
Setiap Ramadan datang, kita tidak pernah benar-benar menjadi orang yang sama. Ada yang bertambah, ada yang berkurang. Kadang rezeki bertambah, kadang anggota keluarga berkurang. Tapi Ramadan tetap datang membawa kesempatan yang sama, yaitu memperbaiki diri.
“Ayah, kenapa setiap Ramadan rasanya berbeda?” tanya Faradisa suatu sore, ketika cahaya matahari mulai meredup di balik jendela ruang tamu.
Ayahnya tersenyum, menutup mushaf yang sejak tadi ia baca. “Karena hidup manusia juga selalu berbeda setiap tahunnya, Nak. Ramadan itu seperti cermin. Ia memantulkan siapa kita hari ini, bukan siapa kita kemarin.”
Faradisa mengernyit pelan. “Maksudnya?”
“Setiap Ramadan datang, kita tidak pernah benar-benar menjadi orang yang sama. Ada yang bertambah, ada yang berkurang. Kadang rezeki bertambah, kadang anggota keluarga berkurang. Tapi Ramadan tetap datang membawa kesempatan yang sama, yaitu memperbaiki diri.”
Kalimat itu menggantung lembut di udara. Faradisa menunduk, memikirkan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia ucapkan keras-keras, Ramadan tahun ini terasa lebih lengang.
Sudah dua tahun sejak neneknya berpulang. Nenek yang selalu paling sibuk di dapur menjelang berbuka, yang suaranya paling lantang mengingatkan waktu sahur, yang tangannya paling cekatan membagi-bagikan kolak ke tetangga. Sejak kepergian beliau, ada ruang kosong di meja makan yang tak pernah benar-benar terisi.
Ramadan memang selalu berbeda. Namun, anehnya, Faradisa tetap menunggunya dengan perasaan yang sama setiap tahun, rasa bahagia.
***
Bagi Faradisa, Ramadan bukan sekadar bulan puasa. Ia adalah musim kebersamaan. Musim di mana langit terasa lebih dekat, doa lebih mudah meluncur dari bibir, dan orang-orang tampak lebih lembut satu sama lain.
Seperti sore itu, setelah percakapan singkat dengan ayahnya, Faradisa bersiap mengajak adik dan ibunya. Mereka punya kebiasaan sederhana ngabuburit tanpa tujuan khusus.
“Bunda, kita beli es buah, ya?” pinta si bungsu dengan mata berbinar.
Faradisa terkekeh. “Belum tentu beli, dek. Kita lihat-lihat saja dulu.”
Ia memang tidak selalu membeli. Kadang hanya berjalan pelan menyusuri trotoar, menyaksikan jalanan yang berubah wajah setiap Ramadan. Tenda-tenda kecil berjejer, aroma gorengan bercampur dengan wangi kolak dan sate, suara pedagang saling bersahutan menawarkan dagangan.
Faradisa menyukai pemandangan itu. Bukan semata karena makanan yang dijual, tapi karena semangat yang terasa di udara.
Ada bapak-bapak yang menata kurma dengan penuh harap. Ada ibu-ibu yang meniup kantong plastik berisi es untuk memastikan tak bocor. Ada anak-anak kecil yang membantu orang tuanya sambil sesekali mencuri pandang ke arah pembeli.
Dan yang paling membuatnya hangat adalah ketika melihat orang-orang berbagi. Sekelompok remaja berdiri di pinggir jalan, membagikan takjil gratis kepada pengendara. Seorang ibu berhenti untuk menyerahkan sebungkus nasi kepada pemulung yang lewat. Senyum-senyum kecil itu terasa seperti cahaya.
“Bunda, kenapa orang-orang baik sekali waktu Ramadan?” tanya anak sulungnya suatu kali.
Ibunya terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, “Karena Ramadan mengingatkan kita bahwa kita semua sama-sama lapar, sama-sama haus. Jadi kita lebih mudah memahami orang lain.”
Ibunya jadi teringat ucapan suaminya tadi, “Ramadan adalah cermin. Mungkin benar. Ketika perut kosong, manusia lebih jujur melihat dirinya. Lebih sadar bahwa ia rapuh, bahwa ia butuh pertolongan, bahwa ia tak bisa hidup sendiri.”
***
Meski begitu, Ramadan tak selalu mudah.
Ada saat-saat ketika Faradisa tiba-tiba teringat neneknya. Saat menata piring untuk berbuka, ia refleks mengambil satu piring lebih. Saat mendengar adzan magrib, ia seperti mendengar suara nenek yang berseru dari dapur, “Sudah, sudah, jangan ditunda lagi makannya.”
Kerinduan itu datang seperti ombak kecil, tidak besar, tapi cukup membuat dada sesak. Namun justru di situlah ia menemukan makna lain dari Ramadan.
Ia belajar bahwa kehilangan tidak menghapus kebahagiaan. Kehilangan hanya mengubah cara kita merayakannya.
Jika dulu Ramadan di dapur ramai dengan tawa nenek yang renyah, kini Ramadan berarti belajar banyak untuk bersyukur dan merawat yang ada.
Suatu malam setelah tarawih, Faradisa duduk di teras bersama ayahnya.
“Yah,” katanya pelan, “kadang aku merasa Ramadan sekarang tidak seramai dulu.”
Ayahnya menatap langit yang bertabur bintang. “Ramai atau sepi itu soal suasana. Tapi berkah atau tidak, itu soal hati.”
Faradisa tersenyum tipis.
“Ayah juga merindukan nenek kamu, ibu ayah…” lanjut ayahnya lirih. “Tapi justru karena Ramadan, Ayah merasa lebih dekat dengannya. Setiap doa yang Ayah kirimkan, Ayah yakin sampai.”
Malam itu Faradisa mengerti, Ramadan bukan hanya tentang siapa yang masih duduk bersama kita, tetapi juga tentang siapa yang tetap hidup dalam doa-doa kita.
***
Hari-hari Ramadan terus berjalan. Faradisa tetap menikmati ngabuburit sederhana bersama keluarga kecilnya. Kadang mereka duduk di taman kota, hanya menyaksikan langit berubah warna. Kadang mereka berhenti di pinggir jalan, melihat pedagang yang dagangannya hampir habis.
Ia selalu merasa ikut bahagia ketika melihat pedagang tersenyum lebar karena laris manis.
“Alhamdulillah, Bu, tinggal dua bungkus lagi,” kata seorang penjual gorengan suatu sore.
Faradisa membeli satu bungkus terakhir, bukan karena lapar, tapi karena ingin melihat senyum itu semakin lebar.
Di dalam hatinya, ia tahu Ramadan mengajarkannya satu hal penting yaitu kebahagiaan tidak selalu datang dari memiliki, tapi dari menyaksikan dan ikut mendoakan kebaikan orang lain.
Setiap tahun, Ramadan memang berbeda. Kadang lebih sunyi, kadang lebih ramai. Kadang diwarnai tawa, kadang dibasahi air mata. Tapi selalu ada rasa yang sama ketika bulan itu tiba: harapan.
Harapan untuk menjadi lebih baik. Harapan untuk memaafkan dan dimaafkan. Harapan untuk kembali memeluk orang-orang tercinta, entah di dunia atau dalam doa. Menjelang akhir Ramadan, Faradisa kembali teringat pertanyaannya di awal bulan.
Kenapa Ramadan selalu berbeda? Kini ia punya jawabannya sendiri. Karena hidup terus berjalan, dan kita pun terus bertumbuh. Dan Ramadan datang bukan untuk mengulang yang lama, tetapi untuk menyempurnakan yang belum selesai.
Sore itu, saat mereka berjalan pulang setelah ngabuburit, adiknya menggenggam tangannya erat.
“Kakak, aku senang Ramadan,” katanya polos. Faradisa menatap wajah kecil itu dan tersenyum. “Aku juga, Dik.”
Di tengah keramaian jalanan, di antara aroma takjil dan suara orang-orang yang menunggu adzan, Faradisa merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sebuah kebahagiaan yang tenang.
Ramadan mungkin selalu berubah wajah, tapi ia tak pernah gagal membawa cahaya. Bagi Faradisa, selama masih ada kesempatan untuk berpuasa, berbagi, dan berkumpul—meski dengan susunan keluarga yang berbeda—Ramadan akan selalu menjadi bulan yang paling ia tunggu.
“Aku selalu merindukan Ramadan,” gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary


















