
Tebuireng.online- Guna memperkuat peran organisasi sebagai penunjang pengembangan akademik dan pengabdian, Senat Mahasantri (SEMA) dan Dewan Eksekutif Mahasantri (DEMA) Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng menggelar pelantikan pengurus masa khidmat 2026–2027, Selasa (21/4/2026). Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Aula Lantai 1 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang.
Acara tersebut dihadiri oleh Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Dr. KH. Ahmad Roziqi, Lc., M.H.I., jajaran asatid, serta 68 pengurus yang resmi dilantik. Dalam sambutannya, Kiai Roziqi menegaskan bahwa SEMA dan DEMA memiliki posisi strategis sebagai bagian dari jamaah kubro untuk menyukseskan cita-cita keilmuan pesantren.
“Organisasi SEMA dan DEMA harus mampu menciptakan suasana khazanah keilmuan Islam di lingkungan mahasantri demi tercapainya tafaqquh fid din (pendalaman ilmu agama),” ujar Kiai Roziqi.
Beliau juga mengingatkan adanya tanggung jawab besar pasca-asesmen institusi. Oleh karena itu, diperlukan tekad kuat dan semangat kolaborasi antar-pengurus agar organisasi tidak kehilangan arah dalam menjalankan amanah.
Ketua SEMA terpilih, Ahmad Fahim Ichsanuddin, menekankan pentingnya solidaritas dalam menjalankan roda organisasi. Mengutip pesan Hadratussyaikh KH. M Hasyim Asy’ari, ia menyebut bahwa keberhasilan organisasi hanya dapat dicapai melalui sinergi dan kebersamaan, bukan kerja individu semata.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan DEMA, Very Ariansyah, menyampaikan bahwa DEMA tidak sekadar organisasi struktural, melainkan juga sebuah gerakan pemikiran. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai sunah harus menjadi landasan dalam setiap langkah organisasi sebagai bentuk tanggung jawab moral dan keikhlasan.
Dalam kesempatan yang sama, Rais Marhalah Tsaniah (M2), Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah, memberikan arahan mengenai filosofi ilmu. Menurutnya, ilmu tidak cukup hanya bersifat nafi’ (bermanfaat), tetapi harus mencapai tahap yuntafa’ (dimanfaatkan), yakni mampu memberikan dampak nyata melalui implementasi.
Ia juga menekankan prinsip penting bagi pengurus, yakni mendahulukan dirasah (belajar) sebelum munazzamah (berorganisasi). Keseimbangan antara belajar, berorganisasi, dan rekreasi dinilai menjadi kunci agar proses pendidikan berjalan secara sehat dan produktif.
Pewarta: Fatih Maulana
Editor: Sutan


















