Ikhtiar dan Tawakal dalam Kisah Sayyidah Maryam

27
sebuah ilustrasi

Pernahkah diri kita merasa bahwa usaha yang telah dilakukan terlalu kecil untuk menghasilkan sesuatu yang besar? Seperti seorang mahasiswa merasa satu halaman skripsi yang ditulis hari ini tidak akan membuatnya segera lulus. Atau seorang pedagang merasa tambahan beberapa pelanggan belum cukup untuk mengembangkan usahanya. Begitu pun dengan seorang pencari kerja merasa satu lamaran yang dikirim tidak akan banyak mengubah keadaan. Akhirnya, semangat mulai menurun karena yang terlihat hanya kecilnya usaha, bukan kemungkinan hasil yang akan datang.

Baca Juga: Ngajeni Urip, Nglakoni Ujian: Menapak Jejak Nabi Ibrahim

Cara pandang seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam Al-Qur’an, Allah memberikan pelajaran yang sangat menarik melalui kisah Sayyidah Maryam. Saat berada dalam kondisi paling lemah setelah melahirkan Nabi Isa  seorang diri, Allah berfirman:

وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّاۖ ۝٢٥

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25)

Jika diperhatikan, perintah tersebut cukup menarik, tetapi juga mengundang pertanyaan. Siti Maryam baru saja melahirkan dan berada dalam kondisi yang tidak prima. Sementara pohon kurma adalah pohon yang besar dan kokoh. Bahkan, mungkin pohon sebesar itu tidak akan bergeming hanya karena dorongan tangannya. Secara logika, menggoyangkan pohon kurma dengan tenaga yang sangat terbatas tentu bukan pekerjaan yang mudah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun Allah tetap memerintahkan Siti Maryam untuk melakukan usaha tersebut. Allah sebenarnya tidak membutuhkan tenaga Sayyidah Maryam untuk menjatuhkan buah kurma tersebut. Allah mampu membuat buah-buah itu jatuh tanpa perlu ada sentuhan apa pun. Akan tetapi, Allah mengajarkan bahwa manusia memiliki tugas yang harus dikerjakan, yakni berusaha. Tugas Maryam adalah menggoyangkan pohon. Adapun jatuhnya buah kurma adalah urusan Allah.

Baca Juga: Masjid Sayyidah Aisyah, Miqat Bersejarah di Masa Rasulullah

Dari sini kita belajar bahwa dalam kehidupan, manusia tetap memiliki kewajiban untuk berikhtiar. Allah mampu memberikan pertolongan dengan cara apa pun yang Dia kehendaki. Allah juga mampu menjatuhkan buah kurma itu tanpa harus menunggu Maryam menggoyangkan pohonnya. Akan tetapi, Allah mengajarkan bahwa ada peran yang harus dilakukan manusia sebelum datangnya pertolongan-Nya.

Konsep ini sering kali relevan dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang memiliki tujuan besar, tetapi terkadang merasa usaha yang dilakukan terlalu kecil untuk mencapai tujuan tersebut. Ada mahasiswa yang merasa satu halaman skripsi yang ditulis hari ini tidak akan membuatnya segera lulus. Ada pedagang yang merasa tambahan satu pelanggan tidak akan banyak mengubah kondisi usahanya. Ada pencari kerja yang merasa satu lamaran yang dikirim tidak akan menghasilkan apa-apa. Padahal, hampir semua pencapaian besar berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Kisah Maryam mengajarkan bahwa ukuran usaha bukan terletak pada besar atau kecilnya tindakan yang dilakukan, melainkan pada kesungguhan dalam menjalankan tanggung jawab sebagai manusia. Hasil akhir tetap berada dalam kuasa Allah. Di sinilah letak perbedaan antara tawakal dan pasrah. Pasrah sering dipahami sebagai menunggu tanpa melakukan apa-apa. Sementara tawakal adalah melakukan usaha terbaik yang mampu dilakukan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Seseorang yang bertawakal tetap belajar untuk menghadapi ujian. Ia tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia tetap berobat ketika sakit dan tetap menyusun rencana dan mengambil langkah yang diperlukan. Setelah itu, ia menerima hasilnya dengan keyakinan bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik baginya. Tidak semua usaha akan langsung membuahkan hasil sesuai harapan. Ada kalanya hasil datang lebih lambat dari yang kita inginkan. Ada pula usaha yang mengantarkan kita pada hasil yang berbeda dari rencana awal. Namun keterlambatan atau perbedaan hasil bukan berarti usaha tersebut sia-sia.

Baca Juga: Refleksi Bisnis ala Khadijah

Dalam Islam, ikhtiar memiliki nilai tersendiri. Bahkan ketika hasil belum terlihat, proses berusaha tetap bernilai di sisi Allah. Karena itu, seorang muslim tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada kesungguhan dalam menjalankan proses. Mungkin itulah salah satu hikmah mengapa Allah memerintahkan Sayyidah Maryam untuk menggoyangkan pohon kurma. Bukan karena Allah membutuhkan tenaga Maryam untuk menjatuhkan buahnya, tetapi karena Allah ingin menunjukkan bahwa manusia harus tetap mengambil bagian dalam setiap harapan yang ia panjatkan. Karena itu, jangan meremehkan usaha yang tampak kecil.

Jangan menunda langkah hanya karena hasilnya belum terlihat. Bisa jadi yang saat ini tampak sederhana justru menjadi jalan bagi datangnya pertolongan Allah. Tugas kita adalah terus menggoyangkan pohon kurma yang ada di hadapan kita. Adapun kapan buahnya jatuh dan seberapa banyak hasil yang diberikan, itulah bagian yang menjadi ketentuan Allah.

Kisah Siti Maryam mengajarkan bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat kita kendalikan. Kita tidak bisa memastikan kapan doa akan dikabulkan, kapan jalan keluar akan datang, atau kapan hasil dari usaha kita terlihat. Namun kita selalu bisa memilih untuk tetap berikhtiar. Allah tidak meminta Maryam menjatuhkan buah kurma itu sendiri. Allah hanya memintanya menggoyangkan pohonnya. Dari sana kita belajar bahwa tugas manusia adalah melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh. Sementara hasilnya biar Allah yang menentukan.

Ketika usaha terasa kecil, jangan terburu-buru menganggapnya tidak berarti. Bisa jadi yang Allah lihat bukan besarnya langkah yang kita ambil, melainkan kesungguhan kita untuk terus melangkah. Sebab dalam banyak hal, keberhasilan bukan dimulai dari hasil yang besar, tetapi dari keberanian untuk tetap bergerak meski belum melihat hasil apapun.

Baca Juga: Kisah Siti Hajar yang Bertahan di Lahan Tandus

Mari terus belajar, bekerja, berdoa, dan berusaha. Tetaplah menggoyangkan pohon kurmamu. Jika ikhtiar telah dilakukan semaksimal mungkin, selebihnya serahkan kepada Allah. Sebab yang dituntut dari kita bukanlah keberhasilan, melainkan kesungguhan dalam menjalani prosesnya. Dan tidak ada usaha yang dilakukan karena Allah yang benar-benar sia-sia.