
Alhamdulillah, kita sudah memasuki Ramadan 1447 H/2026 M dalam keadaan sehat walafiat. Tentu ini menjadi modal yang sangat berharga untuk terus istikamah dan menjaga ketawaduan dalam menjalankan ibadah puasa sampai paripurna di tahun ini.
Ketika seseorang yang berpuasa menyaksikan manusia di sekitarnya juga berpuasa, ia akan merasakan puasa sebagai sesuatu yang ringan dilaksanakan. Ia juga akan merasa sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakatnya, yang semuanya diikat oleh hubungan kesatuan ibadah yang merupakan poros bagi semua anggota masyarakat.
Bila kita bandingkan antara puasa sunah dengan puasa Ramadan, kita temukan bahwa ternyata puasa sunah terasa lebih berat dilaksanakan. Berbeda halnya dengan puasa Ramadan yang hukumnya wajib; ia terasa lebih ringan dan mudah. Tidak ada beban bagi kita dalam melaksanakannya.
Alasannya adalah seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Dalam puasa Ramadan, hampir semua orang di sekitar kita juga berpuasa. Di pasar, para penjual dan pembeli berpuasa. Di dalam rumah, anggota keluarga berpuasa. Di sekolah dan tempat kerja, orang-orang juga sedang berpuasa. Demikianlah seterusnya. Umat Muslim akan merasakan kebersamaan dalam berpuasa, sehingga ia terbantu menjalani puasa tersebut. Dengan begitu, dia bisa menikmati pekerjaan yang sebenarnya terasa berat baginya.
Oleh sebab itu, kita dapati orang-orang yang memasuki bulan Ramadan di negeri-negeri berpenduduk mayoritas nonmuslim—baik untuk kepentingan yang mendesak, karena sakit, atau sebab lainnya—menghadapi kesulitan yang sangat jelas saat berpuasa. Pasalnya, masyarakat di sekitarnya tidak berpuasa; mereka makan dan minum, sementara ia sendiri mau tidak mau harus berinteraksi dengan mereka.
Jika demikian, perasaan orang yang berpuasa bahwa orang-orang di sekitarnya turut serta bersamanya dalam beribadah akan menjadikan puasa terasa ringan. Hal ini adalah sesuatu yang tampak jelas, bahkan pada masyarakat yang mungkin syiar Islam di dalamnya hanya tersisa sedikit. Pengaruh Ramadan bisa dilihat pada semua manusia.
Pada diri orang-orang yang gemar melakukan maksiat dan di lingkungan masyarakat yang didominasi oleh kerusakan pun, pengaruh Ramadan tetap dapat dirasakan. Itu semua merupakan bagian dari pembinaan Islam kepada masyarakat secara keseluruhan. Lantaran itu, perhatian Islam terhadap perbaikan masyarakat sangat besar.
Kerusakan yang dilakukan oknum-oknum tertentu dalam masyarakat tentu sesuatu yang tidak mungkin dihilangkan sama sekali. Sejumlah kasus pelanggaran juga pernah terjadi pada masyarakat zaman sahabat yang mulia. Di antara mereka ada yang terjerumus melakukan pencurian, meminum khamar, dan berzina.Semua ini pasti terjadi. Namun, yang tidak dapat dibenarkan adalah jika kemungkaran dilakukan secara luas dan terang-terangan dalam masyarakat Muslim, sehingga masyarakat umum terkontaminasi akhlaknya dan terpengaruh. Akibatnya, sulit bagi orang yang ingin berjalan di atas kebaikan untuk mendapatkan hidayah karena masyarakat menekan dan menghalanginya dari mencapai tujuannya.Dari titik tolak ini pula musuh-musuh Islam berusaha keras untuk merusak masyarakat Islam. Lewat media, mereka menggerogoti tata nilai dalam masyarakat, sehingga terjadi kerusakan pada pemikiran, akidah, akhlak, dan tradisi masyarakat.Kesimpulannya, pembinaan masyarakat merupakan cita-cita Islam, dan puasa adalah salah satu sarana pembinaan tersebut. Manfaat puasa dalam pembinaan masyarakat sangat jelas. Di antara fenomenanya, selain yang telah disebutkan di atas, adalah fakta bahwa anak kecil sekalipun dalam masyarakat Muslim terbiasa melakukan puasa. Apalagi jika didukung dengan berbagai macam kegiatan positif selama Ramadan, seperti: mengaji di majelis taklim, musala, masjid, lembaga pendidikan, serta menyeimbangkan antara hablumminallah dan hablumminannas (ibadah sosial), tentu akan menjadi lebih lengkap.
Semoga dengan tarbiyah Ramadan 1447 H ini, umat Islam semakin meningkat secara kuantitas maupun kualitas, serta ibadah ini dapat dijadikan edukasi yang selalu menginspirasi masyarakat secara luas. Amin!
Baca Juga: Puasa Ramadhan dan Manfaat terhadap Kesehatan
Penulis: Syafik Hoo, Kamad MI Al-Karimi Gresik, IKAPETE SMA AWH Angkatan 92.


















