
“Bu, kenapa ketupatnya harus dianyam seperti ini?” tanya gadis kecil itu sambil memutar-mutar janur di tangannya.
Ibunya tersenyum, tangannya cekatan menyelipkan helai janur hingga membentuk kotak kecil. “Supaya rapi dan kuat, Nak. Kalau anyamannya benar, beras di dalamnya juga akan matang dengan baik.”
“Kalau yang ini bentuknya lucu, Bu. Kok seperti masjid, ada juga seperti kuda?”
“Itu namanya kupat masjid, dan kupat kuda-kudaan,” jawab sang ibu sambil tertawa pelan. “Dulu nenekmu juga mengajarkan Ibu membuatnya. Nanti kalau kamu sudah besar, kamu juga harus bisa membuatnya. Biar tradisi kita tidak hilang.”
Gadis kecil itu mengangguk penuh semangat. Di hadapannya sudah berjejer beberapa bentuk ketupat: kupat kuda-kudaan, kupat layangan, kupat masjid, dan beberapa bentuk lain yang belum sempurna. Di teras rumah sederhana mereka, angin sore membawa aroma janur yang segar.
“Ibu, kalau aku besar nanti, aku juga mau mengajarkan anak-anakku membuat kupat seperti ini.”
Ibunya menatapnya dengan mata yang hangat. “Iya, Nak. Tapi ingat satu hal.”
“Apa, Bu?”
“Ketupat itu bukan cuma makanan. Di dalamnya ada kebersamaan, ada doa, ada berbagi.”
***
Bertahun-tahun telah berlalu sejak percakapan itu. Kini gadis kecil itu sudah menjadi seorang ibu. Namanya Sinta. Ia tinggal di kota kecil bersama suaminya dan tiga orang anaknya. Hidupnya tidak selalu mudah, tetapi cukup untuk membuat mereka tersenyum setiap hari.
Namun ada satu hal yang tak pernah benar-benar bisa ia terima: ibunya telah lama wafat.
Setiap kali Lebaran datang, ada ruang kosong di hatinya yang tidak bisa digantikan siapa pun. Tidak ada lagi suara lembut yang memanggilnya dari dapur. Tidak ada lagi tangan yang mengajarinya merapikan anyaman janur.
Pagi itu, beberapa hari setelah Idul Fitri, Sinta berdiri di dapur sambil memegang setumpuk janur muda. Hari itu adalah hari yang selalu ia tunggu sekaligus ia rindukan: Raya Kupat.
Di kampungnya, tradisi itu selalu dirayakan dengan penuh kegembiraan. Orang-orang membuat berbagai macam ketupat, lalu membagikannya kepada tetangga, kerabat, dan siapa saja yang datang.
Anak sulungnya mendekat. “Ibu, kita mau buat ketupat ya?”
Sinta tersenyum. “Iya. Mau belajar?”
“Tentu!” jawab anaknya dengan mata berbinar.
Sinta mulai menganyam janur dengan perlahan. Tangannya bergerak hampir tanpa berpikir, seperti mengikuti memori yang telah tertanam sejak lama.
Di benaknya, wajah ibunya kembali hadir.
“Ibu Widarsih,” gumamnya pelan, sambil membentuk kupat kuda-kudaan, kupat masjid dan beberapa jenis lainnya yang sudah pernah ibunya ajarkan.
Ibunya selalu sabar ketika mengajarkan anyaman. Bahkan ketika Sinta berkali-kali salah memasukkan janur, ibunya tidak pernah marah.
“Ibu dulu bilang, kalau anyaman ketupat itu seperti hidup,” katanya kepada anak-anaknya.
“Harus sabar, harus teliti. Kalau salah satu bagian ditarik terlalu keras, bentuknya bisa rusak.”
Anak keduanya mengangkat ketupat kecil yang belum sempurna.
“Ibu, ini bentuknya aneh,” katanya sambil tertawa.
