Perjalanan Hati

47
Catatan perempuan (sumber: istimewa)

Aku sudah lama berjalan di rute ini. Untuk menemukan sebuah perjalanan ini membutuhkan waktu yang tak sebentar. Memvalidasi ego, berteman manja dengan emosi yang tak jarang kata orang aku di juluki sebagai pemarah. Sebalum aku memulai perjalanan ini, memang segumpal hati itu belum menemukan ketenangan. Aku hampir menyerah menghadapi hati yang hampir mati. Aku berjalan terseok-seok untuk mencari obat penyembuh dari penyakit hati ini. Beriringan dengan permasalahan yang semua dikerahkan kepadaku. Aku juga bingung, kemana aku harus mencari obat penyembuhan itu.

Meski dengan tertatih dan rapuh, aku tetap berjalan. Benar memang, bahwa usahat tidak akan pernah mengkhianati hasil. Aku telah menemukan sebuah obat, yang semakin aku candu semakin dekat pula aku kepada tuhanku. Obat itu berada di sekitarku, di lorong yang memancarkan cahaya yang begitu terang. Menyilaukan bagi siapa saja yang memandangkan. Menjadi washilah agar aku hanya berharap kepada tuhanku.

Banyak untaian ceritaku yang mengalir begitu saja, bersama dia. Sang Guru hatiku. Kala mata ini memandang, sejuk dan teduh bergantian hadir, angin sepoi-sepoi menyertai. Tidak ada panas atau kegelisahan bila bersamanya.

Dia lah yang menunjukkan obat dari perjalanan hati ini. Tidak hanya itu, dia juga yang meenceritakan alur kehidupan dalam menghadapi masyarakat dengan tanpa hati yang mangkelan dan itu pembelajaran yang susah. Menurutku, lebih susah dari pelajaran matematika yang sering aku keluhkan. Kesabaran dan keikhlasan yang sering sekali dia ajarkan kepadaku juga ketaatan dia kepada Allah yang menjadikan aku tersadar bahwa setiap permasalahan tidak harus dihadapi dengan emosi dan perkataan yang tidak sepantasnya untuk dikeluarkan.

Ketika bercerita kepada dia, pasti pemikiranku terbuka dengan sudut pandang yang berbeda. Bukan sudut pandnag yang justru malah menyudutkan sepihak saja. Dan dia juga memberikan data-data untuk bisa menemukan solusi dari cerita kehidupanku. Berbincang panjang dengan dia memang tidak pernah cukup waktu. Terasa sangat sebentar sekali, padahal banyak sekali perjalanan yang belum terjamah kan olehku.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Semenjak aku bertemu dengan dia, hati ini terasa sangat damai. Aku juga menghadapi permasalahan lebih tenang dan tidak sembarang mengambil keputusan. Dia memberikan wejangan dan amalan terkait bagaimana pertaruhann dalam perjalanan hidup ini, dan penataan hati yang benar-benar harus ditata sebelum terjun langsung ke masyarakat.

Tidak begitu banyak amalan yang dia berikan kepadaku. Hanya saja yang paling berat bukan tentang kuantitas dari amalan tersebut, tapi tentang istiqomah dalam menjalakan amalan-amalan tersebut.

Setelah berjalannya waktu, aku jadi mengerti keenapa harus berjalan dengan hati yang bersih tanpa ada celah hitam sebagai awalnya penyakit hati, karena utamanya iman berasal dari hati. Bila hatinya rusak makanya rusaklah juga seluruh amalnya.

Aku sangat beruntung sekali bisa menemukan obat hati. Hingga sekarang, orang-orang masih heran denganku yang dulunya se-pemarah itu kok bisa sekarang sudah tidak sepperti itu lagi. aku juga mempelajari bagaimana aku harus bersikap kepada lawan bicara, Karena tidak semua orang bersifat sama. Aku harus bisa menyesuaikan tempat dan kondisi ketika aku ingin bersikap, begituah dia mengajarkanku.

Sekarang aku masih akan terus belajar bagaimana perjalanan hati ini agar tetap tenang an mamapu memberikan ruang ikhlas dan sabar yang sangat besar. Meskipiun itu tidak mudah semudah membalikkan telapak tangan, namun aku akan mencoba dan selalu berusaha agar tetap istiqomah menjalankan amalan-amalan yang telah dia berikan kepadaku.

Berjuang demi perjalanan hati ini supaya mendapatkan ketenangan dalam beribadah kepada Allah dan dapat berbaur juga kepada masyarakat, selai itu juga dapat menjadikan diriku terasa lebih damai dan aman dalam menjalankan amanah yang telah diberikan sebagai seorang hamba.

Masih banyak perjalanan hati yang belum aku ceritakan kepada dia. Karena memang terkandala waktu, namun aku yakin dengan istiqomah menjalankan amalan-amalannya maka aku insya alah bisa mencapai kedamaian dan ketenangan dalam perjalanan hati yang tidak singkat ini meskipun hidup dalam dunia yang fana, namun beribadah dalam ketenangan merupakan kunci menunju syurga-Nya.



Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary