Mengenang Gus Dur: Dari Seorang Cak Percil, Abah Kirun, dan Tembang Rakyat

115
Suasana pentas saat MINHA Fest 2025 dalam rangka memperingati Haul ke-16 Gus Dur (foto: panitia)

Kisah ini disampaikan langsung oleh Cak Percil, seorang komedian dagelan asal Blitar, menjelang penampilannya di MINHA FEST 2025, rangkaian Haul ke-16 Gus Dur sekaligus Program Publik Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari. Dengan gaya tutur khasnya yang lugas dan jujur, Cak Percil membagikan sepotong kenangan yang tak hanya lucu, tetapi juga menyentuh, tentang perjumpaan dirinya, Abah Kirun, dan Gus Dur.

Peristiwa itu terjadi pada 13 Agustus 2009, saat acara pernikahan Mbak Yenny Wahid. Malam itu, Cak Percil yang merupakan murid Abah Kirun, mendapat tugas istimewa: menjadi juru laden Gus Dur. Ia mengikuti ke mana pun Gus Dur melangkah, memastikan kebutuhan beliau terpenuhi, menemani dengan setia di tengah padatnya acara dan ramainya tamu undangan.

Baca Juga: Rayakan Gelar Pahlawan Nasional dan Haul Gus Dur, Puncak MINHA FEST Jombang Berlangsung Meriah

Namun, di balik kemeriahan tersebut, kondisi kesehatan Gus Dur sebenarnya sedang tidak baik. Saat itu, beliau seharusnya segera menjalani cuci darah di hotel. Orang-orang terdekat telah membujuk: Mbak Yenny, anak-anak Gus Dur, hingga staf medis. Akan tetapi, Gus Dur menolak. Alasannya sederhana, bahkan nyaris terdengar sepele: beliau tidak ingin mengecewakan para tamu yang datang dari jauh untuk bersilaturahmi.

Di sinilah peran Abah Kirun menjadi penentu. Dengan gaya khasnya, halus, jenaka, tanpa tekanan, Abah Kirun merayu Gus Dur. Tidak dengan paksaan, tidak dengan nada serius yang kaku, melainkan dengan pendekatan manusiawi yang hangat. Sampai akhirnya Gus Dur luluh dan berkata singkat, “Ya wis, ayo.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Maka berangkatlah mereka bertiga menuju kamar hotel yang disulap menjadi ruang tindakan darurat. Gus Dur duduk di kursi roda, Abah Kirun berjalan di sampingnya, dan Cak Percil mendorong dari belakang sambil membawa perlengkapan beliau. Tidak banyak kata. Suasananya hening, tetapi penuh kekompakan dan ketulusan.

Proses cuci darah berlangsung sekitar dua setengah jam. Di tengah waktu yang panjang dan melelahkan itu, Gus Dur tiba-tiba meminta sesuatu yang tak terduga,

“Coba nyanyikan Gundul-Gundul Pacul, terus Sluku-Sluku Bathok, yo.” Tanpa banyak tanya, Abah Kirun dan Cak Percil langsung menurut. Bagi mereka, itu bukan sekadar permintaan, melainkan sabda dari seorang tokoh besar yang mereka hormati. Mereka pun bernyanyi bergantian, menghibur Gus Dur. Ruangan yang semula terasa tegang perlahan berubah hangat. Tawa kecil terdengar, gurauan ringan mengalir, dan beban situasi berat itu terasa lebih manusiawi.

Baca Juga: MINHA Raih Nominasi Penghargaan Nasional sebagai Museum Komunikatif 2025

Begitulah sebuah momen sederhana namun berkesan tercipta, kisah kecil di balik acara besar. Kedekatan, kelucuan, dan ketulusan menyatu dalam relasi Gus Dur, Abah Kirun, dan Cak Percil. Justru peristiwa semacam inilah yang paling lama tinggal dalam ingatan.

Di Balik Tembang Sluku-Sluku Bathok dan Gundul-Gundul Pacul

Permintaan Gus Dur atas dua tembang Jawa itu tentu bukan tanpa makna. Sluku-Sluku Bathok dan Gundul-Gundul Pacul adalah warisan budaya rakyat yang sarat nilai pendidikan, spiritualitas, bahkan filosofi kepemimpinan. Melalui tembang sederhana atau dalam istilah Jawa, onen-onen, ajaran moral disampaikan dengan cara yang membumi dan mudah diterima.

Gus Dur kerap disebut sebagai “pendekar rakyat.” Julukan itu terasa relevan jika melihat keseharian beliau: selalu dekat dengan rakyat, akrab dengan bahasa budaya, dan hingga wafat pun terus dirindukan oleh banyak kalangan. Dalam tembang-tembang itulah, nilai kerendahan hati, tanggung jawab, dan kebijaksanaan pemimpin diselipkan secara halus.

Baca Juga: Wamenag Romo Syafi’i Tegaskan Gus Dur Teladan Al-Qur’an dalam Kemanusiaan

Melalui lagu rakyat, budaya Jawa menanamkan karakter, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial lintas generasi. Ia bukan sekadar hiburan, bukan pula nostalgia semata. Hingga hari ini, pesan moral dalam tembang-tembang tersebut tetap relevan, sebagai bagian dari pendidikan budaya dan pembentukan karakter bangsa.

Mengenang Gus Dur, pada akhirnya, bukan hanya mengenang sosok besar di panggung sejarah, tetapi juga meneladani caranya memaknai hidup: sederhana, manusiawi, dan selalu dekat dengan rakyat, bahkan di saat-saat paling rapuh sekalipun.



Penulis: Ari Setiawan, Humas Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari