Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Borong Juara Lomba Resensi Kitab Nasional

197
Ucapan selamat dan sukses (ilustrator: ifa)

Tebuireng.online– Prestasi kembali ditorehkan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng. Dua mahasantrinya, Muhammad Habib Yusra Juara 1 dan Ali Yusuf Muzaki Juara 3 dalam ajang Lomba Resensi Kitab Nasional yang digelar dalam rangka Dies Maulidiyah ke-18 Ma’had Aly Al-Tarmasi Tremas, Pacitan.

Kompetisi tersebut diselenggarakan secara daring oleh Ma’had Aly Al-Tarmasi dan berlangsung pada 21 November hingga 7 Desember 2025. Lomba ini diikuti oleh peserta dari berbagai pesantren dan lembaga pendidikan keislaman dari sejumlah daerah di Indonesia.

Dalam proses pengerjaan resensi, para peserta menyebut tidak mendapatkan bimbingan teknis secara langsung. Namun, mereka menguatkan fondasi keilmuannya melalui pembelajaran kepada para masyayikh, ustadz, dan dosen, terutama dalam bidang fikih, ushul fikih, serta kajian kitab kuning. Tradisi pesantren seperti sorogan dan musyawarah disebut menjadi bekal penting dalam mengasah kemampuan memahami teks-teks klasik.

Baca Juga: Wakil Ketua IPNU Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Raih Juara I Duta Pelajar NU Jombang 2025

Kitab yang menjadi objek resensi adalah Fath al-Majid fii Bayan al-Taqlid karya Syekh Ahmad Dahlan Al-Tarmasi, salah satu ulama besar asal Tremas, Pacitan. Kitab ini memang ditetapkan sebagai bahan lomba oleh panitia karena merupakan karya penting ulama Nusantara dalam bidang ushul fikih, khususnya pada pembahasan taqlid dan ijtihad.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Muhammad Habib Yusra menjelaskan, bahwa dirinya menggunakan pendekatan fikih al-aqalliyat dalam membaca dan menganalisis isi kitab tersebut. Menurutnya, pendekatan itu membantunya melihat bagaimana gagasan klasik dalam persoalan taqlid dan ijtihad dapat didialogkan dengan realitas masyarakat Muslim minoritas di era modern.

“Karya Syekh Ahmad Dahlan Al-Tarmasi memiliki corak pemikiran yang moderat, tidak terlalu kaku namun juga tidak terlalu longgar dalam menyikapi perbedaan pendapat ulama,” ungkapnya.

Sedangkan di sisi lain, Ali Yusuf Muzaki menyampaikan bahwa ketertarikannya mengikuti lomba berangkat dari keinginan untuk mengasah kemampuan membaca dan menganalisis teks klasik.

“Saya merasa terbantu oleh tradisi belajar kitab kuning yang sudah dijalani sejak lama di pesantren. Kitab kuning bukan sekadar bahan bacaan, melainkan bagian dari proses hidup santri karena di sanalah sumber keilmuan, sanad keilmuan, serta ketenangan berpikir terbentuk,” paparnya.

Baca Juga: Santri Tebuireng Raih Duta Intelegensia Pelajar NU Jombang 2025, Angkat Isu Literasi dan Media Sosial

Keduanya menyebut motivasi utama mengikuti lomba ini adalah untuk menguji kemampuan diri, memperluas pengalaman, dan melatih ketajaman berpikir. Proses penulisan resensi mereka selesaikan dalam waktu satu hari. Mereka mengaku tidak menemui kendala berarti karena tema yang diangkat selaras dengan bacaan dan diskusi yang sudah sering mereka lakukan sebelumnya.

Ali Yusuf Muzaki saat ini tercatat sebagai mahasantri Semester I Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, dengan alamat pendidikan di PP Darussalam Sumbersari Kediri. Sementara itu, Muhammad Habib Yusra berasal dari Riau dan sedang menempuh Semester I menuju Semester II pada marhalah yang sama.

Mereka berharap prestasi ini dapat menjadi pemicu untuk terus mendalami khazanah kitab kuning, meningkatkan kemampuan menulis ilmiah, dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Menurut keduanya, hasil resensi kitab bukan hanya bermanfaat bagi kalangan pesantren, tetapi juga mampu menjembatani tradisi keilmuan klasik dengan dunia akademik modern, serta menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan ulama Nusantara.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary