
Novel “Sendiri”, karya Tere Liye yang terbit tahun 2024 ini menghadirkan sebuah kisah yang lembut dan bermakna, serta emosionalnya tentang kesepian dan kehilangan. Melalui tokoh utama bernama Bambang, seorang pria lanjut uisa yang masih dihantui sebab baru saja kehilangan sang istri yang sangat dicintai, Susi. Pembaca dibawa masuk ke ruang batin seorang manusia yang masih belajar untuk bisa berdamai dengan masa lalu yang pahit itu. Bambang pun digambarkan menjalani hari-harinya dengan sunyi yang menumpuk, bukan karena tidak ada orang di sekelilingnya, tetapi karena ruang hatinya tak lagi penuh seperti sebelumnya. Ia pun kemudian terobsesi mencari jalan kembali ke masa lalu, bahkan sampai terpikir ide tentang mesin waktu seolah itu satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menautkan ulang hidupnya yang patah karena kehilangan istrinya.
Kisah yang disajikan oleh Tere Liye tidak hanya bicara tentang teknologi tentang fantasi, melainkan tentang bagaimana seseorang memaknai kehilangan, menimbang keputusan lama, dan mencoba memahami alasan mengapa hidup ini tidak bisa kembali seperti semula. Novel ini berjalan dengan ritme yang begitu tenang, penuh renungan dalam, dan sesekali terasa seperti sebuah ajakan untuk berhenti sejenak dan merenungkan luka yang selama ini sengaja disembunyikan. Penggunaan tokoh-tokoh dan binatang seperti kucing, burung, kura-kura dan yang lainnya memberi warna simbolis yang memperkaya makna cerita tersebut. Mereka hadir bukan sekedar sebagai hiasan naratif saja, tetapi sebagai cermin bagi keadaan batin bambang yang terkoyak, sekaligus sebagai pengingat diri bahwa kehidupan selalu punya cara unik dan misterius untuk menunjukkan jalan pulang.
Meski demikian, sendiri tidak luput dari catatan kecil. Alurnya cendrung lambat sehingga bagi sebagian pembaca mungkin terasa monoton. Beberapa bagian reflektif juga berulang. Membuat pembaca yang lebih suka dinamika cepat merasa cerita berjalan di tempat. Unsur fantasi tentang perjalanan waktu bisa terasa terlalu jauh dari realitas bagi mereka yang ingin kisah sepenuhnya membumi. Namun di balik kelemahan-kelemahan itu, novel ini tetap menonjol lewat kekuatan emosionalnya. Tere Liye berhasil mengubah kesepian menjadi ruang tumbuh, menjadikan kehilangan sebagai pintuk untuk memahami diri sendiri, dan menunjukkan bahwa sepi tidak selalu indentik dengan kehancuran, kadang justru menjadi tempat seseorang menemukan makna baru dalam hidupnya.
Novel ini sangat cocok dibaca oleh mereka yang sedang berda dalam fase pencarian diri, sedang berduka, atau tengah belajar melepaskan sesuatu yang pernah begitu dicintai. “Sendiri” memberi ruang bagi pembacanya untuk ikut merasakan proses menerima kenyataan, tanpa memaksanakan penyembuhan yang instan. Di akhir cerita, pembaca diajak memahami bahwa kesendirian bukan hukuman, melainkan salah satu bentuk perjalanan panjang manusia untuk kembali menemukan dirinya. Novel ini mungkin bukan hanya bacaan ringan, tetapi ia menawarkan pengalaman yang dalam dan menyentuh semacam pelukan halus bagi orang-orang yang sedang mencoba berdamai dengan sunyi dalam hidupnya.
Identitas Buku
Judul : Sendiri
Penulis : Tere Liye
Penerbit: Sabak Grip Nusantara
Tahun terbit: 28 September 2024
Jumlah halaman : 318 hlm
Isbn : 9786238882281
Peresensi: Wan Nurlaila Putri


















