
Tebuireng.online— Di balik meriahnya acara Wisuda Purnasiswa Unit Pendidikan SD dan SLTP Pesantren Tebuireng pada Sabtu (23/5/2026), salah satu lulusan terbaik dari SMP Sains Tebuireng, Archie Javas Nararya mencuri perhatian audiens saat menyampaikan sambutan. Ia tampil sebagai perwakilan wisudawan dengan menggunakan dua bahasa yakni Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.
Baca Juga: Gelar Wisuda Purnasiswa, Tebuireng Lepas 879 Wisudawan Tingkat SD dan SLTP
Dalam sambutannya, Archie mengutip kitab Fawaidul Janiyah karya Syekh Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani bahwa perayaan wisuda bukan hanya euforia atau kebahagiaan saja. Rasa syukur yang sejati merupakan wujud tindakan seorang hamba atas nikmat Allah, yang diimplementasikan melalui ketaatan dan tadabur atau perenungan yang selaras dengan tujuan penciptaan manusia.
Dari kutipan tersebut, Archie mengajak kepada teman-temanya untuk membuktikan syukur dengan kesuksesan yang mengharumkan nama Tebuireng.
Di samping itu, pada saat wawancara, siswa yang diberi tugas sambutan mewakili seluruh angkatannya ini membagikan pengalamannya yang sempat mengalami culture shock di awal masa mondok. Selama kurang lebih tiga tahun di masa sekolah dasar dan tepatnya saat pandemi COVID-19, Archie menjalani pendidikan berbasis rumah atau homeschooling di bawah bimbingan sang ibu.
“Benar-benar masuk pondok itu awalnya kaget banget, karena tidak pernah bertemu banyak orang, lalu tiba-tiba harus masuk pondok dan diajarkan hidup mandiri,” ungkapnya saat diwawancarai.
Baca Juga: Wisuda Santri Tebuireng, Momen Menggali Warisan Keilmuan Hadratussyaikh

Kehidupan sosial di pesantren berhasil mengasah potensinya. Ia dipercaya memegang amanah sebagai Ketua OSIS SMP Sains Tebuireng. Kesibukannya mengurus proposal kegiatan dan memimpin rapat tidak menyurutkan semangatnya dalam meraih prestasi akademik dan non-akademik. Alhasil, Archie dinobatkan sebagai peraih peringkat pertama di kelasnya dan peringkat ketiga paralel seangkatan. Selain itu, ia meraih penghargaan sebagai siswa dengan prestasi terbanyak, mengumpulkan sekitar 20 penghargaan selama masa studinya.
“Sebagai Ketua OSIS, saya sadar sering meninggalkan pelajaran untuk lomba atau kegiatan. Jadi, ketika akhirnya dapat penghargaan peringkat paralel dan siswa berprestasi terbanyak, rasanya sangat senang karena bisa membanggakan orang tua,” tambah siswa asal Sidoarjo ini.
Meskipun sukses memberikan sambutan perpisahan di hadapan teman-temannya, siswa ini mengaku sempat gugup. Ia menyebut bahwa memberikan pidato dalam bahasa Indonesia menjadi tantangan tersendiri, mengingat ia lebih terbiasa berkompetisi dalam lomba pidato berbahasa Inggris.
Namun, kesuksesan yang luar biasa ini tentu tak lepas dari peran sang Ayah, Bapak Rahmad. Saat diwawancarai, beliau menjelaskan bahwa pola asuh yang ia terapkan berfokus pada fasilitasi dan dukungan penuh, bukan paksaan.
Baca Juga: Tebuireng dan Warisan Keikhlasan
“Kebanyakan memang kita mengasih fasilitas ke anak untuk bisa berpikir. Intinya anak punya minat di mana, kita dorong. Jadi apa yang diraih sekarang adalah hasil kerja keras dia sendiri,” ujar Rahmad.
Terkait masa homeschooling, Rahmad menuturkan bahwa keputusan itu diambil demi keamanan saat pandemi. Namun, seiring berjalannya waktu, orang tua menyadari bahwa anak membutuhkan wadah untuk mengasah ilmu sosialnya. Rahmad memberikan gambaran positif tentang kehidupan pesantren hingga sang anak mencari informasi sendiri dan akhirnya mantap memilih mondok di Tebuireng.
“Ternyata dia merasa setelah pindah ke pondok dan bertemu teman-teman secara real, lebih seru. Pembelajaran sosialnya akhirnya dapat banget di sini,” tambah Rahmad.
Ke depannya, siswa berprestasi ini berencana melanjutkan studinya di SMA Trensains Tebuireng untuk mencapai cita-cita agar bisa melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri, khususnya kawasan Eropa.
“Semoga bekal yang sudah didapat di SMP tidak luntur, bisa dipertahankan, dan di SMA nanti bisa menjadi panutan bagi adik-adiknya,” pesan sang Ayah.
Pewarta: Bakhit Jauharullaudza
Editor: Rara Zarary


















