru, atau perubahan kebijakan. Saya mengambil Qonun Asasi yang merupakan hukum dasar Nahdlatul Ulama sebagai fokus utama riset ini,” jelasnya.

Dalam disertasinya, Bunyai Lelly juga menyoroti perjuangan para pendiri NU yang kiprahnya telah menjangkau level internasional. Ia mengingatkan kembali peristiwa Komite Hijaz pada 1926, ketika para ulama Nusantara berani berdiplomasi dengan Kerajaan Arab Saudi untuk mempertahankan situs-situs bersejarah Islam dari ancaman penghapusan tradisi.

“Dari situlah, kalau para ulama zaman dahulu bisa mengangkat umat Islam untuk kemaslahatan seluruh umat, mengapa sekarang kita yang jumlahnya sudah besar justru masih diributkan dengan hal-hal yang kecil,” tegasnya.

Melalui disertasinya, Bunyai Lelly berharap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Qonun Asasi tidak hanya dipelajari sebagai warisan sejarah Nahdlatul Ulama, tetapi juga menjadi pedoman dalam membangun karakter, kepemimpinan, dan peradaban umat di tengah tantangan zaman.

Baca Juga: Inilah Pesan Nyai Lelly Lailiyah Hakim Pada Kader PMII Hasyim Asy’ari