
Dalam situasi seperti itu, santri tidak hanya belajar menahan rindu, tetapi juga belajar membangun ketahanan diri. Hidup jauh dari keluarga, menghadapi hari raya tanpa pelukan orang tua, dan tetap menjalankan tanggung jawab di pondok menuntut kemampuan untuk mengelola emosi dengan lebih matang.
Bagi banyak orang, lebaran identik dengan perjalanan pulang. Jalan-jalan dipadati kendaraan, stasiun dan terminal dipenuhi perantau yang membawa koper, dan rumah-rumah kembali ramai oleh pertemuan keluarga. Idulfitri selalu menghadirkan satu kata yang terasa hangat di hati, pulang. Namun tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk merasakan momen itu. Di lingkungan pesantren, selalu ada sebagian santri yang tetap tinggal ketika yang lain pulang ke kampung halaman. Mereka dikenal dengan istilah sederhana, santri yang jaga pondok.
Baca Juga: Hal-hal yang Perlu Diperhatikan saat Arus Balik Mudik Lebaran
Ketika hari-hari menjelang lebaran tiba, suasana pesantren biasanya berubah. Asrama yang sebelumnya ramai perlahan menjadi lengang. Teman-teman satu kamar mulai berpamitan, sebagian membawa tas besar berisi pakaian dan oleh-oleh untuk keluarga. Percakapan yang biasanya dipenuhi candaan berganti dengan ucapan selamat jalan dan pesan untuk saling menjaga diri.
Di tengah suasana itu, ada santri yang tetap tinggal. Keputusan untuk tidak pulang bisa dilatarbelakangi banyak hal. Ada yang karena jarak rumah yang terlalu jauh, ada yang karena pertimbangan biaya perjalanan, dan ada pula yang memang mendapat amanah untuk menjaga pesantren selama masa liburan. Apa pun alasannya, keputusan itu sering kali tidak sepenuhnya mudah.
Rasa rindu tentu hadir, terlebih ketika malam takbiran mulai berkumandang dari masjid dan musala. Takbir selalu mengingatkan pada kenangan lebaran di rumah. Berkumpul dengan keluarga, mencicipi hidangan khas Idulfitri, dan bersalaman dengan orang tua setelah salat Ied. Kenangan-kenangan itu datang diam-diam, menyusup di sela kesunyian asrama yang tidak lagi seramai biasanya.
Dalam situasi seperti itu, santri tidak hanya belajar menahan rindu, tetapi juga belajar membangun ketahanan diri. Hidup jauh dari keluarga, menghadapi hari raya tanpa pelukan orang tua, dan tetap menjalankan tanggung jawab di pondok menuntut kemampuan untuk mengelola emosi dengan lebih matang. Pengalaman ini secara perlahan membentuk resiliensi, kemampuan untuk tetap teguh dalam situasi yang tidak selalu nyaman. Pembelajaran bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan pribadi. Maka bagi sebagian santri, momen jaga pondok ini justru menjadi ruang refleksi yang jarang didapatkan dalam keramaian aktivitas belajar sehari-hari.
Baca Juga: Lebaran Kali Ini Berbeda
Di sisi lain, pengalaman ini juga membuka ruang untuk melihat kembali makna khidmah di pesantren. Khidmah sering kali dipahami sebagai bentuk pengabdian kepada kiai, guru, atau lembaga tempat menuntut ilmu. Namun dalam praktiknya, khidmah juga hadir dalam tindakan-tindakan sederhana. Menjaga lingkungan pondok aman dan tertib, merawat fasilitas bersama, atau memastikan kegiatan / rutinan pesantren tetap berjalan meskipun dalam skala yang lebih kecil. Dari pengalaman ini, santri belajar bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam peristiwa besar, melainkan dalam kesediaan untuk melakukan hal-hal kecil dengan penuh tanggung jawab.
Menariknya, suasana Lebaran di pondok yang lebih sepi sering kali menghadirkan kedekatan yang berbeda. Santri yang tinggal biasanya menjadi lebih akrab satu sama lain. Mereka berbagi cerita, menyiapkan makanan bersama, atau merayakan malam takbiran dengan cara yang lebih tenang. Dalam kesederhanaan itu, rasa kekeluargaan justru terasa lebih hangat.
Pengalaman ini juga mengingatkan bahwa makna rumah tidak selalu terbatas pada tempat kita dilahirkan. Rumah bisa hadir di ruang-ruang yang dipenuhi kenangan, di tempat kita belajar, bertumbuh, dan membangun relasi dengan banyak orang. Bagi sebagian santri, pesantren perlahan menjadi bagian dari rumah itu.
Baca Juga: Sebab Akibat Perilaku Konsumtif saat Lebaran
Pada akhirnya, kisah santri yang tidak pulang saat lebaran adalah cerita tentang dua perasaan yang berjalan berdampingan, rindu dan amanah. Rindu kepada keluarga yang jauh di kampung halaman, dan amanah untuk menjaga tempat yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup. Di antara dua perasaan itu, santri belajar satu hal penting, bahwa kadang-kadang, bentuk pengabdian yang paling sederhana adalah tetap tinggal ketika yang lain pulang.
Penulis: Desi Fajar Permatasari
Editor: Rara Zarary


















