
Aku ingin berkisah. Bukan khayalan dan juga bukan fiksi seperti di buku dongeng. Ini adalah kisah nyata yang aku alami sendiri, tentang perjuangan seorang ibu yang harus terus bekerja untuk menghidupi kedua anaknya, juga tentang temanku dengan segala kelalaiannya.
Sebut saja Kartika namanya. Ia adalah teman sebayaku. Kami sama-sama kuliah semester 6 dan sekarang sedang KKN dalam satu kelompok. Ia menawariku untuk jalan-jalan ke Sidoarjo dan Surabaya pada akhir pekan nanti. Tanpa basa-basi, tawaran itu langsung aku terima karena memang di akhir pekan tidak ada kegiatan di desa tempat kami KKN.
Akhir pekan pun tiba. Aku dan Kartika bersiap berangkat setelah subuh. Setelah itu, kami menuju rumah teman dekat Kartika. Aku kira kami hanya berdua, ternyata tidak.
Salsa (teman Kartika) rupanya juga membawa seorang teman untuk diajak jalan-jalan. Rina, teman Salsa. Tanpa berlama-lama lagi, kami berempat berangkat menuju tujuan utama, yakni Sidoarjo. Aku pernah beberapa kali ke Sidoarjo, tetapi tidak sampai menetap atau berlama-lama. Hanya sekadar lewat saja.
Aku sangat menikmati perjalanan akhir pekan ini. Setelah di desa KKN penuh dengan kegiatan, akhirnya bisa juga berlibur. Meskipun kami naik motor dengan total perjalanan kurang lebih dua jam, aku tetap menikmatinya. Di perjalanan aku lebih banyak diam. Tidak banyak mengobrol dengan Kartika, hanya sesekali ketika aku mulai mengantuk.
Sebelum sampai ke rumah yang dituju, aku bertanya pada Kartika.
“Ini kita mau ke mana, ya? Ke rumah temanmu?”
“Iya, ke rumah temanku,” jawabnya.
“Kamu sudah kasih tahu temanmu kalau kita mau ke rumahnya?” tanyaku lagi.
“Kalau dia dikasih tahu, nanti malah kabur,” jawabnya, yang membuatku semakin penasaran. Namun aku tidak bertanya lebih lanjut.
Ekspektasiku, di rumah teman Kartika nanti kami akan dijamu makanan-makanan enak karena sejak berangkat kami belum sarapan. Namun ekspektasi itu terbantahkan oleh realita.
Kami telah sampai di sebuah rumah yang bisa dikatakan cukup kumuh dan sederhana. Aku tidak mempermasalahkan itu, namanya juga silaturahmi. Namun hal yang lebih mengejutkan, aku baru tahu kalau Kartika dan Salsa ternyata datang untuk menagih utang kepada temannya. Bahkan ternyata bukan sekadar teman, melainkan mantan pacar Kartika.
Kami dijamu dengan es sirup yang sangat cocok diminum di tengah cuaca panas. Mungkin ada dua atau tiga kali aku menuangkannya ke dalam cangkir. Aku masih belum tahu bahwa tujuan ke Sidoarjo ini sebenarnya untuk menagih utang. Ketika Salsa mulai berbicara kepada seorang ibu yang ternyata adalah ibu dari Yanto (mantan pacar Kartika) barulah aku mulai memahami situasinya.
“Mohon maaf ya, Bu. Kami ke sini tanpa memberi kabar terlebih dahulu karena kami sudah berulang kali menghubungi pihak keluarga Yanto, tetapi tetap tidak ada respons. Akhirnya kami memutuskan datang langsung ke rumah ibu,” ucap Salsa dengan lantang.
Sang ibu hanya menyimak sambil tertunduk malu.
“Ya Allah, iya, Nak. Ibu paham. Tapi ibu belum punya uang untuk membayar utang Yanto,” ucap ibu Yanto dengan nada sendu, seolah meminta tambahan waktu lagi.
Sebelum ke rumah ibu Yanto, sebenarnya kami sempat menuju kos Yanto. Namun tidak memungkinkan jika kami langsung masuk begitu saja. Akhirnya kami memutuskan datang ke rumah ibunya. Jarak rumah ibu Yanto dengan kos Yanto sebenarnya cukup dekat. Hanya saja, Yanto diakui sangat gengsi dengan keadaan ekonomi keluarganya dan memilih tinggal di kos.
