Ketika Hutan Hilang Masa Depan Dipertaruhkan

16
Ilustrasi hutan yang begitu indah

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kawasan hutan tropis terbesar di dunia. Hutan-hutan tersebut tidak hanya menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim, sumber air, serta kehidupan masyarakat yang bergantung padanya. Namun, di tengah berbagai upaya pelestarian lingkungan, laju deforestasi masih menjadi persoalan serius yang mengancam keberlanjutan ekosistem Indonesia.

Baca Juga: Darurat Sampah Sungai, Dari Krisis Lingkungan Menuju Gerakan Kesadaran Kolektif

Data World Resources Institute (WRI) menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi kedua negara dengan tingkat kehilangan tutupan pohon terbesar di dunia setelah Brasil selama periode 2001–2024. Sekitar 10 juta hektare tutupan pohon hilang dalam kurun waktu tersebut, atau setara dengan 11 persen dari total kehilangan tutupan pohon global. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan hutan bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan juga persoalan moral dan tanggung jawab bersama.

Ancaman Deforestasi dan Pesan Nabi tentang Kelestarian Alam

Kawasan Kalimantan dan Papua menjadi wilayah yang paling terdampak oleh deforestasi. Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur secara konsisten mencatat tingkat kehilangan hutan yang tinggi akibat ekspansi perkebunan dan aktivitas pertambangan. Sementara itu, Papua yang selama ini dikenal sebagai salah satu benteng terakhir hutan tropis dunia juga mengalami peningkatan kehilangan tutupan hutan yang cukup signifikan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dampak dari deforestasi tidak hanya berupa hilangnya pepohonan. Kerusakan hutan memicu berbagai persoalan lain seperti banjir, tanah longsor, berkurangnya cadangan air, hilangnya habitat satwa, hingga meningkatnya emisi karbon yang mempercepat perubahan iklim. Pada akhirnya, manusia menjadi pihak yang paling merasakan akibat dari kerusakan tersebut.

Baca Juga: Limbah Rumah Tangga: Kebiasaan Kecil yang Berdampak Besar bagi Lingkungan

Di tengah kondisi ini, Islam sesungguhnya telah memberikan panduan yang jelas mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Rasulullah tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia, tetapi juga mengajarkan etika dalam memperlakukan alam. Salah satu hadis yang sering dijadikan landasan dalam pembahasan pelestarian lingkungan adalah sabda Nabi Muhammad Saw:

مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ

“Barang siapa menebang pohon sidrah, maka Allah akan menelungkupkan kepalanya ke dalam neraka.” (HR. Abu Dawud, no. 5239)

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini ditujukan kepada orang yang menebang pohon secara zalim dan tanpa alasan yang dibenarkan. Larangan tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak membenarkan tindakan perusakan lingkungan yang menghilangkan manfaat bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya. Dengan kata lain, menjaga pohon dan kelestarian alam merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim.

Selain melarang tindakan yang merusak, Islam juga mendorong umatnya untuk melakukan tindakan yang bersifat konstruktif. Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu hasilnya dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali hal itu menjadi sedekah baginya.” (HR. al-Bukhari no. 2320 dan Muslim no. 1553)

Hadis ini menunjukkan bahwa menanam pohon bukan sekadar aktivitas ekologis, tetapi juga bernilai ibadah. Setiap manfaat yang dihasilkan oleh pohon tersebut akan menjadi pahala yang terus mengalir bagi penanamnya. Karena itu, penghijauan dan pelestarian lingkungan dalam Islam tidak hanya dipahami sebagai kewajiban sosial, tetapi juga sebagai bentuk amal saleh.

Baca Juga: Sawah, Nila, dan Pesantren: Menemukan Kembali Ekologi dalam Tradisi Kiai

Bahkan dalam hadis lain, Rasulullah mengajarkan optimisme yang luar biasa melalui anjuran menanam pohon meskipun hari kiamat telah dekat:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ

“Apabila kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian terdapat bibit tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad no. 12902)

Hadis ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Menanam pohon bukan hanya soal menghasilkan manfaat hari ini, tetapi juga tentang membangun harapan bagi masa depan. Bahkan ketika masa depan tampak tidak lagi panjang, Islam tetap mengajarkan untuk memberi manfaat dan menjaga kehidupan.

Meningkatnya angka deforestasi di Indonesia merupakan peringatan bahwa kelestarian lingkungan tidak boleh dipandang sebagai tanggung jawab segelintir pihak saja. Kerusakan hutan berdampak langsung pada keseimbangan alam dan kualitas hidup manusia. Karena itu, menjaga hutan bukan hanya kebutuhan ekologis, tetapi juga tanggung jawab moral dan keagamaan.

Baca Juga: Disiplin Lingkungan sebagai Pendidikan Karakter Santri

Hadis-hadis Nabi tentang larangan merusak pohon dan anjuran menanam pohon menunjukkan bahwa Islam memiliki perhatian besar terhadap pelestarian lingkungan. Menebang pohon secara zalim dipandang sebagai tindakan yang tercela, sedangkan menanam pohon dinilai sebagai amal yang pahalanya terus mengalir.

Di tengah ancaman deforestasi yang semakin nyata, ajaran tersebut mengingatkan bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan penjaga yang diberi amanah untuk merawatnya. Menjaga hutan dan menanam pohon pada akhirnya bukan hanya bentuk kepedulian terhadap alam, tetapi juga wujud nyata pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.