
Tebuireng.online— Pesantren tidak hanya dipahami sebagai lembaga transmisi ilmu keagamaan semata, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk moral dan karakter bangsa. Pesantren menghadirkan sistem pendidikan yang utuh, menyentuh dimensi intelektual, spiritual, dan sosial secara bersamaan. Karena itulah pesantren kerap disebut sebagai soko guru moral bangsa, sebuah fondasi nilai yang turut menopang kehidupan kebangsaan Indonesia.
Hal tersebut disampaikan oleh Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, KH. Achmad Roziqi, Lc., M.HI. dalam seminar Kick Off Satu Abad Nahdlatul Ulama PWNU Jawa Timur yang digelar di Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (7/1/2026). Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa alasan mengapa pesantren memiliki posisi strategis dalam pembentukan moral bangsa terletak pada cara pesantren memaknai agama secara kaffah atau menyeluruh.
Baca Juga: Gus Kikin Hadiri Kick Off Harlah 1 Abad NU, Tegaskan NU Rumah Besar Umat
Menurutnya, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama secara parsial, tetapi berusaha menghadirkan keberagamaan yang total. “Agama tidak berhenti pada tataran pengetahuan, tetapi menjadi laku hidup yang membentuk sikap, akhlak, dan orientasi hidup santri. Dari sini kemudian lahir tradisi-tradisi khas pesantren yang hingga kini terus dijaga,” terangnya sebagai narasumber dalam seminar.
Mudir Ma’had Aly Tebuireng ini menjelaskan, setidaknya ada dua tradisi utama pesantren yang menjadi fondasi kuat pembentukan moral santri. Tradisi pertama adalah membangun keilmuan agama yang utuh. Tradisi ini didasarkan pada Hadits Jibril yang menegaskan tiga sektor utama keilmuan dalam Islam, yakni al-Islam, al-Iman, dan al-Ihsan. Ketiganya oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dijadikan pondasi dasar bagi siapa pun yang ingin menuntut ilmu di pesantren.
Di banyak pesantren, terdapat tradisi tidak diperkenankan mempelajari ilmu-ilmu lain sebelum tiga ilmu pokok tersebut diselesaikan. Al-Islam dikenal melalui ilmu fikih, al-Iman melalui ilmu tauhid, dan al-Ihsan melalui tasawuf. Dalam Adabul Alim wal Muta’allim bab keempat, Hadratussyaikh menegaskan bahwa seseorang tidak boleh melangkah ke disiplin ilmu lain sebelum ketiga ilmu tersebut khatam, atau minimal telah dipelajari untuk menggugurkan kewajiban dasarnya.
“Sebagai implementasinya, pesantren menawarkan kitab-kitab dasar seperti Bidayatul Hidayah dan Sulam at-Taufiq sebagai pijakan awal santri dalam memahami agama secara menyeluruh. Dengan fondasi ini, santri tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki orientasi moral dan spiritual yang kuat,” tambahnya.
Baca Juga: Berusia 1 Abad Lebih, Kitab Tulisan Tangan Pendiri NU Masih Terawat Rapi
Tradisi kedua, lanjutnya, yang menjadi ciri khas pesantren adalah tradisi bermadzhab. Bagi warga Nahdliyin, bermadzhab merupakan prinsip yang tidak boleh ditinggalkan, yakni tetap berada dalam koridor empat madzhab fikih yang mu’tabar. Dari tradisi bermadzhab inilah kemudian lahir karakter keberagamaan yang moderat.
Menurutnya, dalam fikih, berpegang pada madzhab Syafi’i dan al-a’immah al-arba’ah tidak melahirkan sikap saling merendahkan, menyesatkan, mengkafirkan, atau membid’ahkan. Justru sebaliknya, tradisi ini melahirkan moral moderat, sikap saling menghargai perbedaan, dan kedewasaan dalam menyikapi keragaman pandangan.
Hal serupa juga tampak dalam tradisi tasawuf pesantren. KH. Achmad Roziqi mengutip risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratussyaikh, yang menyebut bahwa masyarakat Jawa sejak dulu dalam fikih mengikuti Imam Syafi’i, dalam teologi mengikuti Imam al-Asy’ari, dan dalam tasawuf mengikuti Imam Abu Hamid al-Ghazali serta Imam Abul Hasan asy-Syadzili. Kombinasi ini melahirkan keberagamaan yang seimbang antara syariat, akidah, dan akhlak.
Beliau menjelaskan, seseorang yang telah mengenal tasawuf dengan benar tidak lagi memandang manusia semata-mata dari perilakunya, melainkan dengan orientasi kepada Allah. Dalam konteks kekinian, sosok seperti Gus Dur menjadi contoh nyata bagaimana tasawuf melahirkan kasih sayang universal, mencintai manusia tanpa melihat latar belakang, identitas, atau kekurangannya. Bangunan bermadzhab inilah yang menjadi salah satu landasan kuat pesantren sebagai penjaga moral bangsa.
Selain dua tradisi utama tersebut, KH. Achmad Roziqi juga menyebutkan delapan tradisi pesantren yang menopang pembentukan karakter santri. Namun, karena keterbatasan waktu, beliau hanya sempat menjelaskan tradisi pertama, yakni ta’dzim kepada guru, santri, dan ilmu.
Baca Juga: Tantangan Abad ke-2 Nahdlatul Ulama (NU)
Tradisi ta’dzim ini belakangan kerap disalahpahami sebagai feodalisme, terutama ketika isu tersebut viral di media sosial. Menanggapi hal itu, KH. Achmad Roziqi menegaskan bahwa yang diajarkan di pesantren bukanlah feodalisme, melainkan penghormatan kepada orang-orang yang dimuliakan oleh agama. Hadratussyaikh menafsirkan bahwa ulama menempati derajat tertinggi setelah kenabian, karena setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW tidak ada lagi kedudukan yang melebihi derajat ulama.
Tradisi menghormati guru, sesama santri, dan ilmu ini, menurutnya, memiliki dampak kebangsaan yang sangat besar. Dari pesantren lahir generasi yang menghargai otoritas moral, keilmuan, dan kepemimpinan secara beradab. Sikap ini menjadi modal penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Pesantren tidak hanya bertujuan melahirkan generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang benar,” tegasnya.
Baca Juga: Prof. Maskuri Bakri Ungkap Misi Strategis dan Rangkaian Acara Harlah 1 Abad NU
Baginya, bangsa Indonesia tidak cukup hanya diisi oleh orang-orang cerdas, melainkan membutuhkan manusia yang cerdas sekaligus berakhlak. Dengan nilai-nilai dan tradisi yang dijaga pesantren, diharapkan Indonesia dapat melangkah menuju cita-cita sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Kiai Roziqi menutup pemaparannya dengan penegasan bahwa seluruh tradisi pesantren tersebut menjadi alasan kuat mengapa pesantren layak disebut sebagai soko guru moral bangsa, sekaligus benteng nilai di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary


















