Kenapa Masih Galau Setelah Healing? Cek di Mana Hatimu Bersandar

56
Orang-orang yang berlibur (ilustrasi: ai/ra)

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, istilah healing menjelma menjadi semacam mantra untuk meredakan berbagai tekanan. Banyak orang menempuh libur panjang, mengunjungi pantai, atau melakukan detoks media sosial dengan harapan menemukan ketenangan yang sesungguhnya. Namun, setelah semua usaha luar dilakukan, tak jarang kegelisahan itu datang kembali. Mengapa rasa cemas itu tetap membekas? Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam Al-Hikam menawarkan jawaban yang tajam, yaitu akar masalahnya bukan pada cara kita healing, melainkan pada tempat hati menggantungkan kepastian.

Menurut Ibnu Atha’illah, kegelisahan muncul ketika hati keliru memahami perbedaan antara sabab dan Musabbib, yakni Allah yang menciptakan seluruh sebab. Saat melakukan healing, kita sering menumpukan harapan pada sabab seperti liburan, terapi, atau bahkan pada seseorang. Beliau mengingatkan, “salah satu tanda bahwa seseorang bergantung pada amalnya adalah berkurangnya harapan ketika ia gagal.” Artinya, jika ketenangan kita bersumber dari uang, jabatan, atau hubungan, maka kedamaian itu akan lenyap begitu penopangnya hilang. Rasa galau yang muncul kembali setelah healing sejatinya adalah pesan lembut dari Allah bahwa hati kita masih bersandar pada sesuatu yang rapuh, bukan pada Musabbib yang Maha bekal.

Baca Juga: Patah Hati Ternyata Plot Twist Terbaik dari Allah

Menghadapi rasa galau yang muncul kembali setelah healing berarti kita perlu menengok ke dalam diri dan melihat kepada siapa hati kita sebenarnya bergantung. Jika kegelisahan masih mengendap meski berbagai cara sudah ditempuh itu menjadi isyarat bahwa hati belum sungguh-sungguh berserah kepada Allah. Bukan berarti usaha-usaha itu keliru, tetapi ketenangan yang lahir darinya hanya bersifat sementara bila tidak disandarkan pada sesuatu yang lebih kokoh.

Healing yang sejati bukan sekadar menenangkan pikiran atau melarikan diri dari penat, melainkan mengalihkan titik sandar hati dari hal-hal duniawi yang mudah goyah menuju keyakinan kepada Allah. Ketika kita menempatkan tawakal sebagai fondasi, hati perlahan memahami bahwa segala hal berjalan sesuai hikmah dan pengaturan-Nya. Dari sinilah muncul ketenangan yang lebih stabil, karena hati telah menemukan pegangan yang tidak pernah rapuh.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam konteks modern, ajaran Ibnu Athaillah ini sangat relevan untuk mengatasi kecemasan dan ketergantungan terhadap hal-hal yang bersifat fana, terutama dalam menghadapi tekanan hidup dan situasi yang tidak menentu. Dengan memperdalam ikatan spiritual dan menempatkan Allah sebagai pusat ketenangan hati, seseorang dapat mengurangi kecemasan yang berulang dan menggantinya dengan rasa damai yang kokoh dan abadi.

Baca Juga: Cara Rumi Menghadapi Overthingking dan Doomscrolling

Ibnu Atha’illah mengingatkan bahwa ketika Allah memberi (Atha’) atau menahan (Man’u) sesuatu dari kita bukan tanda apes atau nasib buruk. Semua itu terjadi karena ada hikmah yang sedang Allah susun yang sering kali baru kita pahami jauh setelah peristiwa itu berlalu. Namun dalam praktiknya, hati manusia cenderung hanya merasa bersyukur saat diberi kenikmatan, lalu gelisah atau kecewa ketika sesuatu ditahan atau diambil kembali. Dari sini muncul kegalauan yang tak kunjung tuntas, meski kita sudah berusaha healing dengan berbagai cara.

Oleh karena itu, jika kita masih merasakan galau meski sudah mencoba berbagai bentuk healing, itu sebenarnya ajakan lembut untuk mengoreksi kembali di mana hati kita selama ini bertumpu. Al-Hikam mengajarkan bahwa pemulihan emosional tidak akan pernah benar-benar tuntas jika tidak dibarengi pemulihan spiritual. Sebab ketenangan sejati bukanlah sesuatu yang bisa dibeli lewat tiket pesawat, diselesaikan dalam beberapa sesi terapi, atau diisi oleh kehadiran seseorang yang baru. Ketenangan muncul ketika hati berani melepaskan ketergantungannya pada hal-hal yang sementara, lalu kembali bersandar sepenuhnya kepada Allah, yang sifat-Nya kekal dan tak pernah mengecewakan.

Baca Juga: Menjaga Hati di Tengah Budaya Oversharing

Rasa galau yang masih tersisa setelah proses healing bukanlah tanda gagal, tetapi justru isyarat ilahi bahwa hati kita sedang diarahkan ke tempat bersandar yang lebih benar. Itu adalah plot twist penuh kasih dari Allah agar kita mencapai tingkat tawakkal yang lebih dalam.



Penulis: Silmi Adawiya, Mahasiswa S3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Editor: Rara Zarary