
Malam itu hujan turun begitu pelan, seperti seseorang yang sedang belajar menangis tanpa suara. Aku duduk di tepi ranjang sambil mengusap perutku yang terasa semakin berat. Anak kelimaku belum juga lahir, padahal hitungan bidan sudah lewat hampir dua minggu. Orang-orang bilang mungkin bayinya nyaman di dalam. Tapi entah kenapa, aku merasa bukan itu alasannya. Mungkin karena aku sendiri belum benar-benar siap melepaskannya.
Namaku Fatimah. Aku ibu dari empat anak yang lahir dari kehidupan sederhana. Suamiku, Hasan, hanya guru madrasah kampung dengan penghasilan yang kadang cukup, kadang harus dicukup-cukupkan. Tapi kami selalu merasa kaya. Rumah kecil kami penuh suara anak-anak, penuh rebutan lauk, penuh sandal berserakan, penuh doa-doa kecil sebelum tidur.
Lalu kehamilan kelima ini datang.
Awalnya biasa saja. Aku menjalaninya seperti kehamilan sebelumnya. Mual, pegal, pinggang nyeri, dan anak-anak yang tetap harus diurus. Sampai suatu malam, di usia kandungan dua bulan, aku bermimpi.
Aku berada di jalan desa yang sepi. Kabut turun tipis. Dari kejauhan ada seorang lelaki tua berpakaian putih berdiri memunggungiku. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi suaranya terdengar jelas sekali.
“Kalau kamu punya rezeki, bagilah ke Kiai Soleh.” Lalu aku terbangun.
Aku menganggap itu bunga tidur. Barangkali karena siang harinya aku sempat mendengar nama Kiai Soleh disebut tetangga. Tidak ada yang istimewa.
Namun mimpi itu datang lagi. Persis sama. Jalan desa yang sunyi. Kabut. Lelaki tua berpakaian putih. Dan kalimat itu. “Kalau kamu punya rezeki, bagilah ke Kiai Soleh.”
Aku terbangun dengan dada berdebar. Kali ini aku mulai merasa aneh. Karena setiap detailnya sama. Bahkan suara angin di dalam mimpi itu terasa sama.
Saat kandunganku memasuki usia empat bulan, mimpi itu datang untuk ketiga kalinya. Aku mulai takut.
Malam itu aku menceritakannya kepada suamiku. Ia diam lama sekali. Wajahnya tampak berpikir keras.
“Mungkin cuma mimpi,” katanya pelan.
“Tapi kenapa selalu sama?”
Ia tidak menjawab.
***
Hari-hari berikutnya, mimpi itu terus menghantuiku meski tidak datang lagi. Kalimat itu terus berputar di kepala.
Kalau kamu punya rezeki, bagilah ke Kiai Soleh. Rezeki apa?
Aku dan suami mulai membicarakannya diam-diam ketika anak-anak sudah tidur. Awalnya kami mencoba menafsirkannya secara sederhana. Mungkin uang. Mungkin hasil panen. Mungkin sedekah biasa.
Tapi semakin dipikir, semakin hati kami menuju satu kemungkinan yang membuat kami takut mengucapkannya. Anak ini.
Hasan akhirnya mencari tahu tentang keluarga Kiai Soleh. Padahal kami memang sudah mengenalnya sejak lama. Beliau pengasuh pesantren kecil di desa sebelah. Orangnya sederhana, dihormati warga, dan dekat dengan keluarga almarhumah ibuku.
Suatu sore Hasan pulang dengan wajah berbeda.
“Fatimah…” katanya lirih. “Anak perempuan Kiai Soleh sudah menikah tujuh belas tahun.”
Aku menatapnya.
“Belum punya anak.”
Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu di dalam dadaku. Aku langsung menangis. Entah kenapa. Seolah ada sesuatu yang sejak awal sudah kupahami, tapi berusaha kutolak.
***
Malam-malam setelah itu menjadi panjang. Aku dan Hasan berdiskusi berulang kali. Kadang sampai menjelang subuh. Kadang berakhir dengan tangis.
“Apa mungkin Allah meminta kita merelakan anak ini?” tanyaku suatu malam. Suamiku hanya memejamkan mata.
“Aku tidak tahu.”
“Aku takut.”
“Aku juga.”
