
Tebuireng.online— Sebanyak 818 santri tingkat SLTA dari enam unit pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren Pesantren Tebuireng mengikuti prosesi wisuda pada Ahad (24/5/2026). Kegiatan ini menjadi hari kedua rangkaian wisuda setelah sehari sebelumnya digelar wisuda tingkat SD dan SLTP.
Baca Juga: Wisuda Pondok Putri, Gus Fahmi: Ini Bukan Akhir, Tetapi Awal Perjuangan Menuntut Ilmu
Enam unit yang mengikuti wisuda tersebut yakni SMK Plus Khoiriyah Hasyim, MA Sains Tebuireng Kesamben, MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, SMA A. Wahid Hasyim, SMA Trensains Tebuireng Jombok, dan Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari.
Dalam sambutannya, perwakilan wisudawan Husni dari MA Sains Kesamben, menyampaikan bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk arah hidup dan integritas santri. Ia menyebut dirinya bangga menjadi bagian dari angkatan pertama lulusan MA Sains Kesamben.
“Di Pesantren Tebuireng kami tidak hanya diajarkan tentang apa yang harus diketahui, tetapi juga diajarkan ingin menjadi apa di kemudian hari. Kami selalu diajarkan untuk bertanya pada diri sendiri, berani jujur saat tidak diawasi, tetap lurus saat tidak diuji, dan tetap amanah saat ada kesempatan untuk menyimpang,” ujarnya.
Baca Juga: Gelar Wisuda Purnasiswa, Tebuireng Lepas 879 Wisudawan Tingkat SD dan SLTP
Menurutnya, krisis dunia saat ini bukan disebabkan kurangnya orang cerdas, melainkan minimnya manusia yang memiliki integritas. Ia juga mengutip pesan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul Muta’allim tentang pentingnya mencari ilmu dengan niat tulus demi ridha Allah.
“Sebagai wisudawan Pesantren Tebuireng kami tidak hanya membawa ijazah, kami juga membawa janji. Janji untuk menjaga nilai, tidak menggadaikan prinsip, dan tetap menjadi santri di manapun dan kapanpun kami berada,” tambahnya.
Perwakilan wali santri, Prof. Dr. Erman, berharap para lulusan mampu menghadapi perubahan zaman, termasuk perkembangan artificial intelligence (AI), dengan kekuatan iman dan karakter yang matang.
“Saat ini zaman mengalami banyak perubahan dengan adanya AI yang akan membentuk karakter. Maka tentu saja Pondok Tebuireng harus berdiri di garis depan untuk mematangkan kekuatan iman dan pikiran dalam menghadapi hambatan sekaligus menyiapkan masa depan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa keberkahan ilmu yang diperoleh selama mondok akan menjadi penuntun langkah para santri di masa depan.
Baca Juga: 304 Santriwati Tebuireng Ikuti Wisuda Bil Ghaib hingga Purna Santri
Sementara itu, Mudir II Bidang Pendidikan, Gus Hasyim, saat membacakan Surat Keputusan kelulusan dan capaian prestasi santri, mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu.
“Capaian ini harus disyukuri, tetapi bukan akhir. Jangan pernah meninggalkan identitas santri, karena tidak ada mantan santri,” pesannya.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan kandungan QS Ali Imran ayat 190-191 sebagai bekal kehidupan, yakni senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan.

Pada kesempatan tersebut, Gus Hasyim turut mengumumkan capaian para lulusan yang diterima di berbagai perguruan tinggi. Di antaranya, lulusan MA Sains sebanyak 12 siswa melanjutkan pendidikan melalui jalur SNBP, SPAN PTKIN, mandiri, hingga diterima di Universitas Al Azhar Kairo. Sementara MA Salafiyah Syafi’iyah mencatat puluhan siswa diterima melalui jalur SNBP, SPAN PTKIN, OSC, Al Azhar, Ma’had Aly, hingga Unhasy.
Adapun SMA A. Wahid Hasyim mencatat 31 siswa lolos SNBP, lima golden ticket UIN Maliki, dua SPAN PTKIN, dan tujuh diterima di Al Azhar. Selain itu terdapat pula capaian santri yang diterima di kedokteran China serta Uzbekistan.
Baca Juga: Inspiratif! Siswa Ini Tampil Memukau di Panggung Wisuda
Amanah pengasuh yang diwakili KH. Abdul Hadi Yusuf menyoroti pentingnya menjaga ibadah dan akhlak setelah lulus dari pesantren. Ia berpesan agar para santri tetap menjaga sholat dan akhlak di manapun berada.
“Jangan sampai sholat Subuh di rumah masih dibangunkan orang tua, karena sudah dibiasakan di sini. Bersyukurlah kalian bisa mondok di Tebuireng,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga adab kepada guru dan mempertahankan kebiasaan baik yang telah diperoleh selama di pesantren.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo dari Universitas Airlangga mengangkat tema “Santri dan Masa Depan Indonesia Emas 2045: Ilmu yang Memuliakan dari Pesantren untuk Peradaban”. Ia menilai Pesantren Tebuireng memiliki sejarah besar karena telah melahirkan dua pahlawan nasional, yakni KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahid Hasyim.
“Sudah punya dua pahlawan nasional. Dari sini saja, di mana keluarga di seluruh dunia yang memiliki sumber daya bisa menjadi pahlawan nasional kecuali Pondok Pesantren Tebuireng,” ujarnya.
Ia juga menyinggung sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang hingga kini masih banyak diziarahi masyarakat dari berbagai kalangan.
Baca Juga: Pondok Putri Tebuireng Anugerahkan Penghargaan bagi Wisudawati Terbaik 2026
Salah satu wali santri, Bapak Okta, turut menyampaikan doa dan harapannya untuk Tebuireng serta para lulusan tahun ini.
“Sukses terus Tebuireng. Semoga semua santri menjadi anak yang berguna bagi orang tua dan agama. Alhamdulillah anak saya yang sekolah di AWH lulus di Poltekkes Banten,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu wisudawati Rahma Yuke Indah mengaku mendapatkan banyak pengalaman selama mondok di Tebuireng.
“Dapat relasi banyak, pengalaman baru, dan ilmu yang manfaat. Aamiin,” katanya usai mengikuti prosesi wisuda.
Editor: Rara Zarary
Pewarta: Albii


