“Mohon maaf, Bu. Kami tidak bisa memberikan perpanjangan waktu lagi karena kami sudah enam kali datang ke sini, tetapi belum mendapatkan apa-apa. Setidaknya utang itu hari ini dibayar seadanya dulu, Bu,” ujar Salsa.
Salsa adalah teman dekat Kartika. Mereka satu kos. Rumah Salsa berada di luar pulau, sehingga saat liburan pun ia sering ikut pulang ke rumah Kartika. Salsa juga sosok yang tegas, berbeda dengan Kartika yang terlalu mudah merasa kasihan kepada orang lain hingga lupa memikirkan dirinya sendiri.
“Nak, ibu benar-benar tidak punya pegangan uang saat ini. Apalagi kondisi bapak sedang sakit dan tidak bisa bekerja. Saya panggilkan kakaknya Yanto dulu ya, biar dia juga tahu perihal ini,” ujar ibu Yanto.
Selagi menunggu ibu dan kakak Yanto datang, aku bertanya kepada Salsa tentang jumlah utang Yanto dan bagaimana kronologi sampai Kartika bisa mengutangi sebanyak itu. Namun Salsa hanya berkata, “Nanti kamu juga akan tahu sendiri.”
Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Aku menerka bahwa utangnya mungkin hanya sekitar satu jutaan. Ternyata aku salah.
Sepuluh menit kemudian, kakak Yanto datang. Mungkin cukup lama karena rumahnya agak jauh.
“Gimana? Ini ada permasalahan apa?” ujar kakak Yanto yang sepertinya sudah diberi tahu ibunya tentang masalah sang adik.
“Jadi begini, Mas. Yanto punya utang kepada Kartika sebesar lima juta delapan ratus ribu rupiah. Tapi tidak apa-apa, kami akan membulatkannya menjadi lima juta saja. Dia menerima bukan berupa uang tunai, tetapi membeli perintilan motor di aplikasi oren menggunakan akun Kartika dengan program paylater. Jadi yang ditagih oleh aplikasi online itu adalah Kartika.
Kartika juga sudah berkali-kali menghubungi Yanto, tetapi tidak ada balasan. Kartika bahkan sudah menghubungi ibu, tetapi sama saja, tidak ada respons. Itu sebabnya kami datang ke sini,” jelas Salsa.
“Jadi begini, Mbak. Sebenarnya Mbak Kartika juga salah karena terlalu percaya kepada orang seperti Yanto. Memang Yanto orangnya seperti itu. Ini bukan pertama kalinya terjadi, mungkin sudah yang kelima kalinya,” ucap kakak Yanto.
“Jujur, saya belum berani bertindak membantu karena saya sudah berumah tangga. Jadi saya harus izin dulu kepada istri saya,” lanjutnya.
“Iya, silakan, Mas. Bagaimanapun juga, keluarga adalah pihak pertama dari Yanto,” jawab Salsa.
Kakak Yanto pun keluar untuk menelepon istrinya.
“Memang dari dulu kakaknya Yanto itu anaknya baik, nurut, dan suka membantu ekonomi keluarga padahal dia sudah beristri, Mbak. Saya sebenarnya tidak ingin meminta bantuannya, tapi bagaimana lagi kalau keadaannya sudah seperti ini,” ucap ibu Yanto.
Setelah selesai menelepon istrinya, kakak Yanto kembali lagi.
“Saya transfer saja ya, Mbak. Tapi mohon maaf belum bisa melunasi semuanya sekarang. Saya cuma bisa bayar dua juta lima ratus ribu dulu,” ucapnya.
“Iya, tidak apa-apa, Mas. Ini nomor rekening saya,” jawab Salsa.
Setelah semua selesai, kami pun pulang.
Sebagai anak pertama, melihat seorang kakak yang begitu baik dan selalu menolong keluarganya membuatku termotivasi. Meskipun ia sudah berkeluarga, ia tetap membantu orang tuanya yang sedang membutuhkan.
Ternyata benar, pelajaran tidak selalu didapatkan di bangku sekolah. Kadang, ketika kita menempuh perjalanan panjang, di situlah kita justru menemukan pembelajaran yang nyata dalam kehidupan.


















