Mahasantri Ma’had Aly Tebuireng Raih Juara Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an di UIN Surabaya

62
Dua mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng saat menerima penghargaan (dok. istimewa)

Tebuireng.online— Dua mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng berhasil meraih juara II dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa (HIMMA) Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) UIN Sunan Ampel Surabaya. Lomba tersebut digelar pada Rabu (9/12/2025), bertempat di UINSA Surabaya, dan diikuti oleh peserta dari berbagai universitas se-Jawa.

Tim peraih juara ini terdiri dari Moh. Wildan Husin, mahasiswa semester 4 asal Bangil, Pasuruan, dan Vigar Ramadhan D.M.D., mahasiswa semester 6 asal Tangerang Selatan. Keduanya merupakan mahasiswa Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng yang mengangkat tema aktual mengenai keterkaitan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dengan isu kerusakan lingkungan dalam perspektif Al-Qur’an.

Baca Juga: Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Borong Juara Lomba Resensi Kitab Nasional

Moh. Wildan Husin menjelaskan bahwa pemilihan tema tersebut berangkat dari kegelisahan mereka terhadap dampak tersembunyi dari kemajuan teknologi. “Kami memilih tema ini karena melihat penggunaan AI yang sangat masif, tetapi di balik itu ternyata memiliki dampak yang besar terhadap kerusakan lingkungan,” ujarnya. Menurutnya, perkembangan teknologi sering kali hanya dilihat dari sisi manfaat dan efisiensi, sementara konsekuensi ekologisnya kurang mendapat perhatian.

Hal senada disampaikan Vigar Ramadhan D.M.D. Ia menilai isu ekologi saat ini sedang berada pada titik yang sangat penting, namun terdapat celah pembahasan yang jarang disentuh. “Isu ekologi memang sedang hangat-hangatnya, lalu kami mencoba mencari blind spot. Dari situ muncullah variabel AI sebagai ancaman ekologis yang ternyata sangat intensif menghasilkan emisi karbon di tengah gemah ripah tentang bumi hijau,” tuturnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam karya tulis tersebut, mereka menjadikan Surah Al-A’raf ayat 56 serta Surah Ar-Rahman ayat 6–9 sebagai dasar utama kajian. Wildan menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut dipilih karena memiliki pesan kuat tentang keseimbangan dan larangan merusak alam. “Ayat-ayat ini kami anggap sangat merepresentasikan nilai-nilai ekoteologi dalam Islam dan relevan untuk membaca persoalan lingkungan hari ini,” katanya.

Proses penyusunan karya dilakukan dengan menganalisis berbagai studi kasus terkait komputasi AI beserta dampak ekologisnya, kemudian dikorelasikan dengan nilai-nilai Al-Qur’an. “Kami menganalisis terlebih dahulu studi kasus komputasi AI beserta dampaknya, lalu mengaitkannya dengan nilai-nilai ekoteologi dalam Al-Qur’an. Kurang lebih prosesnya sekitar satu minggu,” jelas Wildan.

Baca Juga: Kiai Roziqi Sebut Keilmuan dan Keuangan Harus Terhubung, Mahasantri Perlu Melek Literasi Finansial 

Vigar menambahkan bahwa proses tersebut tidak sederhana. “Itu hal yang rumit, tapi dengan metode dan pisau analisis yang tepat, kami bisa mengiris tiap data lalu mengaitkannya dengan ayat-ayat yang kami pilih,” ungkapnya.

Tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah menyatukan data ilmiah dengan nilai-nilai keislaman agar menjadi narasi yang utuh. Wildan mengakui, “Yang paling sulit adalah menyatukan nilai-nilai tersebut dengan kasus, supaya bisa menjadi puzzle yang sempurna.” Sementara Vigar menambahkan bahwa bagian paling menantang baginya adalah penarikan kesimpulan.

“Bagi saya pribadi, ketika membuat conclusion agar tepat sasaran dan menyusun tiap data menjadi satu narasi yang kuat itu tidak mudah,” ujarnya.

Dari hasil kajian yang dilakukan, pesan utama yang ingin mereka sampaikan adalah pentingnya kesadaran ekologis dalam pemanfaatan teknologi. “Penting kiranya bagi setiap orang yang ingin memanfaatkan sumber daya alam untuk mempertimbangkan dampak ekologis yang akan ditimbulkan, serta menjaga keberlanjutan agar bisa dimanfaatkan oleh generasi berikutnya,” kata Wildan. Vigar bahkan mengaitkan temuannya dengan pemikiran tokoh global. “Saya ingin mengutip Harari, bahwa di setiap lompatan teknologi selalu ada konsekuensi yang tidak selalu kita sadari,” ucapnya.

Menariknya, karya tulis ini disusun tanpa pendampingan langsung dari guru pembimbing atau ustadz. “Tidak ada pembimbing, ini murni penelitian tim dari kami berdua,” ujar Wildan. Meski demikian, Vigar menilai bahwa kemampuan tersebut tidak lepas dari proses pendidikan sebelumnya. “Kami bisa berlari sekarang karena sebelumnya sudah diajari berjalan di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng,” tuturnya.

Baca Juga: Amanat Pengasuh Tebuireng: Lulusan Ma’had Aly Harus Jadi Solusi Umat, Teruskan Estafet Hadratussyaikh

Saat dinyatakan sebagai juara II, keduanya mengaku sangat bersyukur dan bahagia. “Alhamdulillah kami sangat senang, meskipun hanya juara dua, tetapi kami sangat bersyukur, apalagi kami jurusan hadis, bukan tafsir,” ungkap Wildan. Vigar menambahkan bahwa kemenangan ini terasa spesial karena pengalaman sebelumnya. “Kami berdua pernah menulis bersama dan kalah. Jadi saat diumumkan menang kemarin, rasanya senang sekali,” katanya.

Ke depan, Wildan berharap prestasi ini dapat mendorong mereka untuk kembali aktif dalam dunia kepenulisan. “Semoga ke depan kami bisa lebih produktif lagi dalam dunia tulis-menulis,” ujarnya. Sementara itu, Vigar memandang capaian ini sebagai pemantik semangat baru. “Buat saya ini seperti lompatan baru, semacam serbuk micin yang bikin ketagihan menulis lagi. Soal dakwah, tidak semua harus lewat tulisan, banyak jalan lain yang bisa ditempuh,” pungkasnya.



Editor: Rara Zarary
Pewarta: Albi