Berusia 1 Abad Lebih, Kitab Tulisan Tangan Pendiri NU Masih Terawat Rapi

Salah satu kitab tulisan tangan KH. Hasyim Asy’ari yang dirawat oleh pihak Perpustakaan A Wahid Hasyim Pesantren Tebuireng Jombang. (Foto: Syarif)

Tebuireng.online– Kitab-kitab asli tulisan tangan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari masih tetap terawat hingga kini. Kitab yang berusia 100 tahun lebih tersebut disimpan dan dirawat oleh pengelola perpustakaan A Wahid Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur.

Saat ini ada tujuh kitab yang berada di perpustakaan tersebut. Semua kitab masih utuh, hanya beberapa kitab kondisinya sudah robek termakan waktu. Bahkan, ada beberapa sampul yang berlubang. Kitab-kitab tersebut berupa Al Quran dan beberapa kitab tentang hadis, fiqih, maupun tentang doa-doa.

“Usianya sudah sangat tua,” ujar Muhamad Zainal Arifin, pengelola perpustakaan, Selasa (14/5/19).

Jika dihitung, dari usia KH. Hasyim Asy’ari sewaktu muda saat menulis kitab tersebut, tentu usia kitab kitab tersebut sudah mencapai ratusan tahun.

Dijelaskannya, Pondok Pesantren Tebuireng, pertama kali didirikan pada 1899. Sedangkan, waktu itu, KH. Hasyim Asy’ari sudah mulai menulis beberapa kitab. Artinya, usia kitab tersebut diperkirakan mencapai 130 tahun.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Kisaran 120 tahun lebih,” terangnya.

Semua kitab-kitab tersebut, tersimpan rapi dalam sebuah rak berukuran 2×4 meter diruang khusus yang terletak di ujung belakang perpustakaan. Selain kitab tulisan KH. Hasyim Asy’ari, ada juga beberapa kitab yang dulunya sering dibaca KH. Hasyim Asy’ari saat mengajar santri-santrinya. “Ada juga kitab lain yang dibaca mbah Hasyim,” tegasnya.

Ketika dilihat secara teliti, tampak sekali tulisan tersebut dilakukan secara manual. Mulai dari goresan pena, hingga garis tepi pada kitab yang tak begitu simetris. Kondisi kertas juga terlihat berserat.

Zainal menjelaskan, ada beberapa bahan yang dipakai KH. Hasyim Asy’ari dalam membuat kitab tersebut. Diantaranya, kertas merang yang terbuat dari tangkai padi. Maupun kertas yang terbuat dari serat pohon turi. “Jadi kertasnya berserat, berbeda dengan kertas zaman sekarang yang mudah sobek itu,” tuturnya.

Meski di perpustakaan tersebut, hanya terdapat tujuh kitab. Bukan berarti, kitab KH. Hasyim Asy’ari tidak ditemukan ditempat lain. Dari penelusurannya yang dilakukan waktu ke waktu, kitab tulisan tangan KH. Hasyim Asy’ari sering ditemukan di daerah kabupaten/kota lain di Indonesia. Mulai dari Ponorogo, Lamongan, dan beberapa daerah lain.

”Peninggalan kitab mbah Hasyim tercatat 400 kitab. Yang tersebar diseluruh dunia termasuk di Saudi Arabia,” tandasnya.

Dari tujuh kitab yang ada di perpustakaan A Wahid Hasyim, kini sebagian sudah digandakan untuk berbagai macam kepentingan termasuk studi dan penelitian. Totalnya ada 17 kitab yang diterbitkan dalam satu jilid berukuran besar. “17 kitab tersebut memuat diantaranya, tentang pesan-pesan untuk para umat NU, tentang pernikahan, macam-macam lah termasuk fiqih dan hadist,” terangnya.

