
Persoalan sampah sungai tidak hanya berdampak pada lingkungan sekitar, melainkan juga berimbas pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Penurunan kualitas air sungai menyebabkan biaya pengolahan air bersih semakin meningkat, potensi wisata air menjadi berkurang, dan produktivitas pertanian di sekitar daerah aliran sungai pun ikut terganggu.
Sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki peranan vital dalam kehidupan manusia, mulai dari pemenuhan kebutuhan air bersih, irigasi pertanian, hingga sebagai ekosistem bagi berbagai makhluk hidup. Namun demikian, kondisi sungai di berbagai wilayah saat ini tengah menghadapi ancaman serius yang tidak bisa diabaikan begitu saja, yakni permasalahan sampah yang terus menumpuk dan mencemari aliran air.
Baca Juga: Limbah Rumah Tangga: Kebiasaan Kecil yang Berdampak Besar bagi Lingkungan
Fenomena pencemaran sungai akibat sampah bukanlah persoalan baru, tetapi hingga kini masih menjadi tantangan besar yang belum terselesaikan secara tuntas. Berbagai jenis limbah, baik sampah rumah tangga, plastik, maupun limbah industri, kerap dibuang langsung ke badan sungai tanpa melalui proses pengelolaan yang semestinya. Kondisi ini secara perlahan namun pasti merusak kualitas air, mengancam keberlangsungan ekosistem perairan, serta berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat yang bergantung pada sungai sebagai sumber kehidupan.
Lebih jauh lagi, persoalan sampah sungai tidak hanya berdampak pada lingkungan sekitar, melainkan juga berimbas pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Penurunan kualitas air sungai menyebabkan biaya pengolahan air bersih semakin meningkat, potensi wisata air menjadi berkurang, dan produktivitas pertanian di sekitar daerah aliran sungai pun ikut terganggu. Bahkan dalam skala yang lebih luas, sampah yang terbawa arus sungai dapat mencapai lautan dan memperparah krisis sampah plastik global yang sedang menjadi perhatian dunia.
Mengingat begitu kompleks dan luasnya dampak yang ditimbulkan, pengelolaan sampah sungai menjadi isu yang sangat mendesak untuk dikaji secara mendalam, diperlukan pendekatan yang menyeluruh dan terpadu, tidak hanya dari sisi teknis penanganan sampah, tetapi juga mencakup aspek kebijakan, kesadaran masyarakat, serta sinergi antara berbagai pihak terkait. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai pengelolaan sampah sungai dalam tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif sekaligus menawarkan solusi konkret dalam upaya menjaga kelestarian sungai sebagai warisan alam yang tak ternilai harganya.
Baca Juga: Revolusi Energi: Potensi Jombang Manfaatkan Limbah Tebu untuk Masa Depan Berkelanjutan
Dalam rangka mencegah dan menanggulangi penyebaran sampah di sungai, tentu saja dibutuhkan kesadaran dari masing-masing individu, terutama yang berdomisili di sekitar sungai. Karena dengan kesadaran masing-masing itu mungkin orang di sekitarnya akan ikut sadar terhadap lingkungan di sekitar sungai, contohnya anggota keluarga. Setiap keluarga di kesehariannya akan selalu memproduksi sampah, bisa berupa sampah organik, sampah anorganik, dan mungkin sampah B3. Jenis-jenis sampah ini untuk cara pemilahannya juga akan berbeda dengan cara memisahkannya terlebih dahulu, dan ditangani dengan metode masing-masing. Disini peran komunitas sangat dibutuhkan dalam edukasi penanganan sampah.
Adanya komunitas masyarakat yang peduli terhadap sampah akan berdampak positif terhadap lingkungan di sekitarnya. Pandawara adalah contoh komunitas yang terbentuk karena mempunyai kesadaran terhadap masalah-masalah lingkungan. Contoh aksi yang pernah dilakukan oleh Pandawara adalah gerakan bersih-bersih sungai dan pantai yang tercemar pada tahun 2022. Pembersihan di sungai dan pantai disebabkan karena kondisi pantai yang sangat kotor sampai dijuluki pantai terkotor se-Indonesia (Herlina, 2017). Pandawara tidak hanya melakukan aksi pembersihan sungai dan pantai, tetapi juga menyuarakan aksinya dengan membuat konten media sosial yang pada akhirnya menarik banyak perhatian masyarakat.
Dengan banyaknya atensi masyarakat yang juga mendukung tindakan Pandawara melalui media sosial, secara tidak langsung Pandawara telah mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap sampah terutama di lingkungan sungai. Konten-konten yang diunggah oleh Pandawara di media sosial telah mempengaruhi masyarakat terutama anak muda untuk menunjukkan rasa kepedulian mereka terhadap lingkugan dengan cara membuat komunitas mereka sendiri. Salah satu komunitas yang terinspirasi oleh Pandawara adalah komunitas Bumantara yang juga berfokus terhadap permasalahan sampah di lingkungan sungai. Bumantara adalah contoh kelompok orang-orang yang tergerak untuk membuat komunitas peduli sampah yang baru.
Baca Juga: Solusi Mengatasi Sampah dengan Prinsip Zero Waste
Pandawara dan Bumantara adalah contoh komunitas yang peduli terhadap lingkungan di sekitarnya terutama masalah sampah di sungai, walaupun sudah ada dua komunitas yang berhasil menjadi influencer peduli lingkungan bagi masyarakat Indonesia tetap masih ada beberapa oknum yang tidak peduli terhadap masalah lingkungan di sekitarnya terutama masalah sampah di sungai, inilah tantangan yang dihadapi oleh Pandawara dan Bumantara, khususnya masyarakat dan pemerintahan.
Pertama, kesadaran masyarakat. Masih banyak masyarakat yang belum sadar terhadap apa yang dia lakukan seperti membuang sampah sembarangan di sungai secara sengaja ataupun tidak sengaja yang menyebabkan sampah-sampah itu tersumbat di aliran sungai tersebut (Mardhanita et al., 2021). Kedua, pengelolaan sampah yang kurang efektif sehingga menyebabkan penumpukan sampah terutama yang tinggal di sekitaran sungai itu akan langsung membuangnya ke sungai. Ketiga, aktivitas wisata yang banyak terjadi di Indonesia, banyak pengunjung di wisata itu meninggalkan banyak sampah-sampah sehinga lingkunganya rusak terutama aktivitas wisata di sekitar sungai. Dalam sebuah penelitian disebutkan (Salsabilla et al., 2024), untuk solusi yang bisa diterapkan dalam pengelolaan sampah terutama di sungai itu belum ditemukan secara tepat dalam penanganannya, karena dari kesadaran masyarakat itu dulu yang kita perlukan agar semua solusi bisa kita terapkan.
Hal itu juga diungkapkan Ismaya (et al., 2023), bahwa salah satu solusi yang bisa kita terapkan adalah membuat bank sampah dengan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle), karena sampah-sampah yang sudah tidak terpakai akan bisa kembali digunakan, kemudian yang awalnya tidak bermanfaat menjadi sampah yang bermanfaat lagi, dan sampah-sampah yang sebelumnya menumpuk akan berkurang sedikit seiring berjalanya waktu. Solusi selanjutnya adalah dengan mengedukasi masyarakat setempat agar bisa lebih menjaga keseimbangan dan kebersihan lingkungan di sekitarnya khusunya area sekitar sungai.
Baca Juga: Disiplin Lingkungan sebagai Pendidikan Karakter Santri
Permasalahan sampah di sungai bersumber dari kombinasi perilaku individu, lemahnya sistem pengelolaan, dan rendahnya kesadaran kolektif masyarakat. Setiap orang perlu berkontribusi melalui kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan dan memilah sampah, namun upaya ini harus diperkuat oleh komunitas dan media sosial yang berperan mendorong perubahan secara lebih luas.
Tantangan yang masih dihadapi meliputi kebiasaan lama yang sulit diubah, rendahnya kesadaran sebagian warga, dan infrastruktur pengelolaan sampah yang belum memadai. Untuk itu, diperlukan solusi terpadu melalui penerapan prinsip 3R, edukasi lingkungan, dan sistem pengelolaan yang efektif. Kebersihan sungai adalah tanggung jawab bersama antara individu, komunitas, dan pemerintah, karena perubahan kecil yang dimulai hari ini akan menentukan kondisi lingkungan di masa depan.
Daftar Pustaka
Herlina, N. (2017). Permasalahan Lingkungan Hidup dan Penegakan Hukum Lingkungan Di Indonesia. Jurnal Ilmiah Galuh Justisi, 3(2), 162. https://doi.org/10.25157/jigj.v3i2.93
Ismaya, B., Bakti, I., & suparni, S. (2023). 222-Article Text-741-1-10-20231203. 370–381.
Mardhanita, D. C., Hilman, A., Ferdian, M., Fadhilah, N., & Fath, A. (2021, December). Sosialisasi Pengelolaan Sampah Plastik sebagai Upaya Mengurangi Kebiasaan Membuang Sampah ke Sungai di Kampung Cilaku. https://proceedings.uinsgd.ac.id/index.php/Proceedings
Salsabilla, D., Aftaviani, Y., & Erita, Z. (2024). Copyright
Penulis: Naufal Fathir Rajifa (Mahasiswa Ilmu Lingkungan, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Raden Mas Said Surakarta)
Editor: Rara Zarary


















