Riwayat yang Tak Pernah Ditulis

38
Sebuah ilustrasi Ibu

Di Telapak Tangan Ibu
Aku tidak ingat
kapan pertama kali belajar mencintai.

Mungkin saat tubuhku yang rapuh
diselimuti hangat kedua telapak tanganmu,
atau ketika malam-malam panjang
kau tukar dengan kantuk yang tak pernah sempat kau miliki.

Ibu,

di matamu aku melihat laut
yang tak pernah meminta kembali
air yang telah diberikannya kepada sungai.

Sedangkan aku,
bertahun-tahun tumbuh menjadi manusia,
sering lupa bahwa di setiap langkahku
ada doa-doa yang kau lipat rapi
dan kau titipkan kepada langit.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tak ada yang lebih sunyi
daripada kasih sayang seorang ibu.

Ia bekerja tanpa tepuk tangan,
menangis tanpa penonton,
menahan luka tanpa mengumumkannya.

Ketika aku jatuh,
kau yang lebih dulu merasa sakit.

Ketika aku gagal,
kau yang diam-diam terjaga semalaman.

Dan ketika aku bahagia,
kau berdiri di kejauhan,
tersenyum seolah keberhasilanku
adalah hadiah yang Tuhan kirimkan khusus untukmu.

Ibu,

aku hanyalah seorang anak
yang seumur hidup berjalan menjauh,
namun hatinya selalu pulang
ke rumah yang bernama kasih sayangmu.


Riwayat yang Tak Pernah Ditulis

Ibu,

aku sering berpikir,
barangkali sejarah paling agung di dunia ini
bukanlah yang dipahat pada batu-batu monumen,
bukan pula yang dicatat dalam kitab-kitab tebal.

Melainkan tubuhmu.

Tubuh yang diam-diam menjelma musim,
tempat seorang anak belajar tumbuh
dari setetes kemungkinan.

Di sana,
ada tahun-tahun yang tak pernah disebut siapa-siapa
malam yang hangus oleh cemas,
doa yang berulang seperti ombak,
dan cinta yang bahkan tak sempat menemukan namanya sendiri.

Aku lahir.

Lalu dunia memanggilku sebagai manusia.

Tetapi dunia lupa
bahwa sebelum aku mengenal cahaya,
ada seseorang yang terlebih dahulu
bersedia menjadi gelap.

Kau.

Kau yang mengalah kepada waktu,
kepada lelah,
kepada nasib yang kadang terlalu keras dipeluk.

Ibu, aku takut.

Takut suatu hari nanti
aku pulang membawa banyak keberhasilan,
namun tak lagi menemukan tangan
yang dahulu mengantarku berangkat.


Aku Memetik Banyak Musim
kau menyimpan banyak kehilangan.

Aku disebut berhasil,
kau memilih diam.

Padahal di setiap langkah yang kupunya,
ada umurmu yang perlahan berkurang,
ada doa-doamu yang diam-diam
lebih dahulu sampai ke langit.

Dan baru ketika waktu
menabur putih di rambutmu,

aku mengerti:

seorang ibu adalah satu-satunya cinta
yang rela menghilang dari pandangan,

agar anaknya
terlihat terang.



Penulis: Ummu Masrurah