Catatan Seorang Ibu Menyambut Tahun Baru

39
Sebuah ilustrasi hal-hal yang ada di pikiran ibu (ilustrasi: ai/ra)

Tahun baru datang lagi. Seperti biasanya, ia tidak pernah mengetuk pintu atau bertanya apakah kita sudah siap. Ia datang begitu saja, menyelinap ke dalam rumah bersama aroma pagi dan suara ayam yang memecah sunyi. Di meja makan yang sederhana, sambil menunggu air mendidih untuk kopi, saya termenung melihat kalender yang sudah harus diganti. Angka berganti, tetapi pertanyaannya tetap sama: apa kita sudah benar-benar berubah, atau hanya berpindah tanggal?

Sebagai seorang ibu, saya menyadari bahwa tugas saya bukan hanya memastikan keluarga memiliki makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Lebih dari itu adalah menjadi penuntun. Mengarahkan, tanpa merasa paling tahu. Menunjukkan jalan, tanpa memaksa semua orang berjalan pada irama yang sama. Hidup ini terlalu luas untuk diselesaikan dengan satu jalan saja; anak-anak butuh ruang untuk menentukan langkah mereka sendiri. Terkadang, menjadi ibu bukan tentang menggenggam erat, tetapi belajar melepaskan perlahan.

Baca Juga: Fondasi Tangguh Keluarga untuk Anak yang Sedang Belajar Hidup

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin bising, saya melihat keluarga kecil ini seperti kapal yang terus berlayar di lautan luas. Ada saat-saat ketika angin begitu kencang, membuat layar kapal hampir patah. Ada masa ketika ombak besar menggulung, membuat arah tampak kabur. Tapi setiap kali itu terjadi, saya mengingatkan diri ini bahwa laut yang tenang tidak pernah melahirkan pelaut yang tangguh. Mungkin itu sebabnya hidup terasa berat: bukan karena Tuhan ingin menyulitkan, tetapi agar kita lebih siap saat mencapai tujuan.

Anak-anak saya tumbuh dalam dunia yang serba tergesa. Di usia mereka yang masih muda, sudah banyak yang merasa tertinggal hanya karena teman sebayanya terlihat lebih dulu berhasil. Ada yang panik karena belum menikah, sementara foto-foto pernikahan orang lain memenuhi beranda media sosial. Ada yang gelisah karena kariernya belum stabil, sementara teman-temannya sudah berpose dengan jas dan map kerja di kantor besar. Di zaman ini, kecepatan sering dianggap ukuran keberhasilan, seolah-olah yang pelan pasti salah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Saya ingin mengatakan pada mereka, bahwa hidup tidak perlu selalu dikejar seperti lomba. Kita tidak sedang berkompetisi menentukan siapa yang paling dulu sampai. Ada orang yang memang ditakdirkan berlari lebih cepat, dan ada yang diberi jalan lebih lambat agar ia sempat mengerti setiap pelajaran di sepanjang perjalanan. Ada impian yang diraih pada usia dua puluhan, ada pula yang baru menjadi kenyataan di usia empat puluh. Tidak perlu malu berjalan lebih lambat, selama langkah itu mengarah pada kebaikan.

Saya juga ingin keluarga kecilku memahami bahwa pencapaian itu tidak selalu berbentuk uang. Dunia mengajarkan kita bahwa kesuksesan adalah saldo besar dan rumah megah. Tapi, semakin saya menua, semakin kusadari bahwa yang mahal justru hal-hal yang tidak bisa dibeli. Makan bersama di meja kecil dengan tawa yang utuh. Pulang ke rumah dan merasa diterima, bukan dihakimi. Tidur dengan hati tenang tanpa rasa iri pada hidup orang lain. Rezeki bukan hanya yang terlihat di bank, tetapi juga yang dirasakan di dada.

Baca Juga: Peran Sentral Ibu dalam Membangun Kepemimpinan dan Psikologi Keluarga

Tahun baru ini bukan tentang membuat daftar resolusi yang muluk-muluk. Berolahraga tiap hari, membaca sekian buku, menabung sejumlah uang, atau berhenti melsayakan ini dan itu. Bukan karena tujuan itu tidak baik, tetapi karena sering kali resolusi kita berhenti di tengah tahun hanya karena kita terlalu sibuk mengejar hasil, tanpa menikmati proses. Bagiku, lebih baik memilih perubahan yang realistis namun konsisten: berbicara lebih lembut, bukan lebih banyak. Mendengarkan lebih dalam, bukan lebih keras. Membenahi rumah sebelum membenahi dunia. Memaafkan diri sendiri sebelum memaksa diri menjadi versi yang sempurna.

Saya ingin mengajarkan bahwa tidak apa-apa kalau belum sampai. Tidak apa-apa kalau masih berjuang. Tidak apa-apa kalau hidup kadang terasa berat. Yang tidak apa-apa adalah menyerah pada keadaan. Kita mungkin belum berada di tempat yang kita impikan, tetapi setiap hari yang kita jalani dengan niat baik adalah bagian dari perjalanan menuju ke sana. Pelan-pelan pun tidak masalah, selama kita terus melangkah.

Dalam sunyi pagi ini, sebelum keluarga bangun, saya berdoa dengan suara yang hampir tak terdengar. Saya meminta agar kami diberi hati yang kuat untuk menerima apa yang belum datang, dan diberi kebijaksanaan untuk merawat apa yang sudah berada di tangan. Saya memohon agar anak-anakku tumbuh bukan hanya menjadi orang sukses, tetapi menjadi orang baik. Bukan hanya pintar mencari uang, tetapi pandai menjaga akhlak. Bukan hanya hebat berdiri sendiri, tetapi juga mampu menjadi tempat bersandar bagi orang lain. Dan untuk diriku sendiri, saya meminta ketenangan: ketenangan untuk tidak iri, tidak tergesa, dan tidak ragu pada waktu yang Tuhan tentukan.

Baca Juga: Pentingnya Peran Keluarga dalam Pendidikan dan Karakter Anak

Tahun baru bukan ajang untuk menjadi orang lain. Ia adalah kesempatan untuk kembali menjadi diri sendiri, versi yang lebih sabar, lebih ikhlas, lebih paham arah. Dan meski perjalanan masih panjang, saya percaya kami akan sampai. Tidak dengan berlari membabi buta, tapi dengan berjalan mantap meski perlahan. Karena yang terpenting bukan seberapa cepat kami tiba, tetapi bagaimana kami menjadi manusia selama perjalanan menuju ke sana. Pelan tapi sampai. Sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, pada waktu yang tepat, kami menemukan tempat terbaik untuk pulang.



Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary