SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Raih Predikat Adiwiyata Mandiri dengan Nilai Sempurna

126
Penghargaan yang diterima oleh pihak SMP A Wahid Hasyim Tebuireng (foto: albi)

Tebuireng.online— SMP A. Wahid Hasyim (AWH) Tebuireng kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang lingkungan hidup. Sekolah ini resmi meraih predikat Adiwiyata Mandiri, tingkatan tertinggi dalam program Adiwiyata, dengan nilai sempurna 100. Penghargaan tersebut diumumkan pada 14 Desember 2025 oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Kepala SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng, Dwi Rahmat Siswoyo, menjelaskan bahwa Adiwiyata Mandiri merupakan level tertinggi setelah Kabupaten, Provinsi, dan Nasional. Pada tahap ini, sekolah tidak hanya dituntut berhasil membangun budaya lingkungan secara internal, tetapi juga wajib memiliki sekolah binaan sebagai bentuk penyebaran dampak positif. SMP AWH tercatat membina SDI Tebuireng Soedigno Kesamben serta Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah.

Baca Juga: Swarna Nusantara 2025, SMP A Wahid Hasyim Gelar Pentas Seni dengan Videotron Perdana

Budaya lingkungan di SMP AWH diterapkan secara ketat dan konsisten. Setiap hari, sampah yang dihasilkan sekolah dibatasi maksimal 0,3 kilogram. Untuk mencapai target tersebut, sekolah melarang seluruh siswa dan guru membawa barang berbahan plastik sekali pakai, seperti botol plastik, wadah plastik, dan kertas minyak. Aturan ini diawasi sejak pintu masuk sekolah melalui pos satpam. Setiap barang berbahan plastik yang dibawa akan ditahan dan tidak diperbolehkan masuk area sekolah.

Kebijakan ramah lingkungan juga diterapkan di kantin sekolah. Seluruh pedagang diimbau tidak menggunakan kemasan plastik. Sebagai gantinya, makanan dibungkus menggunakan daun, seperti gorengan dan nasi goreng yang dibungkus daun. Selain itu, seluruh siswa dan guru diwajibkan membawa tumbler sebagai wadah minum pribadi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
Gedung SMP A WAhid Hasyim tampak depan (foto: albi)

Dalam proses penilaian Adiwiyata Mandiri, SMP AWH dinilai langsung oleh tim dari Kementerian Lingkungan Hidup. Proses verifikasi berlangsung selama kurang lebih tiga bulan dan dilakukan secara ketat. Penilaian tidak hanya berdasarkan pengumpulan dokumen, tetapi juga pemantauan aktivitas sekolah melalui media sosial. Setiap unggahan kegiatan lingkungan yang dipublikasikan menjadi bukti nyata tanpa rekayasa.

Baca Juga: Serunya Kegiatan Kemah di SMP A. Wahid Hasyim

“Adiwiyata Mandiri itu harus sempurna, nilainya 100. Kami pernah mengajukan sampai tiga kali, dua kali mendapatkan nilai 98 dan ditolak. Evaluasinya paling banyak di dokumentasi administrasi seperti daftar hadir, notulen rapat, dan pencatatan bank sampah. Kegiatan sudah jalan, tapi kurang tertib didokumentasikan,” ujar Dwi Rahmat Siswoyo.

Selain budaya sehari-hari, nilai lingkungan juga diintegrasikan dalam seluruh mata pelajaran melalui silabus. Misalnya dalam Pendidikan Agama Islam, materi thaharah dikaitkan dengan kejernihan air, kualitas air, dan pentingnya menjaga sanitasi. Dukungan dari Yayasan juga berperan penting, khususnya dalam pembangunan sanitasi. Jika sebelumnya kawasan SMP AWH sering dilanda banjir saat hujan, kini aliran air sudah lancar dan tidak lagi mengalami genangan.

Pengumuman kelulusan Adiwiyata Mandiri dilakukan melalui dua mekanisme, yakni dengan dan tanpa verifikasi lapangan. SMP AWH termasuk sekolah yang dinyatakan lolos tanpa verifikasi lapangan, sehingga langsung mendapat undangan ke Jakarta sebagai perwakilan sekolah penerima Adiwiyata Mandiri. Dari setiap sekolah, hanya satu orang yang diundang secara resmi.

Dwi Rahmat Siswoyo mengaku terharu dan bangga atas capaian tersebut. Setelah dua kali gagal, keberhasilan ini menjadi buah dari kerja keras dan keikhlasan seluruh warga sekolah. “Di Adiwiyata ini semua bergerak tanpa banyak bicara. Guru, siswa, dari yang muda sampai yang sepuh, semuanya ikhlas dan berkolaborasi,” ujarnya.

Kepala Sekolah dan jajaran guru SMP A Wahid Hasyim Tebuireng foto bersama piagam penghargaan

Sejak awal mendaftar Adiwiyata tingkat Kabupaten sekitar tahun 2013, SMP AWH telah membentuk berbagai kelompok kerja (pokja), seperti Pokja Kerohanian, Pokja Green House, Pokja Taman, Pokja Sanitasi, dan Pokja Peduli Lingkungan. Pokja Peduli Lingkungan bertugas memberikan sanksi kepada warga sekolah yang melanggar aturan. Awalnya hanya berupa teguran dan pengembalian barang, namun kini barang berbahan plastik yang melanggar aturan akan disita.

Baca Juga: Seminar Peduli Lingkungan, Santri SMP AWH Diskusi Soal Kebersihan Pesantren

Saat ini, di wilayah tersebut hanya dua sekolah yang berstatus Adiwiyata Mandiri, yakni SMP Negeri 1 Mojowarno dan SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng. Ke depan, sekolah diharapkan tetap konsisten karena status Adiwiyata Mandiri harus diperpanjang setiap empat tahun. Jika tidak diperpanjang, status tersebut dapat dicabut dan diturunkan menjadi Adiwiyata Nasional.

Dwi Rahmat Siswoyo menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan Adiwiyata Mandiri terletak pada komitmen pimpinan sekolah. “Top management harus kuat. Kepala sekolah harus merangkul guru, siswa, wali santri, dunia industri, dan mitra lain melalui kerja sama atau MoU, seperti dengan bank sampah atau perusahaan yang mendukung lingkungan, kecuali perusahaan rokok,” tegasnya.

Ia berharap SMP AWH dapat terus konsisten dalam menjaga lingkungan dan melengkapi seluruh data pendukung, sehingga budaya peduli lingkungan tidak hanya menjadi program, tetapi benar-benar menjadi karakter seluruh warga sekolah.



Editor: Rara Zarary
Pewarta: Albii