Sembelih Ego

37
Sebuah ilustrasi kerelaan dalam berkurban

Sembelih Ego

Di pagi kurban
ego itu singa yang mengaum di dadaku
mengamuk minta dipuja
minta dituruti tanpa henti
kini pisau kesadaran ku tajamkan
menjadi tangan Tuhan yang menuntun arah pulang

Kau, ego, topeng besi yang kupakai bertahun-tahun
menutup wajah rendah hati yang hampir mati beku
hari ini kutebas dengan sabar dan ikhlas
darahnya menetes jadi kerendahan hati yang segar

bukan daging yang kupersembahkan di panggung batin
melainkan kesombongan yang lama menjadi raja zalim
ketika ego mati
jiwaku bernapas lega sekali
seperti tanah kering disiram hujan pertama di gurun

luluhkanlah Aku ya Allah
dengan ridha Mu
agar yang tersisa hanya hamba yang bersujud tulus
ringan melangkah
hangat berbagi tanpa pamrih
menjadi manusia yang kembali pada fitrah suci

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Jejak Ibrahim

Di padang sunyi
langkahnya seperti kompas iman yang tak pernah ragu
meninggalkan jejak di pasir waktu yang panas menyengat
pisau ketaatan diangkat
bukan untuk melukai
melainkan memotong ikatan dunia yang membelenggu

anak tercinta diserahkan dengan senyum yang meneduhkan
seperti pelita di tengah badai keraguan
langit diam menyaksikan
lalu menurunkan domba pengganti
sebagai bukti cinta yang menang atas segalanya

kini jejak itu menjadi kiblat
jalan bagi hati yang ingin berserah
setiap langkah kita adalah gema pengorbanan
mengajarkan bahwa keikhlasan memecah belenggu takut

berjalanlah wahai jiwa
mengikuti arah itu
agar hidupmu menjadi kurban yang harum di sisi Tuhan


Bukan Sekedar Kambing

Ini bukan sekedar kambing yang rebah di tanah
darahnya bukan tetesan biasa yang menguap ditelan debu
Ia adalah bahasa bisu
menyuarakan keikhlasan yang merobek kesombongan
seperti pisau tajam menebas akar serakah di dada manusia

di balik tanduk dan bulu itu tersimpan janji tua
warisan Ibrahim yang tak lekang oleh zaman
Kita menyembelih bukan daging
melainkan ego yang lapar
nafsu yang selama ini menjerit minta dipuja

maka lihatlah pisau itu menembus lebih dalam
menyembelih cinta dunia yang membutakan mata
ketika hati menyerah

langit membuka pintu
dan kurban menjadi jembatan pulang ke sang Pencipta
bukan kambing yang mati
tapi Aku yang hidup kembali