Eksplorasi Makna “Syukur” sebagai Perilaku Dehumanisasi Psikologis

74
ilustrasi orang bersyukur (sumber: theasianparent)
Syukur mampu memberikan manfaat yang tercermin melalui ucapan, tindakan dan pengendalian batin. Pada akhirnya kondisi ini menimbulkan kesejahteraan mental serta mampu menabirkan diri dari segala kedinamisan zaman.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambahkan (nikmat) kepadamu.” QS. Ibrahim ayat 7. Sepintas ayat ini mengandung pesan yang amat dalam baik dari dimensi spiritual maupun notif bagi diri. Dimana dalam dimensi spiritual ayat ini berusaha membuka ruang batin untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan.

Di lain sisi, kita sebagai manusia yang tabiatnya sering merasa kurang terhadap apa yang dimiliki, merasa menderita atau membandingkan diri dengan orang lain. Dengan adanya ayat ini kita diajak untuk lebih menumbuhkan rasa sadar akan setiap nikmat sebagai bentuk karunia Allah yang patut diakui dan disyukuri.

Baca Juga: Banyak Bersyukur kepada Allah

Dalam perspektif Imam al-Ghazali, pada dasarnya syukur ialah sebuah cara sederhana dalam menerima segala bentuk takdir. Selain itu dengan bersyukur kita mampu untuk mengelola batin dari hal-hal yang bersifat keserakahan, bertindak sesuai batasan, dan meminimalisir gangguan mental yang berkontribusi  menimbulkan kecemasan, perbandingan diri, menyalahkan takdir, atau merasa kurang padahal dari segi materialis sepatutnya disyukuri.

Menurut kacamata psikologis mengungkapkan ketenangan jiwa tak selamanya bergantung pada aspek materialis dan sa’adah. Ia lahir dari kepuasan untuk selalu mensyukuri serta mampu menerima diri secara natural. Hal ini diafirmasi ulang oleh Martin Seligman mengenai self acceptance mampu diraih di sela-sela rasa syukur yang diakui. Baginya rasa syukur merupakan sebuah tindakan untuk mengakui, mengapresiasi segala aspek kehidupan, baik itu kelebihan maupun kekurangan yang diakui sebagai bentuk anugrah yang tak ternilai.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Oleh karnanya praktik psikologis yang dibalut dengan bersyukur ini merupakan tahapan penting dalam menjaga kestabilitas dan kesejahteraan mental. Sebab dengan menanamkan rasa syukur, kita tidak hanya merefleksikan ungkapan terima kasih atas kebesaran nikmat yang diberikan Tuhan, melainkan siasat untuk menumbuhkan self love pada diri, menemukan arti dari sebuah pemberian dan menyikapi segala pola kehidupan dengan rasa cukup.

Bila disikapi secara tekstual syukur mampu memberikan manfaat yang tercermin melalui ucapan, tindakan dan pengendalian batin. Pada akhirnya kondisi ini menimbulkan kesejahteraan mental serta mampu menabirkan diri dari segala kedinamisan zaman. Namun pertanyaan penting muncul, secara tekstual apakah sikap bersyukur sungguh menjadi jalan untuk menghadirkan ketenangan psikologis atau justru menjadi cara halus untuk melakukan dehumanisasi pada seseorang.

Baca Juga: Cerdas Spiritual dan Pandai Syukur itu Didapat Melalui Puasa

Dehumanisasi ialah sebuah praktik psikologis yang mengabaikan hak dan merendahkah sisi kemanusiaan seseorang. Sikap ini mencermin adanya disfungsi perilaku yang melihat manusia sebagai objek produksivitas: kesenangan, keuntungan, tanpa memperdulikan kondisi mental dan fisiologisnya. Manipulasi dan eksploitasi masuk dalam ranah dehumanisasi.

Psikologis modern mengajak kita untuk melihat sudut pandang lain dalam memahami rasa syukur dan interkoneksinya dengan fenomena dehumanisasi. Syukur ialah esensi dari nilai moral positif. Namun dalam arus dehumanisasi, konsep syukur telah mengalami pergeseran makna. Ia diibaratkan sebagai alat yang berupaya untuk mengendalikan situasi mental: emosi, pola pikir, ketimpangan, dan pemaksaan. Beragam situasi ini mencerminkan adanya dorongan untuk tetap bertahan dan menerima keadaan secara pasrah. Di balut dengan makna yang mendalam “bersyukur-lah” maka seketika makna tersebut beralih menjadi racun yang memodifikasi mental.

