Cahaya Doa di Ujung Senja

93
Ilustrasi senja dan doa seseorang (sumber: suarananggroe)

Hawa senja menyapu pelataran masjid dengan kesejukan yang lembut. Suara azan terdengar dari menara, menyeru batin yang lelah untuk kembali kepada-Nya. Di antara ribuan langkah yang bergegas, ada seorang lelaki muda yang tetap duduk di bangku kayu tua, memandang langit dengan tatapan hampa.

Namanya Ahmad. Dia adalah seorang karyawan swasta dari sebuah perusahaan di kota. Setiap malam selepas kerja, ia membaca Al-Qur’an hingga larut. Namun hatinya terasa gersang entah kenapa. Kehidupan di kota besar, membuatnya terlupa akan kedamaian yang dulu ia rasakan di kampung halaman.

Ia merasa doa-doa yang selama ini dipanjatkan, seolah tak pernah sampai, atau mungkin Tuhan terlalu sibuk dengan urusan lain.

“Kenapa kau diam di sini, Nak ?” tanya seorang kakek yang duduk di sebelahnya. Wajahnya keriput, matanya bersinar lembut.

Ahmad menoleh, menahan rasa canggung. “Saya… saya merasa doa saya tidak dikabulkan Tuhan kek,” jawabnya perlahan. Kakek tersenyum, menepuk bahu Ahmad.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Doa bukan selalu tentang mendapatkan apa yang kamu minta nak. Kadang, doa adalah cara Allah menyiapkanmu, atau bahkan menyingkap jalan yang tak pernah kamu duga sebelumnya.” Jawab kakek diiringi senyuman tipis.

Ahmad menunduk, mencoba mencerna kata-kata itu. Ia selalu berpikir bahwa jika doanya tidak dikabulkan, berarti ia telah gagal, atau Allah menjauhkannya. Namun, kakek itu menanamkan benih kesadaran baru: bahwa setiap doa adalah percakapan, bukan hanya sekedar  transaksi kepada Tuhan. Karena perasaan hampa yang menyiksa batinnya, Ahmad memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang jauh dari keramaian kota. Ia meminta cuti selama tiga hari kepada atasannya. Ia berniat mengunjungi desa pamannya.

Selama 3 jam perjalanan, akhirnya ia sampai di tempat itu. Ahmad mulai berjalan kecil sambil mengamati lingkungan sekitar dan menyusuri jalan.  Sayup-sayup terdengar suara air yang menabrak bebatuan. Iramanya seperti melodi alami yang menenangkan. Ia pergi ke sana dan melihat aliran sungai yang begitu jernih. Ia duduk di sebuah batu besar sambil merenungkan perasaannya. Ia mulai menceritakan seluruh beban yang mengimpit hatinya.

“Ya Allah… kadang aku merasa lelah. Lelah mencoba menjadi baik, tetapi selalu gagal. Lelah berharap, tetapi selalu kecewa. Hatiku entah kenapa terasa hampa. Tunjukkan aku jalan-Mu,” bisiknya.

Embusan angin membawa sejuk ke wajahnya. Tiba-tiba Ahmad merasakan kedamaian berdesir di hatinya. Seketika, kegelisahannya lenyap. Bukan jawaban yang datang dalam bentuk materi, tetapi pengertian yang menenangkan hatinya. Kata-kata kakek itu terngiang di pikirannya. Ia tersadar, bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengeluh sehingga lupa untuk bersyukur.

Ia mengingat-ingat bahwa selama ini, ia juga terlalu berambisi dengan kariernya dan tidak pernah memberi dirinya jeda untuk ber muhasabah demi ketenangan hatinya. Diantara pergulatan batin, ia akhirnya menemukan letak masalahnya. Ia merenung begitu dalam dan mencoba menganalisis keadaannya.

Saat tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba ia menerima panggilan telepon dari seorang teman lama. Temannya mengatakan bahwa ibunya sedang berada di rumah sakit dan sedang memerlukan biaya. Ia berniat untuk meminjam uang kepada Ahmad dan akan segera mengembalikannya setelah menerima gaji bulan ini. Tanpa berpikir panjang, Ahmad mengunjunginya dan membantunya. Ia bergegas ke sana  dan saat membantu, tiba-tiba ia menemukan kebahagiaan kecil yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Hatinya terasa lebih ringan, beban yang selama ini mengimpit hatinya tiba-tiba satu persatu perlahan memudar meski belum sepenuhnya.

Ia merasa doa-doanya terasa lebih dekat. Hari demi hari, Ahmad mulai menyadari pola yang sama: setiap kali ia merasa putus asa, Allah selalu menghadirkan kesempatan untuk menolong, untuk belajar sabar, atau untuk menguatkan imannya. Doa yang dulu terasa hampa kini menjadi cahaya kecil yang menuntunnya. Suatu sore, Ahmad pergi ke masjid untuk Shalat Ashar. Bangku kayu tua itu masih setia menunggu. Kakek yang dulu menasihatinya tersenyum ramah.

“Apa kau mulai menemukan jawabannya?” tanyanya.

Ahmad mengangguk pelan. “Ya kek,  aku merasa jawaban itu bukan selalu tentang apa yang aku mau. Kadang, jawaban itu tentang apa yang aku butuh kan, atau tentang bagaimana aku belajar menjadi lebih baik .” ujar Ahmad lembut.

Kakek menepuk bahunya sekali lagi. “Hati yang sabar, nak. Hati yang sabar selalu menemukan jalan. Doa yang tulus selalu sampai, meski kadang tidak seperti yang kau bayangkan.”

Malam itu, Ahmad duduk sendiri di tepi jendela kamar. Ia merenung, menyadari bahwa selama ini ia salah memahami doa. Doa bukanlah tiket instan untuk mendapatkan semua keinginan. Tetapi doa adalah percakapan yang mengalir antara hati setiap hamba dan pencipta-Nya.

Kadang jawaban bisa datang dalam bentuk kesabaran, dalam bentuk cobaan, atau dalam bentuk kesempatan untuk memberi pertolongan bagi yang membutuhkan. Hatinya kini tidak lagi terasa kosong, tapi penuh dengan keyakinan dengan niat tulus untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.



Penulis: Lusa Indrawati, seorang penulis yang berdomisili di Lamongan, Jawa Timur. Tergabung dalam komunitas Literasi Competer Indonesia, Kepul, Negeri Kertas dan Pucukmera.

Editor: Rara Zarary