Menjaga Spirit Ramadan dan Menjadi Santri Sejati

59
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz pada acara Yudisium Wisuda ke-XI Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.
Santri sejati adalah mereka yang berilmu sekaligus berbudi pekerti. Ilmunya membawa manfaat bagi kehidupan dunia, sedangkan akhlaknya menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat. Itulah warisan utama yang harus terus dijaga dan diamalkan oleh setiap santri Tebuireng.

Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Di dalamnya, umat Islam diberi kesempatan untuk memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Allah Swt., serta menimba ilmu agama sebagai bekal kehidupan. Karena itu, pengajian Ramadan menjadi salah satu kegiatan yang sangat berharga dan layak disyukuri.

Baca Juga: Resolusi Jihad dan Spirit Kebangsaan untuk Generasi Bangsa

Di antara amalan utama yang dianjurkan selama Ramadan adalah membaca Al-Qur’an. Dari Al-Qur’an lahir berbagai cabang ilmu keislaman, mulai dari hadis hingga kitab-kitab para ulama yang menjadi pedoman umat. Oleh sebab itu, mengikuti pengajian dan mempelajari kitab-kitab keislaman merupakan bagian dari upaya menghidupkan nilai-nilai Ramadan. Harapannya, ilmu yang diperoleh tidak hanya dipahami, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai santri Tebuireng, para peserta pengajian sesungguhnya sedang melanjutkan tradisi keilmuan yang diwariskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Kitab-kitab yang dipelajari merupakan warisan keilmuan yang sangat berharga, baik karya para ulama klasik maupun kitab-kitab yang ditulis langsung oleh Hadratussyaikh. Para pengasuh dan guru pada hakikatnya hanya meneruskan tradisi tersebut dengan membacakan dan menjelaskan isi kitab-kitab yang telah diwariskan kepada generasi penerus.

Menjelang berakhirnya pengajian Ramadan, terdapat harapan besar agar seluruh santri dapat kembali ke rumah dengan selamat dan membawa manfaat dari ilmu yang telah dipelajari. Selain doa untuk kelancaran perjalanan, terdapat pesan agar para santri senantiasa menjaga nama baik Tebuireng di tengah keluarga dan masyarakat. Ilmu yang diperoleh selama mondok hendaknya tercermin dalam sikap, perilaku, dan akhlak sehari-hari.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Menjaga Warisan Sanad

Menjadi santri tidak berhenti ketika berada di lingkungan pesantren. Justru ketika kembali ke rumah, santri memiliki kesempatan untuk menunjukkan hasil pendidikan yang telah diperoleh. Sikap hormat kepada orang tua, kesungguhan dalam beribadah, serta kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari merupakan bentuk nyata dari pengamalan ilmu. Karena itu, para santri diharapkan menjadi anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) dan mampu menjadi teladan di lingkungan masing-masing.

Meskipun pengajian Ramadan telah berakhir, perjuangan ibadah belum selesai. Pada sepuluh malam terakhir Ramadan masih tersimpan keutamaan besar berupa malam Lailatul Qadar. Allah Swt. berfirman bahwa Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Keutamaan ini merupakan anugerah istimewa bagi umat Nabi Muhammad saw.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa ada umat terdahulu yang mampu beribadah dan berjihad selama puluhan tahun. Ketika para sahabat merasa usia mereka tidak akan mampu menyamai amal tersebut, Allah kemudian menurunkan surah Al-Qadr sebagai kabar gembira. Melalui satu malam yang penuh keberkahan, umat Islam diberikan kesempatan memperoleh pahala yang nilainya melebihi ibadah selama seribu bulan. Karena itu, malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29, patut dikejar dengan memperbanyak ibadah dan doa.

Baca Juga: Santri, Ulama, dan Kemerdekaan

Selain bekal spiritual, para santri juga perlu menyadari bahwa ikatan dengan pesantren tidak pernah terputus. Bagi santri yang akan lulus, khususnya kelas akhir, perpisahan dengan Tebuireng bukanlah akhir dari perjalanan. Pesantren telah menyiapkan wadah silaturahmi melalui Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Tebuireng (IKAPETE) yang memungkinkan para alumni tetap terhubung, baik ketika menempuh pendidikan tinggi maupun saat terjun ke masyarakat.

Tradisi silaturahmi tersebut sejalan dengan nilai yang diajarkan pesantren sejak dahulu. Hubungan antara santri, alumni, guru, dan pesantren bukan sekadar hubungan formal, melainkan ikatan keilmuan dan kekeluargaan yang harus dijaga sepanjang hayat. Dengan bekal ilmu yang diwariskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, para santri diharapkan mampu melanjutkan perjuangan dakwah dan pengabdian di mana pun berada.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan pesantren bukan hanya melahirkan insan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga pribadi yang berakhlak mulia. Santri sejati adalah mereka yang berilmu sekaligus berbudi pekerti. Ilmunya membawa manfaat bagi kehidupan dunia, sedangkan akhlaknya menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat. Itulah warisan utama yang harus terus dijaga dan diamalkan oleh setiap santri Tebuireng.

Baca Juga: Fitrah Manusia dan Tantangan Menjaga Persatuan

Semoga seluruh ilmu yang telah dipelajari menjadi ilmu yang barakah, bermanfaat sepanjang hayat, serta mengantarkan para santri menjadi generasi penerus yang mampu menjaga tradisi keilmuan, mempererat silaturahmi, dan mengabdi kepada agama, bangsa, dan masyarakat.


*Disampaikan saat penutupan pengajian Ramadan di Pesantren Tebuireng 10 Maret 2026.