Mengapa Gen Z Menolak “Nikah Dulu, Rezeki Belakangan”?

107
Ilustrasi Gen Z dalam sebuah pernikahan (sumber: ai/ra)

Ungkapan “nikah dulu, rezeki belakangan” pernah menjadi mantra populer dalam budaya pernikahan di Indonesia. Kalimat ini sering diucapkan sebagai penguat moral, seolah pernikahan adalah pintu ajaib yang otomatis membuka aliran rezeki. Namun, bagi Generasi Z, prinsip tersebut mulai kehilangan relevansinya. Bukan karena mereka anti pernikahan, melainkan karena mereka hidup di realitas sosial dan ekonomi yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya.

Baca Juga: Pernikahan: Ibadah Suci dan Strategi Politik Kekuasaan?

Gen Z tumbuh di era krisis ekonomi berulang, kenaikan harga kebutuhan pokok yang nyaris tak terkendali, serta harga rumah yang melambung jauh dari jangkauan upah rata-rata. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana biaya hidup meningkat lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan. Dalam konteks ini, cinta dan niat baik saja jelas tidak cukup untuk membayar kontrakan, cicilan, listrik, pendidikan anak, dan kebutuhan harian lainnya. Maka, tidak heran jika Gen Z memandang pernikahan sebagai keputusan besar yang harus didahului kesiapan ekonomi, bukan sekadar keberanian moral.

Zakiyatun Nufus (2025) di laman Kumparan.com menulis bahwa dalam dunia pernikahan, kebutuhan ekonomi tidak bisa dihindari sejak awal. Mulai dari biaya pernikahan seperti sewa gedung, katering, mahar, hingga resepsi, semua membutuhkan dana yang tidak sedikit. Setelah menikah, beban tersebut justru bertambah: biaya hidup sehari-hari, kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, hingga dana darurat. Pernikahan, dalam kacamata Gen Z, bukan sekadar penyatuan dua hati, tetapi juga penggabungan dua sistem keuangan yang harus dikelola dengan matang.

Baca Juga: Menata Diri Sebelum Memutuskan Menikah

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Fakta sosial turut memperkuat sikap ini. Kasus perceraian yang dipicu oleh masalah ekonomi semakin sering diberitakan. Di Jember, misalnya, Hosen menjelaskan bahwa banyak gugatan cerai terjadi karena tekanan ekonomi yang belum pulih sepenuhnya. Pasangan muda yang belum siap secara finansial akhirnya terjebak dalam konflik berkepanjangan. Realitas ini menjadi pelajaran mahal bagi Gen Z: pernikahan tanpa kesiapan ekonomi bukan hanya berisiko gagal, tetapi juga meninggalkan luka psikologis.

Selain itu, Gen Z juga banyak belajar dari pengalaman orang tua mereka. Mereka tumbuh menyaksikan pertengkaran rumah tangga yang berakar dari uang—utang, gaji yang tidak cukup, atau kebutuhan yang tak terpenuhi. Dari situ, Gen Z menyadari bahwa masalah ekonomi bukan isu sepele dalam pernikahan, melainkan pemicu utama keretakan hubungan. Karena generasi ini sangat peduli pada kesehatan mental, mereka enggan mengulang pola yang sama. Menikah dalam kondisi tertekan secara finansial dianggap sebagai jalan pintas menuju stres berkepanjangan.

Pandangan Gen Z juga dipengaruhi oleh kesadaran yang lebih besar terhadap tanggung jawab sebagai orang tua. Mereka tidak ingin anak lahir dalam kondisi serba kekurangan atau tumbuh tanpa akses pendidikan yang layak. Bagi mereka, memiliki anak bukan hanya soal biologis, tetapi juga komitmen jangka panjang yang menuntut kesiapan materi dan mental. Menikah tanpa modal yang cukup, lalu membawa anak ke dalam situasi sulit, dipandang sebagai tindakan yang tidak adil bagi generasi berikutnya.

Baca Juga: Diskusi Dinamika Pernikahan Di Masa Lalu dan Sekarang

Lebih jauh, Gen Z memaknai pernikahan bukan sebagai perlombaan sosial. Mereka tidak merasa gagal atau malu jika harus menikah di usia yang lebih matang. Fokus pada karier, pendidikan, dan stabilitas finansial dianggap sebagai bagian dari ikhtiar, bukan bentuk penundaan yang sia-sia. Mereka memahami bahwa menikah terlambat namun siap jauh lebih baik daripada menikah cepat namun rapuh.

Pada akhirnya, Gen Z bukan menolak pernikahan, apalagi menafikan nilai spiritual di dalamnya. Mereka hanya menolak romantisasi yang mengabaikan realitas. Prinsip “nikah dulu, rezeki belakangan” bukan sepenuhnya salah, tetapi tidak bisa diterapkan secara mentah di tengah kondisi ekonomi yang kian kompleks. Gen Z memilih membangun rumah tangga di atas perencanaan dan kesiapan, bukan sekadar harapan. Mereka ingin pondasi beton yang kokoh, bukan pasir yang mudah runtuh saat badai ekonomi datang menerpa.



Penulis: Muchamad Zulfikar (Mahasiswa KPI Unhasy)
Editor: Rara Zarary