
Tebuireng.online- Mojokerto – Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng angkatan Syalmahat menggelar Rihlah Ilmiah dan Sambung Sanad ke Pesantren Darul Hikmah, Mojosari, Mojokerto, Rabu (7/1/2026). Dalam pertemuan tersebut, Pengasuh Pesantren Darul Hikmah, KH Ali Mas’adi, mengungkap sejarah panjang kedekatan keluarganya dengan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Kiai Ali Mas’adi mengaku sangat terhormat menerima kunjungan santri dari pesantren yang didirikan oleh Mbah Hasyim tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran panjenengan semua di pondok kami. Suatu penghormatan besar atas kedatangan santri Mbah Hasyim Asy’ari,” ujar Kiai Ali dalam sambutannya.
Dalam wejangannya, Kiai Ali menjelaskan bahwa amanah sanad keilmuan yang ia emban merupakan warisan berharga dari guru-gurunya. Salah satu jalur utamanya bersambung kepada Musnid ad-Dunya (pemegang sanad dunia), Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani, yang tak lain adalah murid dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
“Orang sedunia ini mendorong saya untuk bisa cawe-cawe tasabbuh mengemban amanah guru saya, Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani. Sebab, guru saya ini muridnya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari,” tuturnya.
Secara historis, Kiai Ali mengungkapkan keluarganya memiliki ikatan perjuangan dengan Tebuireng. Kakeknya yang bernama Umar merupakan seorang pejabat provinsi sekaligus sosok di balik penggemblengan pasukan Hizbullah di Jepara. Sang kakek dikenal memiliki kedekatan khusus dengan Mbah Hasyim dalam perjuangan kemerdekaan.
Selain jalur Syaikh Yasin al-Fadani, Kiai Ali juga menegaskan bahwa sanad keilmuannya diperoleh dari banyak guru yang bermuara pada Mbah Hasyim, termasuk dari ulama besar Nusantara, KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) Sarang.
Sebagai puncak acara, Kiai Ali memberikan ijazah Hadis Musalsal bil Awwaliyah kepada para mahasantri. Beliau menekankan bahwa ijazah ini bukan sekadar pemindahan riwayat teks, melainkan sarana untuk meneladani akhlak, adab, dan keberkahan para masyaikh dalam mengamalkan ilmu.
Pertemuan tersebut ditutup dengan doa dan harapan agar ilmu yang diterima menjadi berkah bagi dunia dan akhirat.
“Moga-moga apa saja yang saya sampaikan bisa bermanfaat, berkah dunia dan akhirat, dan semoga kita semua bertemu kembali di surga Allah,” pungkas Kiai Ali Mas’adi.

Pewearta: Fatih Maulana
Editor: Sutan


















