
Tebuireng.online— Dalam forum diskusi genealogi dan transformasi Al-Qanun Al-Asasi, Dr. H. Rijal Mumazziq, M.H.I., atau yang akrab disapa Gus Rijal, membahas “Evolusi Qanun Asasi dan Sejarah Perkembangan NU Lintas Zaman”. Materi yang disampaikan berfokus pada pemetaan sejarah AD/ART Nahdlatul Ulama (NU) serta bagaimana relasi organisasi dengan negara turut memengaruhi struktur dan pola gerak jam’iyyah dari masa ke masa.
Baca Juga: Bedah Genealogi Al-Qānūn Al-Asāsī, Kiai Abdul A’la Ulas Transformasi NU Lintas Zaman
Dalam pemaparannya, Gus Rijal menegaskan bahwa Qanun Al Asasi merupakan “punjer spiritual, intelektual, dan laju gerak organisasi”. Ia menjelaskan bahwa muqaddimah Qanun Asasi memiliki kedudukan yang sangat esensial karena di dalamnya termuat 44 ayat Al-Qur’an, 6 Hadis, serta 5 Qaul Sahabat. Ayat-ayat dan qaul tersebut, menurutnya, dipilih langsung oleh Kiai Hasyim Asy’ari melalui proses istikharah.
“Muqaddimah Al-Qanun Al-Asasi itu bukan sekadar teks organisasi, tetapi fondasi ruhani dan intelektual yang menjadi arah gerak NU. Ia disusun dengan pertimbangan spiritual yang mendalam,” ungkapnya dalam Roundtable Discussion, Sabtu (14/2) di gedung KH. Yusuf Hasyim lantai 3, Pesantren Tebuireng.
Beliau juga menambahkan bahwa nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan konteks penyampaiannya pada Muktamar NU tahun 1928 di Surabaya, yang menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan organisasi.
Baca Juga: Tebuireng Hadirkan Pakar NU, Bedah Genealogi dan Transformasi Al-Qānūn Al-Asāsī
Lebih lanjut, Gus Rijal memaparkan temuannya mengenai lima sila ala Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang terkandung dalam muqaddimah Qanun Al Asasi, yaitu: (1) Persatuan, (2) Persaudaraan, (3) Sanad Keilmuan, (4) Berpegang pada Empat Mazhab Fikih, dan (5) Kemashlahatan Umat.
Menurutnya, dengan usia Nahdlatul Ulama yang telah melampaui satu abad, lima prinsip tersebut menjadi modal utama untuk menjadikan NU semakin bermanfaat dan bermartabat di masa mendatang.
“Di usia NU yang lebih dari 100 tahun ini, dengan modal lima sila tersebut, ke depan NU bisa semakin memberi manfaat yang nyata bagi umat,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, beliau juga mengingatkan para pengurus NU agar tidak menghabiskan waktu dan energi hanya pada dinamika internal serta kegiatan yang bersifat seremonial. Ia menekankan pentingnya kembali pada ruh dan citra diri NU sebagai jam’iyyah yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
Baca Juga: Prof. Muhibin Zuhri Tegaskan Relasi NU, Pesantren, dan Keindonesiaan
“Di Indonesia, warga Nahdliyin adalah golongan terbanyak. Ketika ada penduduk Indonesia yang masuk dalam angka kemiskinan, saya yakin ada warga NU di dalam catatan tersebut.” Tuturnya.
Sehingga menurutnya, ketika Indonesia tertimpa bencana alam, pasti ada saudara-saudara NU kita yang juga terdampak. Maka, seharusnya kita jangan terlalu fokus pada jumlah mayoritasnya, tetapi sebagai pengurus kita harus memperbaiki kualitas NU.
Di akhir sesi, Gus Rijal menutup penyampaiannya dengan harapan agar citra dan marwah NU di usia yang telah melampaui satu abad semakin kokoh dan berdaya guna.
“Semoga citra dan marwah NU di usianya yang lebih dari satu abad ini semakin bermanfaat dan bermartabat untuk kemaslahatan umat,” pungkasnya.
Pewarta: Fatih Maulana
Editor: Rara Zarary


















