Pendekatan Tafsir Interdisipliner terhadap Fenomena “Mass Psychogenic Illness” di Lembaga Pendidikan Islam

80

Fenomena “kesurupan massal” di lingkungan sekolah menengah terutama di madrasah dan pondok kerap menjadi isu dilematis. Kejadian ini seringkali diinterpretasikan secara tunggal sebagai kerasukan murni oleh entitas gaib, yang kemudian melahirkan berbagai mitos yang justru menguatkan ketakutan irasional di kalangan pelajar. Respons yang muncul pun seringkali terbatas pada ritual pengusiran, tanpa menyentuh akar permasalahan psikologis dan sosial.

Padahal, dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, Islam mengajarkan prinsip tawazun (keseimbangan) dan tawasuth (moderasi). Di sinilah Pendidikan Tafsir Al-Quran (PTA) menjadi sangat krusial. PTA harus berfungsi sebagai perangkat literasi spiritual dan rasional untuk demistifikasi fenomena ini, agar siswa mampu membedakan antara akidah (keyakinan pada yang gaib) dan takhayul (ketakutan tanpa dasar).

Tafsir Al-Quran: Prinsip Pembatasan Kekuatan Gaib (Tauhid Rasional)

Al-Qur’an dan sunnah memang mengkonfirmasi eksistensi alam gaib, termasuk jin dan setan. Namun, ajaran utamanya berfokus pada pembatasan kekuatan makhluk ini di hadapan kekuasaan Allah Swt.

Dalam Tafsir, pembahasan mengenai jin (yang diciptakan dari api, Q.S. Al-Hijr [15]: 27) selalu harus diiringi dengan penekanan pada hakikat tauhid. Prinsip kunci yang perlu ditanamkan ialah:

{إِنَّ كَيْدَ ٱلشَّيْطَٰنِ كَانَ ضَعِيفًا}

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Artinya: “Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (Q.S. An-Nisa [4]: 76).

Berdasarkan penafsiran para ulama klasik seperti Imam Ath-Thabari (dalam Jami’ al-Bayan), kelemahan tipu daya setan ini adalah kelemahan mutlak di hadapan orang-orang yang beriman dan bersandar pada Allah. Mitos yang melebih-lebihkan kekuatan jin, seolah-olah mereka memiliki kedaulatan mutlak atas manusia, bertentangan dengan prinsip tauhid uluhiyah (ketuhanan).

Selain itu, Nabi Muhammad saw. mengajarkan untuk meninggalkan takhayul yang tidak memiliki dasar syar’i, sebagaimana sabdanya: “Tiada penyakit yang menular dan tiada pula burung hantu (yang dianggap pembawa sial), dan tiada pula Safar (bulan yang dianggap sial).” (HR. Bukhari). Hadits ini adalah perintah mendasar untuk memilih penjelasan yang rasional daripada yang berbau mitos.

PTA yang berbasis tauhid mengajarkan bahwa perlindungan terbaik adalah isti’adzah (memohon perlindungan) yang dilakukan dengan kesadaran dan keimanan penuh, bukan dengan ritual takhayul yang menguatkan ketakutan.

Komparasi antara Sains dan Tafsir

Untuk menghilangkan mitos, keilmuan tafsir harus berani diintegrasikan dengan ilmu pengetahuan modern, khususnya psikologi dan psikiatri. Dari perspektif sains, fenomena kesurupan massal paling sering dikategorikan sebagai Mass Psychogenic Illness (MPI) atau wabah histeria.

MPI adalah kondisi di mana gejala fisik atau perilaku aneh menyebar dengan cepat di antara sekelompok orang (siswa), dipicu oleh kecemasan kolektif yang ekstrem, stres akademik, atau kelelahan, lalu mengambil bentuk sesuai narasi budaya yang tersedia—dalam hal ini, “kerasukan.” (Bartholomew & Wessely, 2002). Artinya, stres dan kecemasan adalah pemicu utamanya.

Perspektif sains ini justru memperkuat salah satu tujuan utama syariat (maqasid syariah), yaitu hifdzun nafs (menjaga jiwa). Menjaga jiwa bukan hanya dari bahaya fisik, tetapi juga dari bahaya psikologis.

Jika siswa memahami bahwa stres dapat bermanifestasi menjadi gejala fisik yang mirip kesurupan, mereka akan: (1) mencari bantuan rasional (guru BK atau psikolog), dan (2) tidak menyalahkan lingkungan atau entitas gaib secara membabi buta. Pemahaman ini sejalan dengan konsep sakinah (ketenangan) dan tuma’ninah (kedamaian hati) yang diulang dalam Alquran (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 28), yang menunjukkan pentingnya kestabilan jiwa.

Strategi Implementasi Tafsir Interdisipliner

Untuk mewujudkan efektivitas PTA dalam melawan mitos, dibutuhkan strategi di sekolah dan madrasah:

Pertama, penguatan literasi emosi Islam. Guru tafsir harus menjadikan ayat-ayat tentang sabar, tawakkal, dan isti’anah (meminta pertolongan Allah) sebagai dasar edukasi kesehatan mental. Mengajarkan bahwa tawakkal harus didahului oleh ikhtiar lahiriah yang rasional—termasuk mencari bantuan profesional untuk masalah kejiwaan.

Kedua, kolaborasi antara guru tafsir dan guru BK. Guru BK harus dilatih untuk melihat gejala MPI bukan hanya dari kacamata medis, melainkan juga menempatkannya dalam kerangka tauhid (meminimalkan sugesti ketakutan).

Ketiga, menggeser narasi dengan mengalihkan fokus kolektif dari ketakutan kepada makhluk gaib menjadi keyakinan mutlak pada perlindungan Allah. PTA harus menumbuhkan kesadaran diri (muraqabah) yang kuat, yang berfungsi sebagai benteng psikologis dari segala bentuk sugesti negatif.

Penutup

Pendidikan Tafsir Alquran hari ini harus lebih dari sekadar terjemahan teks; ia harus menjadi regulator rasional keyakinan. Dengan memadukan batasan teologis tentang kekuatan gaib dan penjelasan ilmiah tentang respons psikologis, lembaga pendidikan Islam dapat menggantikan ketakutan irasional yang merusak (mitos) dengan pemahaman yang kokoh (Tauhid Rasional) dan tindakan yang terarah. Ini adalah langkah strategis untuk menciptakan generasi pelajar yang beriman, cerdas, dan sehat mental.

Referensi

Al-Qur’anul Karim dan Terjemahan.

Al-Asqalani, Imam Ibn Hajar. (2025). Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Al-Ma’rifah.

Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. (2025). Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an (Tafsir at- Tabari). Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-Arabi.

Bartholomew, Robert E., & Wessely, Simon. (2002). “Protean Nature of Mass Sociogenic Illness: From Possessions to the New Age.” The British Journal of Psychiatry, 180(4), 300-306.

Departemen Agama RI. (2009). Al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta: Departemen Agama RI.


Penulis: Ahmad Tegar Pratama, Mahasiswa UIN KH. Abdurrahman Wahid, Fakultas Ushuluddin Adab Dan Dakwah.

Editor: Sutan