🤔  7 Ramadan, Mengenang Wafatnya KH. Hasyim Asy'ari

Perawatan Kitab-kitab KH. Hasyim Asy’ari

Perawatan kitab-kitab kuno ini dilakukan pihak pesantren sebanyak tiga kali dalam setahun. Sementara itu, tidak perlu dilakukan perawatan khusus untuk menjaga kitab-kitab asli tulisan tangan KH. Hasyim Asy’ari. Pengelola perpustakaan cukup menabur campuran kapur barus dan bubuk merica pada kitab.

“Sejauh ini kita hanya melakukan perawatan sederhana untuk menjaga dan merawat kitab kita peninggalan Kiai Hasyim,” ujar Muhamad Zainal Arifin lagi.

Perawatan tersebut, dilakukan secara rutin sebanyak tiga kali. Terhitung mulai awal tahun, libur hari raya Idhul Fitri dan pada akhir tahun.

Sejuah ini, belum ada perawatan khusus untuk merawat dan menjaga kitab-kitab tersebut. Pengelola pondok cukup menempatkan ditempat yang kering dan tidak terlalu lembab. “Penempatan juga kita tempatkan di private room (ruangan pribadi) yang tidak bercampur dengan buku-buku di perpustakaan lain,” tambahnya.

Dia menjelaskan, ruangan tersebut sudah steril. Didalamnya adalah ruangan tertutup yang sudah ditebari bubuk merica dan campuran kapur barus. Itu dilakukan untuk mengusir hewan-hewat yang bisa menggerogoti kitab, misalnya kecoa, tikus, kutu maupun klaper dan sejenisnya. “Campuran merica dan kapur barus itu juga kita taburi pada pojok-pojok ruangan,” tandasnya.

Sekitar tahun 90-an, lanjut Zainal, semua buku dan kitab peninggalan KH. Hasyim Asy’ari pernah dilakukan fumigasi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Pada saat itu, juga dilakukan pencucian terhadap kitab-kitab yang warnanya sudah kusam. Hasilnya, kini banyak kitab yang terselamatkan dari proses fumigasi tersebut. “Dulu itu waktu zamannya Presiden Suharto (Presiden RI ke-2), dilakukan pembersihan selama 7 hari dan hasilnya memang sangat bagus. Semua kutu-kutu yang terdapat didalam kitab mati,” terangnya.

Namun sejak saat itu, belum pernah dilakukan hal serupa sampai saat ini. Sehingga pihak pengelola hanya menggunakan cara tradisional untuk menjaga kitab-kitab tersebut. “Yang penting kitabnya tetap terawat dan terjaga,” tandasnya.

Kitab-kitab peninggalan KH. Hasyim Asy’ari, sering dipakai untuk studi dan penelitian oleh beberapa pihak, mulai dari ormas, akademisi, hingga jajaran Pengurus Besar Nadlatul Ulama (PBNU). “Kalau PBNU sering dipakai sebagai rujukan pendidikan karakter,” tandasnya lagi.

Apa keistimewaan atau kelebihan kitab-kitab tulisan KH. Hasyim Asy’ari?

Zainal menyebutkan, dari beberapa kitab yang ditulis KH. Hasyim Asy’ari sebagian besar memuat tentang pentingnya pendidikan karakter. Seperti tata krama seorang murid ke guru, akhlak guru dalam mengajar, ada juga nasihat untuk diri sendiri, dan adab sopan santun kepada masyarakat luas.

Salah satu kitab KH. Hasyim Asy’ari yang populer di pesantren-pesantren yaitu Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim. Kitab ini juga dikaji diberbagai kampus di nusantara, baik sebagai referensi mata kuliah, seminar, skripsi, maupun tesis. Bahkan beberapa madrasah mewajibkan para santrinya mempelajari kitab ini.

“Termasuk tentang pendidikan karakter, kesopanan itu sering termuat dalam kitab mbah Hasyim,” pungkasnya.

Pewarta: Syarif Abdurrahman

Publisher: RZ