Dalam psikologi positif, konsep bersyukur telah diadopsi menjadi sebuah struktur yang memiliki sisi gelap objektif. Hal ini didasari oleh teknik hubungan interpersonal yang  mengoneksikan perilaku kekerasan dan bersyukur. Contoh utama adalah perilaku kekerasan yang dapat menimbulkan efek dopamin pada korban. Seakan memberikan kebahagian yang semestinya disyukur, namun nyatanya ini berupa kekerasan yang dibungkus rapi. Inisiasi ini yang kedepannya dapat menimbulkan sikap kepatuhan serta ketundukan pada korban.

Di lain sisi, kondisi ini tak sewajarnya dipandang sebagai sikap yang semestinya disyukuri. Memiliki hubungan dengan seseorang yang tabiatnya ringan tangan, tentu menimbulkan rasa takut dan trauma yang mendalam.

Baik hubungan interpersonal maupun hubungan kerja tentunya meninggalkan jejak eksploitatif. Bagi Karl Marx dunia kerja sering kali menggambarkan relasi yang tidak seimbang. Adanya pihak otoritas sang pemegang kuasa dan ada pula kaum proletar “pekerja” yang menawarkan tenaga untuk memperoleh upah demi kelangsungan hidup.

Baca Juga: Indahnya Kehidupan Ini, Andai Kita Mensyukurinya

Dalam situasi ini,  kaum proletar cenderung di tempatkan sebagai pihak yang lebih lemah. Kewajiban bekerja keras demi memenuhi target ego rasanya tak mampu mereka hindari. Belum lagi dibalik tuntutan yang begitu keras, lazimnya tidak sebanding dengan upah yang mereka terima.

Disinilah ungkapan “syukur” mulai memainkan perannya. Ia hadir sebagai tabir yang menutupi jejak ekploitasi. Rasa lelah, jam kerja yang tak menentu,  lidah yang membisu, seolah tak mampu memprotes upah yang  diperoleh. Namun dibalik semua itu ada bisikan yang terus diulang: “bersyukur aja, karna kita masih diberikan rezeki untuk makan” atau “banyak orang di luaran sana ingin berada di posisi kita sekarang”.

Narasi seperti ini cenderung dicap sebagai pesan motivasi dan dianggap normal. Padahal dalam situasi tertentu, narasi ini merupakan kiasan untuk memprovokasi cara seseorang memandang kondisinya sendiri.

Alih-alih melihat kesenjangan yang terjadi, justru mereka digiring untuk merasa bersalah ketika hendak menuntut hak yang semestinya dikatakan wajar. Kekhawatiran dianggap tidak bersyukur, telah menjadi buah ancaman psikologis untuk tetap patuh dan bersyukur.

Psikologi Islam pada permasalahan ini mencoba mengingatkan kita bahwa bersyukur merupakan instrumen spiritual serta psikologis yang menjadi landasan utama untuk membentuk kepribadian superior di tengah dehumanisasi yang terjadi. Bukan justru menjadi Guilt Tripping untuk menanamkan rasa bersalah pada seseorang.

Baca Juga: Dahsyatnya Bersyukur dan Berterima Kasih

Jika gagasan ini dikoneksikan dengan fenomena dehumanisasi. Rasanya makna bersyukur tidak lagi hadir sebagai ajaran murni teologis. Ia menjelma sebagai praktik perbudakan yang poles halus dengan doktrin agama. Ketika rasa syukur dipahami secara dangkal, ia dengan mudah dijadikan sebagai ruang aksi dehumanisasi. Namun jika dipahami secara konseptual yang utuh, makna syukur tidak akan mengalami kejanggalan. Justru sebaliknya menjaga diri dari praktik tersebut.

Disanalah jawaban dari eksplorasi makna syukur itu ditemukan: Ia tidak lagi dipahami dalam ruang sempit atau sekedar ajakan menerima kondisi. Tapi bagaimana ia mampu menjadi ruang terbuka untuk melihat keadaan lebih waras dan sadar. Dengan pemaknaan seperti ini, perayaan diri atas nikmat Tuhan tidak lagi menjauhkan manusia dari makna esensialnya. Sebaliknya ia akan menuntun pada kematangan iman dan kedewasaan batin yang menjadi citra relasi dirinya dengan Tuhan.



Penulis: Muhammad Ibnal Randhi

Editor: Rara Zarary