Ironi Negara Muslim Terbanyak di Dunia Tapi Hidup dengan Kerakusan

64
ilustrasi

Tanah yang diberkati kini kembali menangis sejak 21 tahun silam, seakan ia meminta tolong kepada manusia agar tidak menyakitinya lagi. Ia telah kehilangan penopang dalam hidupnya, makanannya, minumnya, serta tempat tinggalnya telah di tebas habis oleh mereka. Ketika ia meluapkan ekspresinya, mereka malah seakan-akan belum sadar atas apa yang telah mereka lakukan kepadnya. Mereka menganggap tangisan itu seperti ancaman dan bencana baginya. Namun, siapa pelaku antagonis yang sebenarnya?

Sungguh sangat ironi, negara yang religius malah melakukan kerusakan alam hingga mengalahkan do’anya yang dipanjatkan secara terus menerus. Seakan langit sudah lelah dengan ayat yang mereka lantunkan tak seirama dengan langkah yang mereka lakukan. Di antara suara adzan masjid dan bunyi lonceng gereja, hutan yang dibakar dan suara mesin tebang justru lebih cepat terbang ke angkasa, membawa kabar bencana prihal manusia yang tak lagi pandai menjaga rumahnya.

Di desa-desa tangan yang selalu menadah dan kepala yang selalu bersujud kepada Tuhannya untuk meminta kehidupan yang sejahtera, sementara di belakang rumahnya, pohon-pohon dipaksa sujud untuk tunduk kepada mereka. Anak-anak yang asik belajar dan bermain di sungai, namun sekarang sungai berubah menjadi arus keruh dan deras. Mereka dengan gagah membangun masjid berjulang tinggi nan megah, sementara itu mereka lihai dan pandai merusak hutan dan alam. Barangkali itu menjadi paradoks yang menyedihkan.

Allah sangat melarang keras umat manusia membuat kerusakan di bumi. Hal itu dijelaskan pada Q.S. al-A’raf[7]: 56,. “Dan Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudan (Allah) memperbaikinya dan bermohonlah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat bagi oran-orang yang berbuat baik”. Di Q.S. al-Baqarah[2]: 204-206 juga dijelaskan prihal perbuatan kerusakan bumi (alam) yang dilakukan orang munafik. Pada ayat 204 Allah berfirman, “Di antara manusia ada yang pembicaraanya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Nabi Muhammad) dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas (kebenaran) isi hatinya. Padahal dia adalah penentang yang keras”. Pada ayat selanjutnya (205) Alla berfirman, “Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanaman-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan. Pada ayat 206 Allah berfirman, “Apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongan yang menyebabkan dia berbuat dosa (lebih banyak lagi). Maka, cukuplah (balsan) baginya (neraka) Jahanam. Sungguh (neraka Jahanam) itu seburuk-buruk tempat tinggal”.

Dikutip dari tafsir al-Wajiz karya Wahbah Zuhaili dijelaskan, sebab turunya ayat ini (204-206) adalah ketika itu ada salah satu orang munafik yang bernama al-Akhnas bin Syuraiq as-Saqafi, ketika ia bertemu dengan Nabi ia selalu memuji Nabi dengan kata-kata yang membuat Nabi kagum. Salah satu ciri kemunafikannya yaitu, kemampuan untuk berkata-kata yang memukau dan manis, bahkan sering bersumpah atas nama Allah untuk meyakinkan pihal keimanannya. Akan tetapi realitanya isi dalam hatinya adalah penentangan keras. Hal itu menjadi suatu kontradiksi yang akan terungkap dengan jelas di hari akhir.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Perihal perbuatan penentangannya ialah ketika ia tidak bersama Nabi, dia akan melakukan kerusakan di bumi, seperti merusak tanaman-tanaman dan membunuh binatang ternak milik orang-orang mukmin, Sungguh Allah membenci orang-orang yang melakukan kerusakan di muka bumi. Apabila dikatakan kepadanya (ahlul munafiqun) perihal agar ia bertakwa kepada Allah, dengan melakukan hal yang baik-baik dan jangan mlakukan hal yang membuat turunnya azab Allah, maka ia akan mengabaikan seruan itu dan malah bertambah sombong dan semangat untuk membuat perkara-perkara keji, bahkan ia tidak takut kepada ancaman Allah. Maka pantaslah baginya neraka Jahannam (tempat tinggal yang paling terburuk). Wallahu a’lam.

Dalam konteks Indonesia, dulu ‘mereka’ menyuarakan “Mari kita sama-sama menjaga hutan kita, alam kita, bumi kita, dan jangan melakukan penebangan liar dan pengrusakan alam”, namun faktanya merekalah lakon dari kerusakan alam Nusantara. Dulu ada orang yang menebang pohon untuk kayu bakar dilarang, sekarang mereka melakukan penebangan itu sendiri demi misi ambisi kelapa sawitnya. Dulu masyarakat dilarang membuat pengeboran bumi hanya untuk mencari air bersih, namun sekarang mereka melakukan pengerukan bumi dengan ambisi penambangannya. Lalu siapa yang harus kita salahkan? Dan siapa saja yang harus merawat bumi ini?.

Jika kita ingin menjaga kelestarian ekosistem dan kesejahteraan bumi ini, mulai dari masing-masing diri sendiri, jangan menyalahkan keras semata-mata pemerintah ambisi dalam penambangan, perkebunan sawit, dan lainya, kalau kita juga masih melakukan hal seperti itu walaupun dalam sekala kecil. Mari kita jaga ekosistem dan selalu kita lestarikan bersama, tanamlah tanaman dan pohon di lingkungan sekitar kita, mungkin suatu saat itu akan menjadi penolong dari dirimu sendiri. Sesuai sabda Nabi Muhammad SAW, “Jika Kiamat tiba sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit kurma kecil, maka jika ia mampu untuk menanamnya sebelum Kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (H.R. Ahmad, dari Anas ra). 

Semoga setelah bencana yang terdi di Aceh, menjadi alarm bagi kita untuk selalu menjaga dan melestarikan bumi (pohon, hutan, laut, dan lain-lain). Dan semoga melalui artikel ini bisa menggerakan kita dalam selalu menjaga lingkungan di sekitar kita.

Baca Juga: Banjir Sumatera, Fenomena Kayu Bernomor dan Amanah Lingkungan dalam Islam


Penulis: Edy Irawan

Editor: Sutan