
Islam adalah agama yang penuh kasih serta sayang, hal tersebut bisa dilihat bagaimana Islam sangat menghormati sesuatu yang hal tersebut dianggap penting. Salah satunya ialah pelarangan terhadap hal-hal boros atau berprilaku berlebih-lebihan.
Baca Juga: Budaya Konsumtif dan Euforia Berlebihan di Bulan Ramadan
Sikap berlebih-lebihan ini oleh Islam disebut dengan Mubazir, yang mana hal itu sesungguhnya telah dan telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an surah Al-Isra ayat 27 yang berbunyi;
الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِوَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra’: 27)
Pada ayat ini sesungguhnya kita diingatkan untuk tidak melakukan hal-hal yang berlebihan dalam pengeluaran, khususnya dalam hal harta. Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labib menjelaskan bahwa pemborosan itu berarti menggunakan harta untuk tujuan yang salah, seperti perbuatan maksiat, kesombongan, atau untuk mencari popularitas dan pujian dari orang lain.
Dengan demikian, ajaran ini mengingatkan kita untuk menghindari pemborosan, menggunakan harta dengan penuh tanggung jawab, dan senantiasa bersyukur atas segala rezeki yang Allah berikan. Simak penjelasan Syekh Nawawi berikut:
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيراً (٢٦) وهو إنفاق المال في المعصية وفي الفخر والسمعة إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كانُوا إِخْوانَ الشَّياطِينِ أي أتباعهم في الصرف في المعاصي وَكانَ الشَّيْطانُ لِرَبِّهِ كَفُوراً (٢٧) فإنه يستعمل بدنه في المعاصي والإفساد في الأرض، وكذلك كل من رزقه الله تعالى مالا أو جاها فصرفه إلى غير مرضاة الله تعالى كان كفورا لنعمة الله تعالى فكان المبذرون موافقين للشياطين في تلك الصفة
“Janganlah kamu boros dalam pengeluaran (ayat 26). Maksud dari pemborosan adalah menggunakan harta untuk perbuatan maksiat, kesombongan, dan untuk mencari popularitas atau pujian. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan (ayat 27), yaitu mereka mengikuti setan dalam membelanjakan harta untuk maksiat. Dan setan adalah makhluk yang sangat ingkar kepada Tuhannya, karena ia menggunakan tubuhnya untuk berbuat maksiat dan melakukan kerusakan di bumi.
Baca Juga: Tadabbur Surah Al-Ashr dan Alarm Kehidupan Kita
Begitu pula orang yang diberi rezeki berupa harta atau kedudukan oleh Allah, tetapi menggunakannya untuk sesuatu yang tidak diridhai Allah, maka ia dianggap kufur atas nikmat Allah. Oleh karena itu, orang-orang yang boros dianggap memiliki sifat yang sama dengan setan.” (Syekh Nawawi Al-Bantani, Marah Labib, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1417 H] Jilid I, hal. 523)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu menerangkan, mubazir adalah, الإنفاق في غير حق
“Menggunakan harta kepada yang bukan haknya.” Mujahid rahimahullah menjelaskan,
لو أنفق إنسان ماله كله في الحق لم يكن مبذرا ولو أنفق مدا في غير حقه كان تبذيرا
“Andai seorang yang menginfakkan seluruh hartanya atas kebaikan maka itu bukanlah mubazir. Andai seorang yang berinfak hanya sebesar lumpur (satu menutupi tangan orang dewasa) hartanya pada keburukan atau yang bukan haknya, maka itulah mubazir.”
Di satu sisi, Ibnu Jarir At-Thobari menungkapkan; “Orang yang membela hartanya untuk maksiat, bukan untuk hal-hal yang bernilai taat kepada Allah, itulah perilaku walinya setan.”
Prilaku mubazir pun memberikan dampak yang nyata kepada kehidupan kita, antara lain; Pertama, dapat menimbulkan kedurhakaan yaitu tidak mengsyukuri karunia yang telah diberikan oleh Allah Swt. Kedua, mengakitbatkan hidup boros karena selalu berlebihan-berlebihan.
Pada saat yang lain, terdapat juga dua hal yang dapat menghindari diri kita dari pebuatan mubazir atau berlebih-lebihan dan azab Allah Swt antara lain;
Baca Juga: Hadits-hadits Menakjubkan tentang Kisah Kedermawanan Rasulullah
Pertama, harus senantiasa mensyukuri makanan yang tersedia. Makanan merupakan karunia Allah yang perlu kita syukuri keberadaannya. Sehingga dengan bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat. Sedangkan jika sebaliknya (kufur) maka sesungguhnya siksa Allah sungguh pedih.
Kedua, sediakan makanan secukupnya sesuai kebutuhan, jangan mengambik makanan terlalu banyak. Oleh karena itu kita tidak bisa terhindar dari meninggalkan makanan yang berakibat membuang makanan.


