Aku mengusap perutku sambil menangis diam-diam. Bayi ini bergerak aktif sekali setiap malam. Kadang seperti sedang mengetuk dari dalam, seolah tahu ibunya sedang gelisah.
Aku mulai membayangkan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Bagaimana jika anak ini lahir… lalu kupeluk hanya sebentar… kemudian menjadi milik orang lain?
Bagaimana seorang ibu bisa hidup setelah itu? Namun di sisi lain, setiap kali aku membayangkan wajah anak perempuan Kiai Soleh yang belum pernah merasakan dipanggil “ibu”, hatiku terasa sesak.
Aku tahu rasanya menunggu. Aku tahu rasanya berharap. Dan aku tahu, tidak semua perempuan diberi kesempatan melahirkan. Ketika usia kandunganku sembilan bulan, aku akhirnya memberanikan diri bicara kepada keluarga besar.
Rumah ayah malam itu penuh. Pamanku langsung berdiri setelah mendengar niatku.
“Kamu gila, Fatimah?!” Bibiku ikut menangis.
“Itu anakmu! Darah dagingmu!” Ayahku yang selama ini jarang marah bahkan membentak Hasan.
“Kalian miskin bukan berarti harus menyerahkan anak!” Aku menangis sepanjang malam.
Tidak ada yang benar-benar mendengarkan bahwa ini bukan tentang kemiskinan. Kami tidak sedang membuang anak. Kami hanya… merasa ada jalan yang sedang Allah tunjukkan, meski kami sendiri gemetar menjalaninya.
Hari-hari setelah itu semakin berat. Banyak keluarga mulai menjauh. Ada yang menyindirku tidak waras. Ada yang bilang aku terlalu percaya mimpi.
Aku hampir menyerah. Pernah suatu malam aku berkata pada Hasan sambil menangis keras.
“Aku nggak sanggup. Aku ibu kandungnya.” Hasan memelukku lama sekali.
“Kalau memang bukan jalan kita, Allah pasti mudahkan untuk batal. Tapi kalau ini memang takdir anak ini, Allah juga yang akan kuatkan.” Kalimat itu tidak membuatku tenang. Tapi cukup membuatku bertahan.
Lalu bulan kesepuluh datang. Dan bayi ini belum juga lahir. Tubuhku semakin lelah. Kakiku bengkak. Pinggangku seperti patah. Setiap malam aku duduk sendiri di ruang tengah ketika semua orang tidur.
Aku mulai belajar satu hal yang paling sulit dalam hidup seorang ibu: ikhlas. Bukan ikhlas kehilangan. Tapi ikhlas mencintai tanpa memiliki.
Suatu malam aku kembali bermimpi. Jalan desa itu lagi. Kabut lagi. Namun kali ini lelaki tua itu menoleh sedikit. Aku tetap tidak bisa melihat wajahnya, tapi suaranya terasa lebih lembut.
“Yang lahir dari rahimmu belum tentu milikmu. Kadang Allah hanya menitipkan.” Aku terbangun sambil menangis sesenggukan. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa takut.
***
Pagi harinya, Hasan menemani aku berjalan pelan ke rumah Kiai Soleh. Kami belum pernah benar-benar membicarakan ini kepada beliau sebelumnya. Kiai Soleh menerima kami dengan wajah tenang. Anak perempuannya duduk di sampingnya, matanya sembab bahkan sebelum kami bicara.
Aku gemetar.
“Saya cuma ingin bilang…” suaraku patah-patah, “kalau nanti bayi ini lahir… dan kalau memang Allah mengizinkan… saya ingin bayi ini punya dua ibu yang sama-sama mencintainya.”
Ruangan itu langsung dipenuhi tangis. Anak perempuan Kiai Soleh bersimpuh di kakiku sambil menangis histeris.
“Tidak ada yang bisa membalas hati panjenengan…” Aku ikut menangis sampai tubuhku bergetar.
Di situlah aku sadar, cinta seorang ibu ternyata tidak selalu berbentuk menggenggam. Kadang justru berbentuk melepaskan.
Kini aku masih menunggu kelahiran bayi ini. Setiap hari aku mengusap perutku sambil berbicara pelan.
“Nak, siapapun nanti yang membesarkanmu, ketahuilah… ibumu mencintaimu sejak sebelum dunia melihat wajahmu.” Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku bisa tersenyum sambil menangis.
Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary


















