
Namaku Rania. Aku dan kakakku, Nadira, adalah mahasiswa di sebuah kampus ternama di kota. Setiap tahun menjelang Idul Fitri kami selalu pulang ke kampung halaman. Mudik sudah menjadi kebiasaan yang kami tunggu-tunggu, bukan hanya karena rindu pada rumah, tetapi juga karena perjalanan panjang itu selalu menyimpan cerita.
Tahun itu kami memutuskan pulang naik sepeda motor. Perjalanan sekitar sepuluh jam terasa menantang, tetapi kami percaya diri bisa menjalaninya. Kami masih muda, dan perjalanan seperti itu terasa seperti petualangan kecil sebelum kembali ke rumah.
Kami berangkat siang hari karena pagi harinya aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan kampus. Ketika motor akhirnya melaju meninggalkan kota, jalan raya sudah penuh oleh kendaraan pemudik. Mobil dan bus berjejer panjang, klakson bersahutan, dan udara terasa panas oleh asap kendaraan.
Menjelang sore, Nadira mulai terlihat lelah menghadapi kemacetan yang tidak ada habisnya.
“Kalau begini terus kita bisa sampai tengah malam,” keluhnya. Aku membuka peta di ponsel dan menemukan jalur lain.
“Ini ada jalan alternatif,” kataku. “Kelihatannya lebih sepi.” Nadira melirik layar sebentar lalu mengangguk.
“Ya sudah kita coba saja. Daripada terjebak macet.” Kami pun berbelok meninggalkan jalan raya. Awalnya jalan itu terasa menyenangkan. Sepi, udara lebih sejuk, dan hamparan sawah terbentang luas di kanan kiri.
Namun semakin jauh kami masuk, jalanan mulai berubah. Aspalnya semakin sempit dan perlahan menanjak. Sawah-sawah berubah menjadi terasering yang mengikuti lereng perbukitan.
Aku mulai merasa aneh. “Mbak… ini kok naik terus ya?” tanyaku.
Nadira memperlambat motor dan melihat ponselnya. “Iya juga… padahal arah kampung kita bukan ke gunung.”
“Tapi maps masih lurus?”
“Iya, masih lurus.”
Kami akhirnya tetap melanjutkan perjalanan.
Ketika maghrib hampir tiba, langit mulai gelap dan gunung besar terlihat berdiri di depan kami. Angin bertiup lebih dingin dari sebelumnya.
Lalu tanpa peringatan, hujan turun sangat deras. Air jatuh begitu tiba-tiba hingga jalan langsung basah dalam hitungan detik.
“Ya Allah!” aku berteriak kecil.
Nadira segera menepikan motor di pinggir jalan yang sedikit lebih lebar.
“Hujannya deras banget,” katanya.
Kami buru-buru membuka tas untuk mengambil jas hujan. Angin meniup air hujan ke wajah kami sementara kami mencoba mengenakannya.
Tanganku sedikit gemetar saat memasang jas hujan.
“Mbak…” suaraku mulai bergetar.
“Iya?”
“Aku ingat ibu.”
Nadira berhenti sebentar dan menatapku.
“Ingat apa?”
Aku menunduk, menahan perasaan yang tiba-tiba muncul.
“Ibu selalu bilang… kalau capek waktu mudik, istirahat saja. Kalau hujan, neduh dulu.”
Hujan semakin keras, suara air menghantam jalan seperti ribuan butir kerikil.
“Tapi kita malah lanjut,” kataku pelan.
Aku merasakan mataku mulai panas.
“Aku takut, Mbak.”
Nadira menatapku cukup lama. Wajahnya juga terlihat lelah, tetapi ia mencoba tersenyum.
“Ran, kita cuma kehujanan di jalan. Nggak apa-apa.”
“Tapi jalannya juga aneh…”
Ia menarik napas panjang.
“Kalau kita berhenti di sini juga nggak ada tempat berteduh.”
Aku menoleh ke kanan kiri. Benar, hanya ada sawah dan bukit yang gelap.
Nadira menepuk bahuku pelan.
“Kita pelan-pelan saja, ya. Kalau ada rumah atau warung kita berhenti.”
Aku mengangguk walau perasaan tidak tenang masih ada.
Motor kembali melaju.
Petir menyambar langit, cahayanya menerangi sawah bertingkat yang terlihat seperti tangga panjang di tengah perbukitan. Suara guntur menggelegar keras hingga terasa di dada.
Jalan semakin gelap. Lampu motor kami menjadi satu-satunya penerang.
Beberapa kali maps di ponsel kehilangan sinyal. Kami tetap melanjutkan perjalanan dengan harapan segera menemukan kampung.
Sesekali terlihat rumah warga di kejauhan, tetapi jaraknya sangat jarang. Ada satu kampung kecil yang kami lewati, tetapi suasananya terasa sangat aneh. Semua rumah gelap dan tidak ada satu pun orang terlihat.
“Sepi banget,” gumamku.
“Mungkin mati lampu,” kata Nadira.
Perjalanan terus berlanjut. Hujan belum berhenti, dan suasana semakin sunyi.
Di tengah perjalanan itu aku mulai mencium sesuatu yang tidak biasa.
Aroma menyan. “Mbak…” bisikku.
“Iya?”
“Kamu nyium bau itu?”
Nadira terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan. “Iya.”
Kami tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu.
Sekitar dua jam kemudian, kami akhirnya melihat cahaya lampu dari sebuah desa kecil.
“Alhamdulillah… ada kampung,” kataku lega.
Kami memasuki desa itu, tetapi suasananya terasa aneh. Lampu rumah memang menyala, namun jalanan kosong tanpa satu pun orang. Padahal waktu baru sekitar pukul delapan malam.
Di ujung jalan kami menemukan sebuah mushollah tua yang terlihat rapuh dimakan usia. Kayu-kayunya berlubang dan catnya hampir hilang.
Kami memutuskan berhenti di sana untuk berteduh.
Hujan masih turun di luar, sementara kami duduk di dalam mushollah dengan tubuh yang sangat lelah. Tidak lama kemudian kami tertidur.
Ketika pagi datang dan kami terbangun, desa itu sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya hutan gunung yang sunyi dan motor kami yang berdiri sendirian di tanah lapang.
Seorang kakek tua yang kami temui kemudian menunjukkan jalan keluar dari gunung itu. Namun sebelum kami pergi, aku sempat mengatakan bahwa semalam kami mendapat petunjuk jalan dari seorang nenek yang sedang membuang sampah di pinggir jalan.
Kakek itu terdiam lama sebelum akhirnya berkata dengan suara pelan.
“Nenek yang kalian temui… sudah meninggal tiga tahun lalu.”
Sejak saat itu kami tidak berbicara sepanjang perjalanan pulang. Karena kami sadar, malam itu kami tidak hanya tersesat. Kami sempat singgah di sebuah desa yang tidak seharusnya ada.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















