
Sejujurnya banyak yang tak masuk akal di kepalaku. Soal pikiran-pikiran yang kolot, menyebalkan, dan khas dengan ketertinggalan. Semua begitu mengganggu. Seperti sore ini, aku memutuskan pulang sebentar, mengurus ihwal kejelasan pekarangan warisan buyut yang masih belum kelar. Aku tak bisa berlama-lama lagi di kampung, lusa aku harus bertolak lagi ke rantauan. Harusnya aku tak disibukkan dengan urusan yang rumit semacam ini. Jauh-jauh pulang hanya untuk duduk musyawarah keluarga. Benar-benar menjengahkan. Bagaimanapun juga urusan tanah ini harus selesai, dengan berbagai jalur hukum yang harus kutempuh nantinya. Kudapatkan milikku, dan segera pergi jauh. Hidup di kota jauh membuat diriku lebih berperadaban.
Alih-alih segera memperoleh kejelasan, sesampainya di rumah, justru mbak tengah menyulut emosiku. Dengan seenaknya musyawarah ini ditunda hanya gara-gara besok pagi semua orang disibukkan haul tegal dusun simbah buyut di langgar. Rumah kami dan rumah mbak bersebelahan dengan langgar. Bagi mbak tak enak kalau tak ikut sesrawungan di sana besok pagi. Aku tak begitu mafhum selama ini soal tegal dusun semacam itu. Yang kutahu semua orang di dusun menitipkan nama-nama leluhurnya untuk dikirimi doa setelah pembacaan Al-Qur’an di langgar.
Kami bertengkar, saling menuduh soal ketidakadilan. Sepeninggal bapak dan ibu, aku enggan pulang lagi. Mbakku tak sekolah, hanya lulusan pesantren. Soal hidup, banyak yang tak cocok denganku. Mbak sudah pernah kuajak menjual pekarangan ibu untuk kuliah dan sebagai bekal merantau ke kota. Tapi lagi-lagi pikiran kolotnya pun menepis pandanganku. Ia justru memilih dagang dan menjadi guru ngaji membantu Pak Dullah, yang mana walau toh semua penghasilannya digabung tetap terbilang pas-pasan untuk mencukupi anak balitanya.
Secara hitung-hitungan akulah yang dapat jatah lebih banyak daripada mbak. Misal mbak tak memberi kabar jika rumah dan pekarangan ini akan dipinjam, dimanfaatkan untuk tempat ngaji murid-muridnya, mungkin aku tak begitu tertuntut untuk pulang. Dipinjam tanpa sewa apa gunanya. Jelas-jelas mana bisa begitu. Selama ini murid-murid mbak menempati langgar setiap sore. Mbak merasa langgar tua itu sudah tak begitu cukup menampung semua muridnya. Belum lagi beberapa plester semennya sudah mengelupas sana-sini, dan suara megafonnya juga sudah berulang kali tak berfungsi dengan baik.
Walau aku tak akan tinggal di sini, tapi itu hak yang harus kudapatkan. Memang aku sudah diminta ibu untuk mengurus pekarangan itu sedari dulu. Tapi kurasa hidup di sini tak menjanjikan. Aku sulit berkembang.
==========
Selepas mbak menangis sore tadi, aku juga merasa tak enak. Walau sebetulnya aku juga ingin terus menuntutnya. Mungkin mbak sudah cerita ke suaminya soal sikapku sore tadi.
Aku tak bisa tidur malam ini. Belum ada jawaban permintaan tambahan izin cuti yang kulayangkan sore tadi. Itu yang membuatku gelisah. Belum lagi banyak daftar klien yang harus kutemui satu-satu soal peliknya masalah-masalah hukum mereka. Semua harus kutunda gara-gara masalah menjengkelkan ini. Yang jelas aku harus lebih lama di sini. Entah dua atau tiga hari lagi, sampai semua urusan selesai.
Sudah lama aku tak menikmati halaman rumah. Terakhir saat ibu masih ada, saat ia sakit-sakitan, aku masih pulang setiap bulan di sela kesibukan magang semester akhir. Aku masih menemani ibu saat itu, malam-malam seperti ini. Kebiasaan ibu sama sepertiku, susah untuk segera tidur. Itu yang membuat sakitnya kian parah, dan aku juga mengkhawatirkan kebiasaan ini pada diriku.
