
Di Bahu Senja
Senja perlahan berjalan
Di tepian desa
Membawa warna jingga yang lelah
Bagai hati yang terlalu lama menunggu
Burung-burung berterbangan
Pulang ke rumahnya
Sedang aku masih tersesat
di lorong hampa bernama harapan
Pintu Waktu
Dari hal-hal yang tak bisa tinggal
Waktu telah membuka pintunya
Meski perlahan
Mengajak manusia belajar ikhlas
Pernah menjadi cerita
Meski akhirnya hidup memilih
Jalan yang berbeda arah
Namun kenangan tetap abadi
Seperti hujan di Bulan Desember
Datang tanpa perlu di minta
Jendela dan Kenangan
Di jendela yang separuh terbuka
Angin membawa bau masa lalu
Teringat namamu
Terpurat dalam memori otakku
Waktu ternyata tidak benar-benar pergi
Hanya bersembunyi di sudut hati
Maka kubiarkan malam berjalan pelan
Agar kenangan selesai bericara
Sebelum akhirnya benar-benar reda
Surat Untuk Langit
Sesuatu telah tertulis pada langit
Tentang luka yang masih basah
Tentang luka baru yang muncul
Dan tentang doa yang belum menemukan jawaban
Seperti awan yang berjalan
Bak pengembara
Yang membawa rahasia hati
Yang terlaluu sering di simpan sendiri


















