
Penghalang yang Egois
Ia berdiri di tengah jalan orang lain,
bukan karena tersesat,
tapi karena ingin memiliki arah itu sendiri.
Ia tahu,
di balik langkah-langkah yang ia halangi
ada mimpi yang tumbuh pelan,
ada harapan yang dirawat diam-diam.
Namun baginya,
kebahagiaan adalah milik tunggal
bukan sesuatu yang bisa dibagi.
Ia menutup pintu,
bukan karena takut angin,
melainkan karena tak ingin orang lain
merasakan hangat yang sama.
Dan di sana,
ia tersenyum dalam sempitnya ruang,
memeluk kebahagiaan yang ia rampas,
tanpa sadar
bahwa kebahagiaan sejati
tak pernah tumbuh
di atas luka orang lain.
Kegundahan Adik
Kak,
aku tumbuh di bayang-bayang langkahmu
yang selalu lebih dulu sampai
pada tempat yang bahkan belum kupahami.
Namun entah sejak kapan,
tatapanmu tak lagi hangat
seperti rumah yang menolak pulang.
Aku hanya ingin bahagia, Kak,
sederhana saja,
tertawa tanpa merasa bersalah
atas cahaya yang mungkin tak kau punya.
Tapi kau berdiri di depanku,
menjadi tembok dari darah yang sama,
menahan setiap langkahku
seolah bahagiaku adalah pengkhianatan.
Jika harus memilih, Kak,
aku ingin tetap jadi adikmu
tanpa harus kehilangan diriku sendiri.
Waktu yang Tak Bisa Dihentikan
Waktu berjalan tanpa menoleh,
seperti sungai yang tak kenal lelah
mengalirkan kenangan ke laut yang tak bernama.
Namun ada seseorang
yang berdiri di tepi arus itu,
mencoba menahannya
dengan tangan yang penuh luka.
Ia memohon pada detik,
bernegosiasi pada menit,
berharap jam mau sedikit saja berhenti.
“Tunggu,” katanya lirih,
“aku belum siap kehilangan ini.”
Tapi waktu tak pernah punya hati,
ia hanya tahu satu arah:
maju,
tanpa peduli siapa yang tertinggal.
Dan orang itu
akhirnya belajar,
bahwa yang bisa dihentikan
bukanlah waktu,
melainkan keinginan untuk menolak kepergian.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