Aku masih memainkan ponsel hingga begitu larut di kursi depan. Masih juga belum ada balasan. Halaman rumah ini masih tertata rapi. Mbak setiap hari masih membersihkannya, dan beberapa perabotan yang lapuk juga sudah mbak keluarkan.
Rasa kantuk melanda pelan-pelan, namun aku tak sampai merebah di kursi. Di tengah mata yang kian sayu itu, aku sedikit terusik oleh sosok Pak Dullah dari kejauhan. Ya, Pak Dullah, aku masih ingat betul guru ngajiku lima belas tahun silam itu. Sontak aku beranjak dan masuk ke dalam rumah. Entah mengapa spontan aku bergerak begitu cepat, serasa ketakutan tengah menampakkan diriku, dan aku enggan untuk disapanya.
Setelah kututup pintu, aku mengintip di balik kaca jendela. Langkahnya kian tertatih, dan jalannya sedikit membungkuk. Sorban yang dipakainya masih sama. Hijau bergaris cokelat. Sorban yang selalu ia kenakan untuk mengajarku di langgar, juga teman-teman sebayaku dulu. Perawakannya tak begitu tinggi dan tubuhnya juga masih kurus. Aku selalu melihat pakaiannya yang selalu nampak kebesaran dari badannya. Bahkan terkadang sampai menyentuh lutut.
Saat ini masih pukul sebelas malam. Apa guna malam-malam begini sudah ke langgar gumamku. Entah angin malam ini terlalu sejuk atau bagaimana, aku pun menikmati pemandangan itu dengan tenang. Temaram lampu langgar tak begitu membuatku melihat begitu jelas. Namun gerak-gerik Pak Dullah masih terekam sepotong-sepotong. Aku melihatnya sembahyang berulang kali. Momen itu membawaku kembali pada ingatan masa lampau, saat dimana aku merasa diri ini dipenuhi kesalehan. Dulu Pak Dullah mengajarkan kami soal sembahyang, huruf-huruf Al-Qur’an, sampai fikih-fikih keseharian. Semuanya sederhana untuk ditangkap dan begitu meneduhkan. Kami tak banyak menggugat iman-iman kami saat itu. Hidup kami terasa teratur, dan Tuhan terasa begitu dekat.
Aku mengingat lagi, aku pernah diminta ibu untuk sembahyang tahajjud, dulu saat-saat masa sakitnya. Sekitar lima tahun lalu. Waktu yang sudah cukup lama untuk kembali merindukan sujud terbaik yang pernah kurasakan waktu itu.
Sungguh aku seperti memasung diriku malam ini. Aku tak di langgar itu, tapi getaran-getaran batin justru menimpaku. Aku seperti dihukum oleh ingatan masa kecil. Ingatan-ingatan yang sengaja kukubur dalam di tengah kerasnya gemerlap kota. Semua ingatan datang satu per satu; sembelihan ayam ibu untuk kenaikan tingkat mengajiku, suara teduh Pak Dullah mengisi pujian sore, dampar-dampar kami yang lapuk, bahkan sampai surat-surat pendek yang pernah kuhafal lamat-lamat kembali datang. Aku tak bisa berbohong, aku sudah lama pergi jauh, bahkan untuk menengok batin yang selama ini sakit saja tak sempat.
===========
Aku memutuskan segera pulang ke kota. Beberapa kali telepon mbak juga enggan kubalas. Sejak malam itu, aku enggan ribut urusan pekarangan lagi. Kuakui aku ini angkuh, tapi kuharap mbak paham jika sebetulnya aku ingin meminta maaf padanya. Juga soal Pak Dullah yang kutinggali satu amplop berisi uang. Aku tak bisa menebus semua jasanya, juga warisan-warisan keimanan yang melekat padaku sampai hari ini, walau semua sudah hampir runtuh berulang kali. Aku masih ingin pulang dan menengok langgar itu lagi. Mungkin untuk saat-saat imanku dikoyak angin mercusuar-mercusuar kota, juga saat-saat Tuhan tak kuhadirkan di tengah ramainya kepala. Tuhan, ampuni aku.
Penulis: Muhammad Farhan, asal Pasuruan Jatim. Alumni Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga,
Editor: Rara Zarary


















