
“Ya Allah… sebenarnya aku ini kenapa?” Alya masih duduk di atas sajadah setelah salat malam. Tangannya terangkat, tetapi doanya terasa berat untuk keluar. Ada banyak hal yang ingin ia sampaikan, tetapi semuanya seperti saling menumpuk di dadanya.
“Kenapa rasanya hidupku selalu penuh pertanyaan?”
Ia menunduk.
“Ya Allah… emang aku hidup ini cuma buat menuruti kata orang lain?”
Suara itu pelan, hampir seperti bisikan.
“Kalau aku tidak menuruti mereka, aku takut ditinggalkan. Tapi kalau aku terus menuruti mereka… aku capek sendiri.”
Alya menutup matanya sejenak.
“Kenapa rasanya aku yang selalu menyesuaikan diri? Aku yang selalu berusaha mengerti orang lain… tapi kok tetap saja aku yang merasa sendirian?”
Air matanya turun perlahan.
“Ya Allah… apa aku memang tidak penting?”
Kamar itu kembali sunyi. Alya menurunkan tangannya dari doa. Ia masih duduk di atas sajadah cukup lama, mencoba menenangkan pikirannya yang sejak tadi penuh dengan pertanyaan.
Sejak kecil Alya dikenal sebagai anak yang penurut. Ia tidak pernah suka membuat keributan, tidak suka membantah, dan selalu berusaha melakukan apa yang dianggap benar oleh orang-orang di sekitarnya. Orang tuanya sering memuji sikapnya yang tenang. Guru-gurunya menyebutnya anak yang baik.
Tetapi semakin bertambah usia, Alya mulai menyadari sesuatu.
Menjadi anak yang selalu berusaha baik tidak selalu membuat hidup terasa mudah.
Di rumah, ia sering memilih diam ketika ada perbedaan pendapat. Ia takut jika suaranya dianggap melawan. Dalam banyak kesempatan, Alya menelan kata-kata yang sebenarnya ingin ia sampaikan. Ia berpikir diam adalah cara paling aman agar rumah tetap tenang.
Namun suatu hari, ada sesuatu yang akhirnya membuatnya tidak lagi mampu menahan semuanya.
Malam itu suasana rumah sebenarnya biasa saja. Percakapan kecil di ruang makan berubah menjadi pembicaraan yang membuat Alya merasa kembali disalahpahami. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia memberanikan diri bersuara.
Dengan suara keras, ia mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan selama ini. Ia membentak, dan menyalahkan siapa pun. Karna Ia hanya ingin didengar.
Tetapi yang ia terima justru bukan pengertian.
Suara orang tuanya meninggi. Kata-kata yang keluar terdengar seperti kemarahan yang selama ini tertahan. Mereka menganggap Alya membantah. Menganggap Alya tidak tahu diri.
Percakapan itu tidak berlangsung lama.
Tetapi setelah malam itu, suasana rumah berubah.
Tidak ada lagi pertengkaran, tetapi juga tidak ada lagi percakapan.
Hari-hari berikutnya terasa sangat aneh bagi Alya.
Ia masih tinggal di rumah yang sama. Ia masih makan di meja yang sama. Ia masih berjalan melewati ruang yang sama setiap hari.
Namun rasanya seperti tidak benar-benar ada di sana.
Orang tuanya tidak lagi mengajaknya berbicara seperti biasa. Jika Alya berada di ruang yang sama, mereka lebih banyak diam. Jika ada hal yang perlu disampaikan, sering kali hanya lewat kalimat singkat yang terdengar datar.
Beberapa hari itu Alya merasa seperti bayangan di rumahnya sendiri.
Ia ada, tetapi seolah tidak dianggap.
Ia berjalan dari kamar ke dapur, dari dapur ke ruang tamu, tetapi tidak ada percakapan yang benar-benar terjadi.
Di saat-saat seperti itu Alya sering bertanya dalam hati.
Apakah bersuara memang sebuah kesalahan?
Malam ini semua kenangan itu kembali teringat ketika ia duduk di atas sajadah.
“Ya Allah… apa salahku hanya karena aku ingin didengar?”
Ia kembali berbisik dalam doa.
“Aku tidak marah, aku tidak ingin melawan. Aku hanya ingin mereka tahu apa yang aku rasakan.”
Alya menunduk.
“Tapi kenapa akhirnya aku justru merasa semakin jauh dari mereka?”
Air matanya jatuh lagi.
Di luar rumah, hidup sebenarnya tetap berjalan seperti biasa. Alya masih menjalani rutinitasnya. Ia masih bertemu orang-orang lain, masih berbicara dengan teman-temannya, dan masih mencoba menjalani hari seperti tidak terjadi apa-apa.
Tetapi setiap kali ia pulang ke rumah, ada perasaan kosong yang sulit dijelaskan.
Rumah yang dulu terasa aman kini terasa sunyi dengan cara yang berbeda.
“Ya Allah… orang yang bilang aku belum selesai dengan diriku sendiri itu benar atau tidak?”
Ia kembali bertanya dalam doa.
“Kadang ada juga orang yang bilang aku kuat. Katanya aku sabar menghadapi hidup.”
Alya menghela napas panjang.
“Kenapa penilaian manusia selalu berbeda-beda?”
Ia menatap sajadah di depannya.
“Apakah aku harus mengikuti semua penilaian itu?”
Beberapa saat kemudian Alya kembali mengingat sesuatu yang lain.
Selama ini ia tidak pernah benar-benar berhenti berdoa. Dalam keadaan bingung seperti sekarang pun, ia tetap datang kepada Tuhan.
Tetapi kadang ia merasa jawabannya tidak kunjung datang.
“Ya Allah… aku sudah sering berdoa.”
Tangannya kembali terangkat.
“Tapi kok rasanya doaku belum dikabulkan?”
Ia memejamkan mata.
“Apakah memang belum waktunya?”
Lalu sebuah pikiran lain muncul.
“Ya Allah… atau sebenarnya ada doaku yang sudah Engkau kabulkan… tapi aku tidak sadar?”
Alya membuka matanya perlahan.
Ia melihat sekeliling kamar kecilnya.
Ia masih hidup. Ia masih memiliki kesempatan menjalani hari esok.
Dadanya terasa sedikit lebih ringan.
“Ya Allah… jangan-jangan aku yang kurang bersyukur.”
Kalimat itu keluar dengan suara sangat pelan.
Malam semakin larut. Alya akhirnya berdiri dari sajadahnya. Ia merapikan mukena lalu duduk di tepi tempat tidur.
Masalah dalam hidupnya belum selesai. Hubungannya dengan orang tuanya juga belum kembali seperti dulu.
Tetapi malam itu ia mulai memahami satu hal kecil.
Kadang keberanian untuk bersuara memang tidak selalu langsung membawa pengertian. Kadang justru menghadirkan jarak yang tidak kita harapkan.
Namun itu tidak berarti suara kita tidak berharga.
Sebelum mematikan lampu kamar, Alya sempat berbisik lagi.
“Ya Allah… kalau aku memang belum selesai dengan diriku sendiri, tolong ajari aku bagaimana cara memahaminya.”
Ia menarik napas panjang.
“Dan kalau sebenarnya Engkau sudah menjawab doaku… bukakan hatiku agar aku bisa melihatnya.”
Malam tetap sunyi.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alya merasa sedikit lebih siap menghadapi hari-hari yang masih penuh pertanyaan.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