Sinta ikut tertawa. “Tidak apa-apa. Nanti juga bisa diperbaiki.”
Tak terasa, dapur mereka mulai dipenuhi berbagai bentuk ketupat. Ada kupat biasa, kupat kuda-kudaan, kupat layangan, bahkan kupat masjid yang dulu sering dibuat ibunya.
Sinta memandang semua itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia ingat betul kalimat yang sering ia dengar dari orang-orang di kampungnya.
“Kalau ingin membahagiakan orang yang sudah wafat, salah satunya dengan sedekah.”
Kalimat itu selalu terngiang setiap kali ia merindukan ibunya. Maka tahun ini, ia memutuskan sesuatu.
“Ibu,” kata anak bungsunya, “ketupatnya banyak sekali.”
Sinta mengangguk. “Iya. Kita mau berbagi.”
“Ke siapa?”
“Ke banyak orang.”
Siang itu, dapur mereka menjadi seperti pusat kegiatan kecil. Sinta dan anak-anaknya membungkus ketupat bersama lauk sederhana: opor ayam, sambal goreng, dan sayur labu.
Suaminya membantu menyiapkan kotak-kotak makanan.
“Banyak sekali yang kamu buat,” kata suaminya sambil tersenyum.
Sinta menghela napas pelan.
“Aku ingin bersedekah atas nama Ibu, mas” katanya. “Ibu Widarsih.”
Suaminya mengangguk mengerti.
***
Sore harinya, mereka mulai membagikan ketupat ke tetangga sekitar. Beberapa orang tampak terkejut sekaligus senang menerima paket kecil itu.
“Untuk Raya Kupat,” kata Sinta.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah panti asuhan di pinggir kota.
Anak-anak di panti itu menyambut mereka dengan riang. Ketika kotak-kotak ketupat dibagikan, wajah-wajah kecil itu bersinar penuh kebahagiaan.
Salah satu anak kecil memegang kotak makanan itu dengan hati-hati.
“Terima kasih, Bu,” katanya.
Sinta hanya tersenyum, tetapi di dalam hatinya ada gelombang haru yang sulit dijelaskan.
Di sudut halaman panti, ia memandang langit yang mulai jingga.
“Ibu,” bisiknya pelan, “semoga ini sampai padamu.”
Ia tidak tahu bagaimana cara doa dan sedekah sampai kepada orang yang sudah wafat. Tetapi ia percaya, setiap kebaikan yang dilakukan dengan niat tulus akan menemukan jalannya sendiri.
Angin sore bertiup lembut, membawa aroma tanah yang hangat.
Untuk sesaat, Sinta merasa seolah ibunya berdiri di sampingnya seperti dulu, tersenyum sambil memegang anyaman janur.
“Ibu,” gumamnya lagi.
Anak sulungnya tiba-tiba menarik tangannya.
“Ibu, mereka senang sekali,” katanya sambil menunjuk anak-anak panti yang sedang makan bersama. Sinta mengangguk.
Di hatinya, ia merasakan sesuatu yang hangat—sejenis kedamaian yang selama ini ia cari.
Ia teringat kembali suara ibunya dari masa lalu.
“Ketupat itu bukan cuma makanan. Di dalamnya ada kebersamaan, ada doa, ada berbagi.”
Hari itu, Sinta akhirnya benar-benar mengerti makna kata-kata itu.
Ketupat yang ia buat bukan hanya tentang tradisi. Bukan hanya tentang kenangan masa kecil.
Ia adalah jembatan kecil yang menghubungkan cinta antara yang masih hidup dan yang telah pergi.
Dan selama ia terus berbagi, selama itu pula kenangan tentang ibunya tidak akan pernah benar-benar hilang. Di antara tawa anak-anak panti dan aroma ketupat yang masih hangat, Sinta tersenyum.
Hari Raya Kupat tahun ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, ia merasa begitu dekat dengan ibunya lagi.
Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary


















